Mirip Jakarta-Jogja, Google Mau Lepas 32 Juta Nyamuk Wolbachia di AS
Latest Program – Google sedang mengembangkan inisiatif baru di California dan Florida, Amerika Serikat, dengan merilis 32 juta nyamuk jantan yang telah disterilkan untuk mengurangi populasi serangga pembawa penyakit. Inisiatif ini menjadi bagian dari program Debug, yang memanfaatkan keahlian teknologi untuk memproduksi koloni nyamuk steril yang bertujuan meminimalkan penyebaran penyakit berbahaya.
Metode Wolbachia: Strategi Baru dalam Perang Melawan Nyamuk
Metode ini bergantung pada bakteri alami Wolbachia, yang diperkenalkan ke nyamuk jantan. Bakteri ini mencegah reproduksi nyamuk betina liar, sehingga ketika kawin dengan nyamuk jantan steril, telur hasil persilangan tidak akan menetas. Sejak 2016, program serupa telah menunjukkan hasil positif di Yogyakarta, Indonesia, dengan menurunkan kasus demam berdarah hingga 67 dalam satu tahun terakhir.
Kemajuan di Jakarta dan Tantangan di AS
Metode Wolbachia sebelumnya diterapkan di Kembangan, Jakarta Barat, yang menjadi lokasi pertama pengujian teknologi ini di Indonesia. Daerah tersebut mencatatkan tingkat insiden demam berdarah sebesar 54,1 per 100.000 penduduk pada 2023. Di AS, Google ingin mengevaluasi metode ini sebagai solusi alternatif untuk mengatasi masalah nyamuk yang menggigit dan menyebarkan penyakit.
Kebijakan penggunaan nyamuk Wolbachia di AS masih dalam tahap pertimbangan oleh EPA. Perusahaan menyampaikan permohonan eksperimental untuk melepaskan 16 juta nyamuk per tahun selama dua tahun. Keputusan akan diumumkan setelah masa komentar publik berakhir 5 Juni 2024.
“Populasi nyamuk akan berkurang setiap generasi,” tulis Google dalam sebuah posting blog. Pendekatan ini dianggap lebih efektif dibandingkan metode tradisional seperti menyemprotkan pestisida, yang dinilai kurang berhasil dan memiliki dampak negatif terhadap lingkungan.
Verily Health, bagian dari Alphabet, sebenarnya sudah terlibat dalam bidang kesehatan global. Perusahaan ini memimpin program Debug sejak lama, menggunakan teknologi dan data untuk menangani masalah serangga penyebab penyakit. Pada 2024, Google sepenuhnya mengakuisisi Debug, sehingga program tersebut dianggap sebagai bagian dari upaya pengendalian nyamuk berbasis teknologi.
Program Debug memulai eksplorasi solusi melawan nyamuk mematikan sejak sekitar satu dekade lalu. Metode ini difokuskan pada spesies Aedes aegypti, yang menjadi penyebab utama demam berdarah, Zika, chikungunya, dan virus West Nile. Dengan mengurangi jumlah nyamuk betina, harapan adalah penyebaran penyakit bisa dikurangi secara signifikan.
