Main Agenda: Meta Perketat Konten Instagram untuk Remaja Sesuai PP Tunas
Main Agenda menjadi isu utama dalam rencana pengaturan ulang kebijakan Meta Indonesia, yang bertujuan memastikan konten Instagram lebih aman bagi pengguna usia remaja. Pembaruan ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang tata kelola sistem elektronik, yang diterapkan mulai 28 Maret 2026. Dalam wawancara bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta ECPAT Indonesia, Meta Indonesia menyatakan perubahan tersebut adalah bagian dari komitmen menghadirkan ruang digital yang sesuai untuk anak-anak Indonesia.
Kebijakan baru Meta mengubah cara pengklasifikasian konten, dengan standar yang lebih ketat berdasarkan kriteria usia 13 tahun. Sistem ini tidak hanya memfilter konten seksual dan gambar mengejutkan, tetapi juga membatasi akses ke ucapan kasar, tindakan berisiko, serta materi terkait ganja. Perubahan ini mencakup seluruh fitur platform, seperti Reels, Akun, Pencarian, dan komentar, untuk memastikan pengguna remaja tidak terpapar materi yang tidak sesuai dengan kategori usia mereka. Opsi ‘Limited Content’ pun diperkenalkan, memberi orang tua kemampuan untuk mengontrol akses anak-anak ke konten kontroversial.
Main Agenda: Perubahan Kebijakan Meta dan Dukungan Pemerintah
Meta Indonesia mengungkapkan bahwa Main Agenda ini merupakan hasil kolaborasi dengan pemerintah dan organisasi perlindungan anak. Peraturan Pemerintah Tunas (PP Tunas) memaksa penyelenggara sistem elektronik, termasuk Meta, untuk menonaktifkan akun pengguna di bawah 16 tahun jika tidak mematuhi aturan. Fokus utama adalah melindungi generasi muda dari dampak negatif media sosial, seperti paparan informasi berbahaya atau interaksi yang tidak sehat. Kebijakan ini juga mencakup edukasi untuk pengguna, agar mereka lebih paham tentang penggunaan platform secara bijak.
Kepala Kebijakan Publik Meta Indonesia, Berni Moestafa, menjelaskan bahwa Main Agenda ini bertujuan meningkatkan kepercayaan orang tua dalam penggunaan media sosial oleh anak-anak. “Kami percaya bahwa ruang digital harus menjadi tempat belajar dan bermain yang sehat, bukan hanya tempat menyebarkan informasi,” tuturnya dalam keterangan resmi. Tersedia pula fitur penilaian kinerja, yang memungkinkan pengguna mengevaluasi konten berdasarkan standar klasifikasi usia. Dengan demikian, Meta berupaya memenuhi kebutuhan remaja Indonesia secara holistik.
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, mengapresiasi upaya Meta dalam merealisasikan Main Agenda ini. “Regulasi PP Tunas memberikan kerangka kerja yang jelas, dan perubahan Meta adalah contoh nyata kepatuhan terhadap aturan tersebut,” katanya. Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan platform digital seperti Meta akan menjadi langkah kunci dalam menciptakan lingkungan digital yang lebih baik bagi remaja. Berbagai metrik seperti durasi penggunaan, jenis konten yang diakses, dan frekuensi interaksi akan dipantau secara berkala.
Perubahan ini juga mencakup revisi algoritma kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi dan menilai konten secara lebih akurat. Meta menyatakan bahwa AI baru akan mengurangi risiko konten yang tidak sesuai usia menyebar ke pengguna remaja. Dalam hal ini, Main Agenda berfokus pada efektivitas teknologi dalam mendukung perlindungan anak di bawah 16 tahun. Pengguna juga diberi pilihan untuk menyesuaikan preferensi konten sesuai dengan tingkat keterlibatan dan kebiasaan penggunaan mereka.
Kebijakan Meta untuk menyesuaikan PP Tunas mencerminkan Main Agenda yang lebih luas dalam mengatur ruang digital. Tidak hanya konten visual, tetapi juga teks, gambar, dan video akan diperiksa sesuai kriteria usia 13+. Sistem ini dirancang agar remaja tidak mudah terpengaruh oleh konten yang mengandung kata-kata kasar atau tindakan berisiko. Selain itu, Meta mengharapkan Main Agenda ini dapat menjadi dasar untuk standar lebih ketat di masa depan, termasuk penggunaan konten yang menyebarkan kebencian atau hoaks.
Dengan diterapkannya Main Agenda ini, Meta Indonesia berharap menumbuhkan kebiasaan penggunaan media sosial yang lebih produktif dan sehat bagi remaja. Perusahaan menyatakan bahwa penyesuaian ini tidak hanya mencegah paparan berlebihan, tetapi juga meningkatkan kualitas interaksi digital. Selain itu, kebijakan ini dinilai mendorong transparansi dan partisipasi aktif dari masyarakat dalam mengawasi penggunaan platform. Pada akhirnya, Main Agenda menjadi bukti bahwa keberhasilan perlindungan anak di dunia digital memerlukan upaya bersama dari semua pihak.
