Berita Teknologi Informasi

Meeting Results: Cloud Microsoft Dipakai Intai Warga Gaza, Bos Israel Dicopot

Hasil Rapat: Microsoft Cloud Digunakan untuk Mengintai Warga Gaza, Bos Israel Dicopot

Meeting Results – Dalam rangkaian hasil rapat yang diungkap, diketahui bahwa layanan cloud Microsoft telah menjadi alat utama dalam upaya intelijen Israel untuk memantau aktivitas warga Palestina di kawasan Gaza. Kesepakatan ini memicu perubahan signifikan dalam struktur kepengurusan perusahaan teknologi raksasa tersebut, termasuk pemecatan General Manager Microsoft di Israel, Alan Haimovich. Keputusan ini diambil setelah investigasi mendalam menemukan bukti bahwa data sensitif warga Gaza disimpan dan dianalisis melalui infrastruktur cloud milik Microsoft, yang menciptakan kontroversi di kalangan publik internasional.

Latar Belakang dan Pemicu Skandal

Skandal penggunaan cloud Microsoft oleh Israel bermula dari laporan media internasional seperti The Guardian dan +972 Magazine. Keduanya mengungkap bahwa militer Israel mengandalkan server Azure yang berlokasi di Eropa untuk penyimpanan data besar, termasuk rekaman panggilan telepon warga Palestina. Temuan ini didukung oleh hasil investigasi internal Microsoft yang membenarkan beberapa asersi media tersebut, termasuk peran layanan AI dalam mempercepat proses pengawasan. Pemecatan Alan Haimovich terjadi setelah ia menjabat selama empat tahun dan berlaku resmi pada akhir bulan ini.

“Hasil tinjauan internal Microsoft menyatakan bahwa layanan Azure digunakan untuk menyimpan data yang menjadi bahan analisis intelijen Israel, termasuk akses ke teknologi AI yang diduga digunakan dalam pengawasan massal,” ujar Presiden Microsoft Brad Smith dalam pernyataan resmi.

Detail Infrastruktur dan Skala Penggunaan

Penggunaan infrastruktur cloud Microsoft terbukti sangat luas, dengan kemampuan menyimpan hingga satu juta panggilan telepon per jam dan memproses data sebesar 11.500 terabyte. Angka ini setara dengan 200 juta jam audio yang tersimpan di pusat data Azure di Belanda dan Irlandia. Sistem ini diklaim diperkuat oleh kemitraan strategis antara CEO Satya Nadella dan komandan Unit 8200, Yossi Sariel, yang terjadi pada tahun 2021. Rapat tersebut menandai titik awal penggunaan layanan cloud untuk tujuan intelijen militer.

Keterlibatan Karyawan dan Dukungan Luar

Beberapa karyawan Microsoft mulai mengkritik penggunaan Azure untuk pengawasan militer, menyebutkan bahwa hal ini melanggar prinsip etika perusahaan. Meski demikian, tindakan tersebut tidak menggoyahkan keputusan manajemen hingga akhirnya memicu pemecatan Alan Haimovich. Dalam konteks hasil rapat, keberatan internal dan eksternal terus berlanjut, dengan pekerja teknologi menggalang dukungan untuk kampanye ‘No Azure for Apartheid’ yang menuntut transparansi lebih besar dari perusahaan.

Proses Investigasi dan Konsekuensinya

Tim investigasi internal Microsoft mulai bekerja bulan lalu setelah menyadari risiko hukum akibat penggunaan server di Eropa. Kesepakatan yang terjadi di Redmond pada 2021, di mana CEO Satya Nadella bertemu dengan pejabat intelijen Israel, menjadi fokus utama penyelidikan ini. Prosesnya menyebabkan pemecatan Alan Haimovich sebagai bentuk tanggung jawab, meski sejumlah staf tetap menjabat sementara di bawah bimbingan Microsoft Prancis. Hasil rapat menyoroti ketidakpuasan terhadap kurangnya kejelasan dalam penggunaan teknologi.

Analisis AI dan Dampak Operasional

Dalam hasil rapat, ditegaskan bahwa dua alat AI, yaitu Gospel dan Lavender, dikembangkan oleh Unit 8200 Israel untuk mempercepat identifikasi target. Alat-alat ini diproses melalui infrastruktur cloud Microsoft, yang menjadi media penyimpanan data intelijen. Pemecatan Alan Haimovich dinilai sebagai tindakan konsesi terhadap tekanan dari kelompok anti-apartheid, yang menuntut Microsoft untuk memutus keterlibatan dalam operasi intelijen militer. Namun, keputusan ini tidak sepenuhnya memecah masalah karena beberapa layanan AI masih bisa diakses.

Langkah Selanjutnya dan Kesimpulan

Pasca pemecatan, Microsoft mengambil langkah untuk membatasi akses Unit 8200 ke sebagian layanan cloud dan AI, sebagai bentuk respons terhadap kritik yang terus datang. Hasil rapat menegaskan bahwa perusahaan harus mengambil tanggung jawab lebih besar dalam proyek pengawasan militer di Gaza. Meski begitu, skandal ini tidak hanya memengaruhi hubungan internal Microsoft, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang peran teknologi global dalam konflik geopolitik. Penggunaan cloud Microsoft sebagai alat intelijen menunjukkan ketergantungan pada infrastruktur digital yang bisa diakses oleh pihak tertentu tanpa pengawasan yang cukup.

Leave a Comment