Berita Travel

Historic Moment: Negara Paling Menyebalkan Versi Pelancong yang Sudah Keliling Dunia

Negara Paling Menyebalkan Versi Pelancong yang Sudah Keliling Dunia

Pelancong yang Menelusuri Seluruh Dunia

Historic Moment – Banyak orang bermimpi mengunjungi berbagai negara di seluruh dunia. Namun, sebelum memulai perjalanan tersebut, mungkin perlu memahami beberapa tempat yang dinilai paling mengesalkan oleh seorang pelancong muda yang sudah menghabiskan waktu di berbagai belahan bumi. Luca Pferdmenges, seorang petualang dari Jerman berusia 23 tahun, telah menyelesaikan perjalanannya keliling dunia. Setiap hari, ia berbagi pengalaman travelingnya melalui media sosial. Terkini, ia membagikan daftar negara-negara yang menurutnya ‘dibesar-besarkan’ secara berlebihan, baik oleh industri pariwisata maupun mitos yang beredar di kalangan pelancong.

Negara-Negara yang Terlalu Dibesar-Besarkan

Menurut Pferdmenges, beberapa negara mengalami kekecewaan saat pelancong melangkah ke dalamnya. Mesir, Prancis, Maladewa, Mauritius, dan Seychelles masuk dalam daftar tersebut. Ia mengatakan bahwa tempat-tempat ini sering kali dianggap sebagai destinasi yang luar biasa, tapi setelah berkunjung, pelancong justru merasa kecewa karena kurangnya hal-hal yang membedakannya dari tempat lain. “Di negara-negara ini, wisatawan biasanya hanya tertarik pada keindahan pantai, tapi di sana, sesuatu yang lebih mendalam sering kali menghilang di tengah keramaian,” jelas Pferdmenges dalam wawancara bersama Daily Mail.

Menurutnya, pulau-pulau kecil di Karibia, yang umumnya dianggap sebagai ‘paradise’, juga tergolong dalam kategori yang tidak sesuai ekspektasi. “Meskipun pemandangan alaminya memukau, mereka sering kali hanya menjadi tempat bermain dan bersantai, tanpa aura sejarah atau budaya yang memperkaya pengalaman,” tambah pelancong ini. Ia menekankan bahwa kebanyakan wisatawan hanya terpukau oleh panorama pantai, namun sesuatu yang lebih unik sering kali tak terlihat di tengah arus kerumunan turis.

Destinasi Tersembunyi yang Menakjubkan

Berlawanan dengan negara-negara yang dinilai ‘zonk’, Pferdmenges justru tertarik pada tempat-tempat yang kurang dikenal dan sering diabaikan. Di Asia, ia menyebut Bhutan dan Myanmar sebagai dua negara yang membuatnya terpesona. “Kedua negara tersebut punya pesona alam yang luar biasa, serta budaya yang khas,” ujar Pferdmenges. Ia mengatakan bahwa keindahan alam dan keunikan tradisi mereka mampu menyedot perhatian secara alami, tanpa perlu iklan yang menggelegar.

Di Afrika, ia juga menyoroti beberapa negara yang dianggap ‘tersembunyi’. Mesir, meskipun dianggap sebagai salah satu tempat paling menyebalkan, justru menawarkan pengalaman yang berbeda bagi pelancong yang bersedia memperhatikan detail. “Bahkan di Mesir, ada momen-momen kecil yang membuat saya tertarik, seperti kehidupan pasar tradisional atau keindahan arkeologi yang tersembunyi di tengah kota,” lanjutnya. Selain itu, ia juga menekankan bahwa keindahan alam dan masyarakat lokal sering kali lebih mendalam dari yang diperkirakan.

Kota-Kota Berisiko di Eropa

Pferdmenges tidak hanya mengkritik negara-negara di luar Eropa. Ia juga menyoroti beberapa kota di Eropa yang menurutnya kurang aman dan mengecewakan. Belgia, misalnya, dinilai sebagai tempat yang suram dan penuh kejutan negatif. “Saya sering melihat pelancong terjebak dalam kekacauan di kota-kota seperti Brussel atau Antwerpen, padahal mereka bisa menjelajah tempat yang lebih tenang dan menarik,” katanya. Ia juga memperingatkan wisatawan untuk berhati-hati di Paris, London, dan Frankfurt, yang menurutnya sering menjadi titik kumpul turis tanpa pesona yang mendasar.

Menurutnya, negara-negara di Eropa seperti Prancis, Italia, dan Yunani, meskipun populer, tidak selalu menjadi pilihan terbaik. “Ada banyak negara lain di benua ini yang belum tergali potensinya, seperti Montenegro atau Slovenia,” ujar Pferdmenges. Ia menambahkan bahwa keindahan alam dan kota-kota kecil di sana justru lebih mengesankan daripada kota besar yang sering menjadi pusat perhatian. “Saya kaget ketika melihat seberapa sedikit pengakuan yang diberikan kepada destinasi seperti itu,” katanya.

Perjalanan Menurut Pribadi

Menurut Pferdmenges, kekecewaan atau kepuasan dalam traveling tergantung pada preferensi pribadi. Ia tidak menolak bahwa banyak negara menawarkan pengalaman yang berbeda, tapi ia berpendapat bahwa sesuatu yang terlalu menggelegar bisa membuat pelancong kehilangan kesempatan mengeksplorasi hal-hal yang lebih menarik. “Setiap orang punya perspektif yang berbeda, jadi daftar ini hanyalah rekomendasi saya, bukan aturan mutlak,” tegasnya.

Pferdmenges juga menekankan bahwa traveling adalah jalan untuk mengejutkan diri sendiri. “Mungkin ada negara yang tidak sesuai impian Anda, tapi itu bisa jadi pengalaman yang berharga. Saya pernah merasa frustrasi di Mesir, tapi juga takjub dengan keindahan Myanmar. Keduanya punya warna yang berbeda,” ujarnya. Ia menyarankan bahwa sebelum memilih destinasi, pelancong perlu melihatnya secara menyeluruh, bukan hanya dari narasi yang dipersepsikan oleh media.

Kritik Terhadap Industri Pariwisata

Menurut Pferdmenges, industri pariwisata sering kali menggiring pelancong ke arah yang salah. “Banyak negara yang dianggap sebagai destinasi ‘must-visit’ karena iklan atau popularitas, tapi sesungguhnya mereka tidak punya banyak hal unik untuk ditawarkan,” kata pelancong ini. Ia mengkritik cara promosi yang terlalu berlebihan, yang membuat wisatawan terjebak dalam ‘keindahan’ yang diotak-atik oleh pihak tertentu.

Contohnya, Mesir yang sering dianggap sebagai ‘negara mistis’ karena kekayaan sejarahnya, justru dianggapnya sebagai tempat yang paling menyebalkan karena rasa kewal

Leave a Comment