Bos BI Bantah Cadangan Devisa RI Menipis Usai Rupiah Tembus Rp18 Ribu
Bos BI Bantah Cadangan Devisa RI Menipis – Dalam situasi ekonomi yang dinamis, banyak pihak awalnya khawatir bahwa kenaikan nilai tukar rupiah ke Rp18 ribu per dolar AS akan memengaruhi ketersediaan cadangan devisa Indonesia. Namun, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo membantah pernyataan tersebut dan menegaskan bahwa cadangan devisa negara tetap stabil. Dalam wawancara terbaru di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, ia menjelaskan bahwa jumlah cadangan devisa masih memenuhi standar kecukupan yang diterbitkan Dana Moneter Internasional (IMF), sehingga tidak terjadi penipisan signifikan.
Penilaian Berdasarkan Indikator Internasional
Perry Warjiyo menyampaikan bahwa BI menggunakan metode pengukuran yang disepakati secara internasional, khususnya Adequacy Reserve Asset (ARA), untuk mengevaluasi daya tahan cadangan devisa terhadap risiko krisis atau tekanan di pasar keuangan. “Bos BI Bantah Cadangan Devisa Indonesia terkoreksi,” katanya dalam pernyataan yang dikutip oleh media. Ia menambahkan bahwa BI terus memantau dengan cermat kondisi ekonomi, termasuk pergerakan nilai tukar rupiah, untuk memastikan cadangan devisa tetap siap menghadapi situasi yang tidak terduga.
“Cadangan devisa Indonesia saat ini masih cukup untuk menutupi kebutuhan ekonomi dalam jangka pendek. Kami melakukan perhitungan yang akurat dan memastikan bahwa standar internasional selalu terpenuhi,”
Dengan metode ARA, BI membandingkan jumlah cadangan devisa dengan kebutuhan ekonomi, seperti 3 bulan impor atau 1,5 bulan pembayaran utang luar negeri. Perry menyebutkan bahwa nilai cadangan devisa per Mei 2026 mencapai lebih dari 115 persen dari standar tersebut, yang menunjukkan ketersediaan dana yang aman. Meski terjadi sedikit penurunan dari bulan sebelumnya, jumlah ini jauh di atas ambang batas yang dianjurkan oleh IMF.
Faktor yang Mempengaruhi Cadangan Devisa
Berikutnya, faktor-faktor yang memengaruhi kinerja cadangan devisa Indonesia menjadi topik utama. Dalam laporan bulanan BI, dinyatakan bahwa cadangan devisa mengalami penurunan di akhir Mei 2026 menjadi 144,9 miliar dolar AS, dibandingkan 146,2 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya. Meski penurunan ini terjadi, jumlahnya tidak sampai mengkhawatirkan karena sistem keuangan Indonesia tetap dalam kondisi yang terkendali.
“Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tercatat 144,9 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir April 2026,”
Penyebab penurunan mencakup beberapa kegiatan pemerintah, seperti penerbitan obligasi global, penerimaan pajak dan layanan, serta pembayaran utang luar negeri. Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI, menjelaskan bahwa penyusutan cadangan devisa tersebut lebih bersifat sementara dan tidak menggambarkan kondisi yang mengkhawatirkan. Ia menekankan bahwa cadangan devisa Indonesia tetap memenuhi syarat kecukupan, meski terjadi perubahan kecil dibandingkan periode sebelumnya.
Dalam konteks ini, Bos BI Bantah Cadangan Devisa RI Menipis juga memberikan penjelasan mengenai pengelolaan dana cadangan oleh BI. Gubernur BI menyampaikan bahwa pihaknya terus memantau inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kebijakan moneter untuk menjaga keseimbangan antara nilai tukar rupiah dan daya tahan cadangan devisa. “Kami tidak hanya mempertimbangkan tekanan dari eksternal, tetapi juga pertumbuhan ekonomi dalam negeri,” ujarnya dalam wawancara tersebut.
Proyeksi dan Strategi Jangka Panjang
Perluasan cadangan devisa juga menjadi bagian dari
