Keluarga Sang Korban Sangsi Klaim Bunuh Diri, Temukan Tanda Penganiayaan pada Jasad
Kabarberita911.com – Misteri seputar kematian L (30) yang dikabarkan tewas karena menembak dirinya sendiri dengan senjata api milik mantan suami, Bripda IH, di Medan, Sumatera Utara, belum juga terpecahkan. Pihak keluarga besar-besaran meragukan versi kepolisian mengenai penyebab kematian korban. Ayah korban, Sanalui Gowasa (56), tidak sependapat dengan pernyataan resmi kepolisian bahwa putrinya benar-benar melakukan bunuh diri dengan cara menembak kepalanya sendiri.
Kecurigaan keluarga bermula setelah mereka melihat langsung kondisi jenazah L. Sanalui menegaskan bahwa kematian putrinya bukan akibat penembakan diri, melainkan hasil dari penganiayaan yang dialaminya. “Sebenarnya ini bukan penembakan diri sendiri. Ini hasil dianiaya,” tegas Sanalui saat ditemui di rumah duka, Rabu (5/8).
Temuan Luka dan Lebam pada Jenazah
Menurut Sanalui, jenazah L menunjukkan berbagai tanda fisik yang tidak sesuai dengan klaim bunuh diri. Ia menyebutkan adanya luka lebam di beberapa bagian tubuh korban. Selain itu, bagian leher korban juga terlihat memiliki bekas cekikan yang cukup jelas. Sanalui juga menduga tidak ada bekas peluru akibat tembakan di kepala anaknya.
“Karena dari hasil kita lihat, di sana ada pencekikan leher dan mata memar. Dan semua badannya agak kebiru-biruan. Dan tidak ada itu bekas tembakan seperti apa yang diberitakan selama ini bahwa anak itu bunuh diri, merampas dengan paksa pistol suaminya. Itu tidak benar,” paparnya.
Selain itu, Ica, adik korban, juga mengungkapkan kecurigaannya saat menyaksikan jenazah kakaknya di RS Bhayangkara. Ia menemukan beberapa bagian tubuh korban yang mengalami luka memar. “Yang saya lihat matanya sudah memar. Ada bekas goresan di lutut, lebam di bagian pusar dan mulai membusuk. Lebam di bagian kaki dan jari tangan,” jelasnya.
Ica juga memperhatikan adanya bekas luka di bawah dagu korban yang telah dijahit. Ketika keluarga menanyakan asal-usul luka tersebut, polisi mengaku bahwa itu adalah bekas suntikan. Namun, Ica merasa penjelasan itu kurang masuk akal. “Kami nanya ini apa ini yang dijahit? Ini kan kayaknya bukan bagian autopsi. Jawaban polisinya, ‘Ini kemarin ada yang disuntikkan’, Kalau disuntikkan kenapa lukanya besar dan harus dijahit? Suntikan apa, obat apa yang dimasukkan di dalam? Tapi tidak ada dijawab,” urainya.
Keraguan Terhadap Proses Autopsi dan Keterangan Polisi
Sanalui juga telah meminta hasil autopsi jenazah anaknya dari RS Bhayangkara Medan. Namun, hingga saat ini hasil tersebut belum juga diberikan. Ia pun tidak sepenuhnya mempercayai keterangan dari penyidik terkait penyebab kematian putrinya. “Ah, itu udah saya tanya, tapi tunggulah sabar, sedang dilidik kata mereka. Nanti kita beritahu apa hasilnya, karena saya minta mana hasil autopsinya. Mereka jawab sabar pak, ini kan lagi dikaji sama orang ini,” urainya.
Ica juga merasa heran dengan penjelasan polisi yang menyebutkan bahwa korban menembak kepalanya menggunakan senjata api. Menurutnya, bagian tengkorak kepala korban tidak dibongkar. “Terus kan kalau misalnya ambil peluru itu kan harus dibuka nih tengkoraknya. Tapi tengkorak nya tidak dibongkar. Hanya bagian depan wajah yang dipotong. Terus bagaimana dia belajar menggunakan senpi itu. Dia kan orang awam,” paparnya.
Klaim Kepolisian: Tidak Ada Tanda Kekerasan
Merespons kecurigaan keluarga, Polrestabes Medan mengklaim bahwa hasil autopsi terhadap L tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan maupun penganiayaan pada tubuh korban. Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, menjelaskan bahwa temuan tersebut berdasarkan pemeriksaan dokter forensik yang melakukan autopsi di RS Bhayangkara Medan.
“Dari keterangan para ahli, yang pertama adalah dokter forensik yang melakukan autopsi, bahwa tidak ada bekas-bekas kekerasan atau bekas-bekas apa pun, benda tumpul, benda tajam yang melukai korban,” ujarnya.
Calvijn menyebutkan bahwa hasil pemeriksaan forensik memperkuat dugaan bahwa korban meninggal dunia akibat bunuh diri. Kesimpulan tersebut juga didukung oleh keterangan dua saksi yang berada di lokasi saat kejadian, yakni mantan suami korban Bripka IH dan anak mereka. “Hanya ada satu luka tembak yang berada di bagian kepalanya, yang dilakukan bunuh diri seperti yang saya jelaskan. Ini juga dikuatkan dengan dua saksi IH dan anak korban,” jelasnya.
Tak hanya itu, Calvijn menambahkan bahwa dari hasil labfor dan autopsi ditemukan adanya perlukan akibat senjata api di tubuh korban. Sisa residu mesiu juga ditemukan di jari tangan, badan, dan baju milik korban. “Dengan hasil bahwa betul ada senjata api di dalam dan ada perlukan di korban, dikuatkan dengan hasil Labfor, dan dikuatkan dengan hasil autopsi yang dilakukan oleh dokter autopsi, bahwa adanya sisa residu di jari tangan, badan, baju milik korban,” paparnya.
Sementara itu, tim identifikasi bersama Labfor melakukan hal yang sama dengan melakukan swab jari tangan di tubuh Bripka IH. Dengan hasil tidak ditemukan sisa residu yang ada. “Jadi hanya ada satu luka tembak yang berada di bagian kepalanya, yang dilakukan bunuh diri seperti yang saya jelaskan tadi, dikuatkan dengan dua saksi, IH dan anak korban,” pungkasnya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Keluarga Mengaku Temukan Lebam di Jasad?
Keluarga Mengaku Temukan Lebam di Jasad is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Keluarga Mengaku Temukan Lebam di Jasad matter?
Keluarga Mengaku Temukan Lebam di Jasad matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
