Sistem Penilaian Lomba Cerdas Cermat MPR RI Diperbarui dengan ‘VAR’
Main Agenda – Dalam upaya meningkatkan kualitas Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026, Plt. Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah mengungkapkan beberapa perubahan penting. Inovasi ini mencakup penyempurnaan proses penilaian, peningkatan pengawasan, serta penambahan kategori penghargaan. Perubahan tersebut bertujuan untuk menciptakan kompetisi yang lebih transparan, objektif, dan akuntabel.
Salah satu inovasi terbaru adalah penggunaan sistem monitoring. Sistem ini memungkinkan dewan juri dan panitia untuk meninjau ulang jawaban peserta jika terjadi perbedaan pandangan. Metode ini mengacu pada Var dalam sepak bola, di mana wasit dapat melihat rekaman video sebelum memutuskan suatu keputusan. “Sekarang dalam lomba, ada mekanisme pengawasan yang memungkinkan kita memeriksa ulang jawaban jika terjadi kesenjangan penilaian,” jelas Titi, sapaan akrab Siti Fauziah, dalam pernyataannya di Jakarta, Minggu (14/6).
Kebijakan Baru untuk Memastikan Objektivitas
Titi menambahkan bahwa seluruh dewan juri wajib menggunakan headphone selama lomba berlangsung. Langkah ini diambil agar setiap jawaban peserta dapat didengar secara jelas, sehingga mengurangi risiko kesalahan penilaian. “Kami juga mewajibkan juri menggunakan headphone agar lebih fokus mendengarkan materi yang disampaikan peserta,” katanya.
Terlepas dari perubahan teknis, lomba juga menghadirkan kategori baru yaitu apresiasi yel-yel terbaik. Kategori ini dinilai berdasarkan kreativitas dan semangat kebangsaan yang ditampilkan peserta. “Kami mengharapkan yel-yel mencerminkan unsur budaya daerah, nasionalisme, serta penggunaan bahasa yang tepat,” tutur Titi.
“Yel-yel ini sekarang kami nilai dengan harapan para peserta menampilkan kreasi yang berbau kedaerahan, nasional, dan internasional,”
Pemenang dan Harapan di Grand Final
Dalam babak penyisihan, SMAN 1 Pangkalan Bun, SMAN 1 Kuala Kurun, dan SMAN 1 Buntok masing-masing meraih penghargaan yel-yel terbaik. Titi berharap kategori ini tetap dipertahankan hingga grand final di Jakarta. “Pemenang babak penyisihan menjadi bagian dari ruang ekspresi kreativitas sekaligus pengukuh nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya.
Perubahan tersebut muncul setelah terjadi kontroversi di Kalimantan Barat. Pada final lomba beberapa waktu lalu, dewan juri memberikan nilai berbeda untuk jawaban yang sama. Peserta Grup C dari SMAN 1 Pontianak mendapat skor -5 karena menekan bel lebih dulu, sedangkan Grup B dari SMAN 1 Sambas menerima nilai 10 meskipun jawaban mereka identik dengan Grup C.
“Harapannya, apresiasi yel-yel terbaik ini nantinya akan terus dilakukan sampai grand final di Jakarta,”
