Topics Covered: AS Masukkan BYD ke Daftar Hitam Perusahaan Pendukung Militer Tiongkok
Topics Covered – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menambahkan perusahaan mobil listrik Tiongkok, BYD, ke daftar hitam perusahaan yang diduga mendukung militer Tiongkok, sebagai bagian dari kebijakan yang bertujuan membatasi akses perusahaan asing terhadap teknologi kritis. Keputusan ini diumumkan dalam daftar hitam terbaru yang diperbarui Senin (8/6), dan mencakup tiga perusahaan besar Tiongkok, termasuk Alibaba, Baidu, dan BYD. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk memutus kerja sama antara perusahaan-perusahaan tersebut dengan industri pertahanan AS, dengan efektivitas mulai berlaku akhir bulan ini.
AS Tekankan Risiko Keamanan Nasional
Kebijakan daftar hitam ini dianggap sebagai bagian dari upaya AS memperkuat strategi keamanan nasional dalam menghadapi kompetisi teknologi global. Pentagon menegaskan bahwa perusahaan yang dimasukkan dalam daftar tersebut dianggap memiliki risiko keamanan yang signifikan, terutama karena dikhawatirkan memainkan peran dalam pengembangan teknologi militer Tiongkok. Kedutaan Besar Tiongkok di Washington DC menolak tuduhan ini, menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan asing di Tiongkok mematuhi hukum lokal dan tidak melakukan diskriminasi terhadap merek Tiongkok.
“Perusahaan-perusahaan Tiongkok di luar negeri selama ini mengikuti aturan negara penerima investasi mereka,” ujar juru bicara Kedutaan Besar Tiongkok, mengutip laporan Al Jazeera, Rabu (10/6).
Alasan Pentagon Masukkan BYD ke Daftar Hitam
Menurut Pentagon, kriteria masuknya perusahaan ke daftar hitam melibatkan pertimbangan terhadap pengendalian militer oleh perusahaan tersebut, partisipasi dalam strategi fusi militer-sipil Tiongkok, atau memiliki operasi di AS. BYD, perusahaan mobil listrik terbesar Tiongkok, dikritik karena diduga memiliki keterlibatan dalam pengembangan teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan militer. Meski demikian, perusahaan tersebut menyangkal tuduhan ini, menyatakan bahwa penggunaan teknologi mereka tidak terkait langsung dengan kegiatan pertahanan Tiongkok.
“Kami tidak memiliki hubungan langsung dengan sektor pertahanan Tiongkok dan berkomitmen pada transparansi,” tambah juru bicara BYD, menurut laporan Reuters, Jumat (11/6).
Kebijakan Ini Memicu Tegangan Politik dan Ekonomi
Daftar hitam terbaru yang mencakup 188 perusahaan, meningkat dari sekitar 130 perusahaan pada tahun 2025, diperkirakan akan memperburuk hubungan antara AS dan Tiongkok. Ini terjadi setelah beberapa tahun terakhir, dimana kedua negara terlibat dalam sengketa dagang dan teknologi. Anggota kongres AS, John Moolenaar, menilai kebijakan ini sebagai langkah penguatan kontrol atas rantai pasokan dan penggunaan teknologi Tiongkok. “Perusahaan yang terdaftar di bursa AS harus segera dipisahkan dari rantai pasokan militer,” katanya.
Reaksi Dunia Bisnis dan Perusahaan Internasional
Kebijakan daftar hitam ini tidak hanya memengaruhi hubungan AS-Tiongkok, tetapi juga menciptakan kekhawatiran di kalangan perusahaan internasional yang bekerja sama dengan BYD. Perusahaan-perusahaan di luar Tiongkok mulai mempertimbangkan ulang keterlibatan mereka dalam proyek kerja sama dengan BYD, terutama dalam bidang teknologi dan manufaktur. Selain itu, keputusan ini memperkuat kebijakan AS dalam mengontrol distribusi teknologi strategis, yang diperkirakan akan memengaruhi persaingan global di sektor otomotif dan energi.
Impak Kebijakan pada Hubungan Internasional
Dengan memasukkan BYD ke dalam daftar hitam, AS menunjukkan komitmen untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi Tiongkok, terutama di sektor pertahanan. Hal ini bisa berdampak pada kerja sama internasional Tiongkok, karena perusahaan-perusahaan besar Tiongkok sering kali menjadi bagian dari aliansi ekonomi global. Namun, kebijakan ini juga dianggap sebagai bentuk peringatan untuk perusahaan Tiongkok agar lebih transparan dalam operasi mereka di luar negeri. Meski tujuannya untuk melindungi kepentingan nasional, keputusan ini tetap memicu ketegangan dalam hubungan diplomatik dan ekonomi antara kedua negara.
