Historic Moment: Balita di Bantul Meninggal Usai Disuntik Penenang dan CT Scan di RSUD Prambanan
Historic Moment – Dalam historic moment yang mengejutkan, seorang balita berusia tiga tahun 11 bulan, NDMP, meninggal dunia setelah menerima tiga suntikan penenang dan menjalani pemeriksaan CT Scan di RSUD Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Peristiwa ini menimpa anak korban, Anastacia Niken Purwandari, yang sebelumnya dalam kondisi sehat dan aktif. Kasus ini memicu keluarga mengambil langkah hukum dengan mempolisikan sejumlah staf medis, sebagaimana diungkapkan dalam laporan polisi bernomor LPB/319 V/2026/SPKT/Polda DIY, yang terdaftar pada 17 Mei 2026.
Proses Pemrosesan dan Pengakuan Pelanggaran
Menurut Purnomo Susanto, kuasa hukum Anastacia, peristiwa ini dianggap sebagai dugaan kelalaian medis. “Dalam historic moment ini, ada pelanggaran prosedur dalam pemberian anestesi dan penggunaan alat diagnostik CT Scan,” terangnya. Pernyataan tersebut didasarkan pada laporan awal bahwa anak korban disarankan untuk menjalani pemeriksaan CT Scan setelah mengalami peningkatan lingkar kepala hingga 46 cm pada bulan Maret 2026. Pihak keluarga menyebut pengaduan dimulai dari Anastacia yang disarankan oleh kader posyandu sebelum dirujuk ke RSUD Prambanan.
“Saat ini, kami masih menunggu penjelasan dari rumah sakit mengenai prosedur pemberian sedasi. Namun, dari keterangan awal, tampaknya ada ketidaksesuaian standar yang diterapkan,” tutur Purnomo.
Korban tiba di RSUD Prambanan pada 27 April 2026 dalam kondisi fisik yang baik. Ia mampu beraktivitas normal dan bahkan bermain di ruang tunggu. Namun, setelah diberi suntikan penenang, kondisi anak langsung berubah. Tidak sadarkan diri, NDMP dibawa ke Unit Intensive Care Unit (ICU) dan mengalami muntah darah serta henti nafas. Dalam waktu singkat, anak korban dinyatakan meninggal dunia pada 28 April 2026 pukul 02.20 WIB.
Penjelasan dan Penyesalan dari RSUD Prambanan
Direktur RSUD Prambanan, Ratih Susila, belum memberikan penjelasan detail mengenai kejadian tersebut. Ia mengatakan bahwa pihak rumah sakit telah melakukan audit medis dan menyiapkan laporan lebih lanjut. Meski demikian, keluarga korban merasa informasi yang diberikan terlalu bersifat normatif tanpa menjelaskan secara rinci penyebab kematian NDMP.
“Kami menghormati proses hukum dan akan memberikan data lengkap yang diminta oleh pihak keluarga. Namun, kami juga merasa prihatin atas historic moment ini,” ungkap Ratih dalam wawancara singkat.
Di sisi lain, pihak keluarga menilai bahwa RSUD Prambanan tidak cukup transparan. Mereka menyebut bahwa penjelasan rumah sakit hanya menyebut kematian non-infeksius, tanpa menyoroti aspek penenang dan CT Scan sebagai faktor utama. Anastacia Purwandari, ibu korban, menegaskan bahwa anaknya sehat sebelum prosedur medis. “Selama beberapa hari sebelum suntik, NDMP bahkan makan dengan lahap dan bermain di luar rumah. Tapi setelah itu, dia tidak sadar lagi,” katanya sambil menangis.
Kasus ini memicu perdebatan mengenai kepatuhan rumah sakit terhadap prosedur pemberian anestesi. Menurut Anwar Ary, kuasa hukum keluarga, CT Scan seharusnya direkomendasikan oleh ahli saraf anak. Selain itu, prosedur pemberian anestesi harus dipantau oleh ahli anestesi secara ketat. “Dalam historic moment ini, ada pelanggaran yang nyata. Kami akan terus menuntut keadilan untuk anak yang meninggal karena kesalahan medis,” tegasnya.
Kondisi Pasca-Incident dan Dampak Sosial
Sejak kejadian meninggalnya NDMP, berbagai pihak mulai menyoroti kualitas pelayanan medis di RSUD Prambanan. Banyak warga sekitar mengkritik keputusan rumah sakit dalam menunda pemeriksaan lebih lanjut. “Anak itu seharusnya tidak disuntik jika tidak ada indikasi jelas,” ujar salah satu warga yang turut merasa terkejut.
Dalam rangka meningkatkan transparansi, RSUD Prambanan berjanji untuk mempercepat penyelidikan. Pihak rumah sakit juga berharap kasus ini bisa menjadi pembelajaran bagi seluruh tenaga medis. “Kami sedang menyusun laporan lengkap dan akan memperkenalkan mekanisme pengawasan internal untuk mencegah historic moment serupa terjadi lagi,” kata Ratih.
Keluarga korban menilai kejadian ini sebagai historic moment yang menjadi bahan perdebatan kesehatan publik. Mereka meminta investigasi independen dari lembaga terkait, termasuk lembaga pengawas kesehatan dan organisasi konsument. “Kami ingin tahu apa sebenarnya penyebab kematian NDMP, dan bagaimana prosedur pemberian penenang dan CT Scan diatur secara ketat,” harap Anastacia.
