Berita Climate

Daerah Mana Saja yang Terpanggang di Awal Mei 2026? Ini Kata BMKG

Daerah Mana Saja yang Terpanggang di Awal Mei 2026? Ini Kata BMKG

Daerah Mana Saja yang Terpanggang di Awal – BMKG mencatat bahwa penguatan Monsun Australia memberi dampak pada kondisi cuaca di beberapa wilayah Indonesia, terutama dengan peningkatan suhu yang signifikan. Fenomena ini menyebabkan radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara optimal, karena udara kering dan minimnya awan di pagi hingga siang hari.

Dalam periode 4–6 Mei 2026, wilayah dengan suhu maksimum melebihi 35 derajat Celcius tercatat di Kalimantan Timur, Papua Barat, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, serta Sumatera Utara. BMKG menjelaskan bahwa kondisi panas ini berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan di sore dan malam hari.

“Pada 4–6 Mei 2026, suhu maksimum di Kalimantan Timur, Papua Barat, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Utara mencapai 35,0–37,1 derajat Celcius,” kata BMKG dalam laporan cuaca.

Wilayah dengan Hujan Lebat dan Ekstrem

BMKG juga mencatat bahwa beberapa daerah mengalami hujan intensif meski cuaca umumnya panas. Hujan dengan tingkat intensitas tinggi terjadi di Jawa Barat (159 mm/hari), Kalimantan Barat (131,8 mm/hari), Banten (129,0 mm/hari), serta Jawa Tengah (120,0 mm/hari). Daerah lain seperti Sulawesi Tenggara (129,8 mm/hari), DKI Jakarta (94,8 mm/hari), Maluku (78,0 mm/hari), Nusa Tenggara Timur (74,9 mm/hari), dan Sumatera Barat (67,0 mm/hari) juga terkena curah hujan yang signifikan.

Faktor Penyebab Perubahan Cuaca

Perubahan cuaca tersebut dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) yang terjadi secara bersamaan. Selain itu, siklon tropis Hagupit yang berada di utara Papua juga dikaitkan dengan peningkatan potensi pembentukan awan hujan di beberapa wilayah.

Dalam satu minggu ke depan, Monsun Australia diperkirakan semakin kuat. BMKG menyebut dominasi angin timur dalam pola angin zonal menyebabkan aliran udara kering dari Australia masuk ke Indonesia, yang berdampak pada penurunan intensitas hujan.

“Dominasi angin timur berarti massa udara yang masuk memiliki kandungan uap air lebih rendah, sehingga memicu peralihan musim hujan ke kemarau di beberapa daerah,” jelas BMKG.

Leave a Comment