KOI Tegaskan Efisiensi Anggaran Tak Boleh Ganggu Target di Asian Games
Main Agenda – Komite Olimpiade Indonesia (KOI) secara tegas menyatakan bahwa penghematan anggaran yang diarahkan ke sektor olahraga tidak boleh menyebabkan gangguan terhadap pencapaian target kontingen Indonesia dalam Asian Games 2026. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum KOI, Raja Sapta Oktohari, saat Rapat Anggota KOI 2026 di Jakarta, Sabtu (9/5). Ia menekankan bahwa upaya untuk menjaga efisiensi anggaran harus tetap seimbang dengan kebutuhan pembinaan atlet dan program latihan yang intensif.
Dalam kebijakan efisiensi anggaran yang diperkenalkan oleh Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menjadi salah satu instansi yang terkena dampak. Pada 2025, anggaran Kemenpora dikurangi hingga Rp1,46 triliun, yang merupakan 62,9 persen dari pagu awal sebesar Rp2,33 triliun. Meski ada penyesuaian dana, Raja Oktohari memastikan bahwa hal ini tidak akan mengurangi komitmen untuk mempersiapkan kontingen Indonesia yang akan tampil di ajang olahraga bergengsi tersebut.
Asian Games 2026: Tantangan dan Harapan
Asian Games 2026 akan dihelat di Nagoya, Jepang, mulai 19 September hingga 4 Oktober mendatang. Jadwal ini memberikan waktu yang cukup bagi atlet Indonesia untuk mempersiapkan diri secara matang. Namun, dalam latar belakang persiapan, KOI mengingatkan bahwa perubahan anggaran harus dihitung dengan matang agar tidak menghambat performa para atlet di ajang internasional ini.
Kemenpora, sebagai salah satu lembaga yang mendukung pembinaan olahraga nasional, masih berusaha mempertahankan kualitas program latihan meski menghadapi tekanan keuangan. Angka pemangkasan anggaran untuk tahun 2026 belum diumumkan secara resmi, namun Raja Sapta Oktohari optimis bahwa langkah-langkah yang diambil akan tetap mendukung keberhasilan kontingen Indonesia. Ia menyoroti pentingnya konsistensi dalam pelatihan, baik untuk atlet junior maupun senior, agar dapat mencapai level yang maksimal di Asian Games.
“Atlet, pelatih, dan cabang olahraga itu tugas utamanya adalah latihan, pelatihan, dan pertandingan. Apa pun tantangannya, perjuangannya tetap fokus untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera Merah Putih. Itu mutlak,” ujar Raja Sapta Oktohari. Ia juga menegaskan bahwa persiapan untuk Asian Games 2026 harus didasarkan pada strategi yang matang, bukan hanya kebijakan keuangan semata.
Kontingen Indonesia dikenal memiliki potensi besar dalam berbagai cabang olahraga, termasuk cabang yang telah sukses di SEA Games 2025. Raja Oktohari mengingatkan bahwa keberhasilan di tingkat regional tidak cukup untuk menjamin kemenangan di level Asia. Ia mencontohkan keberhasilan atlet seperti Rizki Juniansyah, yang mengharumkan nama Indonesia di Olimpiade Paris 2024 dan SEA Games 2025, sebagai bukti bahwa latihan yang konsisten dan pendanaan yang tepat sangat vital.
Dalam pernyataannya, Raja Sapta Oktohari meminta seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan para pelaku olahraga, untuk selaras dalam mendukung kebutuhan kontingen. Ia mengatakan bahwa anggaran yang dialokasikan untuk pembinaan atlet harus menjadi prioritas, karena tanpa itu, perjuangan untuk mencapai prestasi maksimal tidak akan berjalan lancar. “Olahraga itu tidak bisa instan, harus ada prosesnya, dan prosesnya harus dikawal,” tambahnya.
KOI, hingga saat ini, belum merilis target resmi untuk kontingen Indonesia dalam Asian Games 2026. Namun, Raja Oktohari yakin bahwa semangat para atlet akan tetap membara meski menghadapi tantangan. Ia juga menekankan bahwa semua cabang olahraga yang menjadi anggota KOI memiliki kemampuan untuk berprestasi, asalkan diberi dukungan yang cukup. “Apa pun situasinya, kita akan tetap bertarung, dan saya yakin semangatnya sama di 72 cabang olahraga,” ujar ketum NOC Indonesia tersebut.
Proses Pembinaan: Kunci Keberhasilan
Dalam wawancara terpisah, Raja Sapta Oktohari menjelaskan bahwa pencapaian atlet seperti Rizki Juniansyah tidak terlepas dari kesabaran dalam pembinaan. Ia menyoroti bahwa konsistensi dalam pelatihan dan fasilitas yang memadai adalah faktor utama dalam meraih medali emas di tingkat internasional. “Para atlet harus dijaga dengan baik sejak masa kecil, hingga mereka tumbuh menjadi pemenang di Asia,” tutur Raja Oktohari.
KOI juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan lembaga olahraga dalam mengoptimalkan anggaran. Meski ada penghematan, Raja menegaskan bahwa dana harus dialokasikan secara cerdas agar bisa menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan atlet. Ia menambahkan bahwa efisiensi anggaran bukan berarti mengorbankan kualitas, melainkan mengarahkan sumber daya ke arah yang lebih produktif.
Di sisi lain, Raja Oktohari meminta para pelatih dan atlet untuk tetap fokus dalam berlatih, karena tugas utama mereka adalah mempersiapkan diri secara maksimal. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan di Asian Games 2026 akan menjadi bukti nyata dari keberlanjutan program pembinaan yang telah dijalani selama bertahun-tahun. “Saya berharap, seluruh pihak bisa bersatu dalam membangun olahraga Indonesia,” ujarnya.
Asian Games 2026 menjadi momen penting bagi Indonesia, terutama setelah prestasi gemilang di Olimpiade Paris 2024. Dengan kehadiran Rizki Juniansyah dan atlet-atlet lainnya, KOI ingin memastikan bahwa kontingen bisa mengharumkan nama bangsa. Raja Sapta Oktohari menggarisbawahi bahwa seluruh pemangku kepentingan, baik di tingkat nasional maupun internasional, harus memahami bahwa investasi dalam olahraga adalah investasi untuk masa depan.
Sebagai contoh, keberhasilan Rizki Juniansyah menunjukkan bahwa dengan persiapan yang baik, atlet Indonesia bisa bersaing di tingkat dunia. Raja menegaskan bahwa tanpa proses pembinaan yang berkelanjutan, prestasi seperti ini tidak akan tercapai. Ia berharap pemerintah dan seluruh pihak di sektor olahraga bisa terus mendukung kegiatan yang memperkuat keberadaan Indonesia di kancah internasional.
KOI juga mengingatkan bahwa pemangk