Keamanan Diperketat Jelang Aksi PSHT di Surabaya
Kabarberita911.com – Kapolrestabes Surabaya, Kombes Luthfie Sulistiawan, mengonfirmasi bahwa sebanyak 1.839 personel gabungan TNI dan Polri telah disiapkan untuk mengamankan aksi damai kelompok silat PSHT. Kegiatan ini berlangsung di kantor debt collector yang berlokasi di Jalan Teuku Umar serta di Mapolrestabes Surabaya pada Jumat (31/7) siang. Langkah pengamanan tersebut dilakukan menyusul insiden pembacokan seorang anggota silat oleh debt collector di kota tersebut.
Antisipasi Kedatangan Massa dari Luar Kota
Menurut Luthfie, pengerahan personel dalam jumlah besar ini didasari oleh potensi kedatangan massa aksi dari wilayah luar Surabaya. Ia menjelaskan bahwa meskipun aksi hari ini secara resmi diperuntukkan bagi anggota silat dari Surabaya, namun ada kemungkinan warga dari daerah lain juga turut hadir.
“Terkait itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, adanya kemungkinan massa aksi dari daerah lain meskipun hari ini hanya diperuntukkan anggota kelompok silat dari Surabaya,” kata Luthfie, Jumat (31/7).
Untuk mencegah potensi gesekan, petugas gabungan akan ditempatkan di berbagai titik yang dinilai rawan terjadi perpecahan. Selain itu, para petugas diminta untuk tetap siaga hingga seluruh rangkaian aksi selesai, bukan hanya saat aksi berlangsung saja.
“Petugas yang berjaga akan dibagi ke beberapa titik. Selain di Mapolrestabes Surabaya dan Jalan Teuku Umar, petugas juga akan berjaga di titik perbatasan keluar/masuk kota. Sehingga jika ditemukan adanya anggota kelompok silat dari daerah lain, diimbau untuk tidak masuk ke kota,” ucapnya.
Waspada Penyusup dan Sifat Emosional Anggota
Luthfie juga meminta bawahannya untuk mewaspadai kemungkinan adanya penyusup yang tengah menyamar di antara massa aksi. Ciri-ciri penyusup tersebut biasanya mengenakan masker, hoodie, atau penutup kepala untuk menyembunyikan identitas mereka.
Lebih lanjut, komandan kepolisian tersebut menekankan pentingnya kesabaran para petugas dalam melayani massa. Hal ini mengingat sebagian besar anggota silat yang turun ke jalan merupakan anak-anak di bawah umur yang memiliki emosi belum stabil.
“Karena kebanyakan dari anggota kelompok silat ini masih di bawah umur dan punya emosi yang tidak stabil. Jadi saya berharap, para petugas bisa lebih sabar dan tidak terpancing,” ujarnya.

