Berita Health

Jalan Kaki Bisa Tingkatkan Fungsi Kognitif? Ini Kata Studi

ilustrasi-jalan-kaki_169
Foto : Anthony Martinez - kabarberita911.com
Table of Contents
  1. Aktivitas Jalan Kaki Dikaitkan dengan Performa Kognitif yang Lebih Baik
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Aktivitas Jalan Kaki Dikaitkan dengan Performa Kognitif yang Lebih Baik

Kabarberita911.com – Jalan kaki bukan hanya bermanfaat untuk menjaga kebugaran dan membantu pengelolaan berat badan. Aktivitas sederhana ini juga dikaitkan dengan kemampuan menjaga fokus, menyaring gangguan, serta mempertimbangkan pilihan dalam pengambilan keputusan.

Hubungan tersebut terlihat dalam sebuah studi yang dimuat di jurnal Scientific Reports pada Oktober 2026. Riset ini melibatkan 3.093 orang dewasa di Amerika Serikat dan menelaah kaitan aktivitas fisik harian dengan sejumlah ukuran fungsi kognitif.

Peserta yang tercatat lebih aktif secara umum memperoleh nilai lebih tinggi pada beberapa pengujian kemampuan berpikir. Namun, para peneliti menekankan bahwa temuan ini menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa lebih banyak berjalan kaki secara langsung menyebabkan fungsi kognitif meningkat.

“Dalam beberapa ranah kognitif, individu dalam kelompok yang lebih aktif cenderung menunjukkan hasil lebih baik pada pengukuran kognitif,” kata psikiater Baylor College of Medicine, Olaoluwa Okusaga, yang terlibat dalam penelitian tersebut.

Data langkah dikumpulkan dalam jangka panjang

Penelitian memanfaatkan data dari program All of Us milik National Institutes of Health di Amerika Serikat. Peserta berusia 18 hingga 93 tahun, dengan rata-rata usia kurang lebih 58 tahun.

Untuk mengukur tingkat aktivitas secara lebih objektif, tim peneliti memakai catatan perangkat Fitbit. Rekaman aktivitas yang tersedia mencakup periode 2009 sampai 2023, meski panjang data tiap peserta tidak selalu sama. Dari catatan yang ada, peneliti memperkirakan pola aktivitas masing-masing individu.

Peserta kemudian dikelompokkan ke dalam tiga tingkat aktivitas. Kelompok dengan aktivitas paling rendah mencatat rata-rata 5.108 langkah per hari. Kelompok menengah mencapai sekitar 8.875 langkah, sedangkan kelompok paling aktif rata-rata berjalan 14.161 langkah setiap hari.

Mulai September 2023, peserta mengikuti serangkaian tes kognitif. Pengujian tersebut mencakup kemampuan mempertahankan perhatian, menahan diri dari informasi yang mengganggu, memilih imbalan segera atau imbalan yang diterima belakangan, serta mengenali ekspresi emosi pada wajah.

Kelompok dengan langkah lebih banyak unggul di beberapa tes

Dua kelompok dengan rata-rata langkah harian lebih tinggi menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan kelompok paling tidak aktif, terutama dalam tes perhatian, pengendalian distraksi, dan pilihan terhadap imbalan.

Setelah faktor seperti usia, pendidikan, pendapatan, status perkawinan, dan tempat lahir diperhitungkan, kelompok aktivitas menengah diperkirakan memiliki skor perhatian 1,76 poin lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan langkah paling sedikit. Pada kelompok paling aktif, selisih skor perhatian mencapai 2,17 poin.

Temuan ini dapat relevan dalam kehidupan sehari-hari. Perhatian yang terjaga dan kemampuan menahan respons impulsif dapat berperan saat seseorang bekerja, belajar, mengelola rencana keuangan, atau berusaha konsisten menjalankan tujuan kesehatan.

“Contohnya, mungkin mencakup mempertahankan konsentrasi di tempat kerja, menghindari keputusan impulsif, dan berpegang pada tujuan jangka panjang seperti menabung atau mengikuti rencana kesehatan,” tutur Okusaga.

Meski demikian, besarnya perbedaan skor antarkelompok tergolong kecil. Karena itu, hasil studi ini tidak dapat dipakai untuk menetapkan angka langkah tertentu sebagai target pasti demi meningkatkan perhatian atau kemampuan berpikir.

“Studi kami bersifat observasional dan tidak dirancang untuk menentukan jumlah langkah harian yang optimal bagi kesehatan kognitif,” ucap Okusaga.

Tekanan darah hanya menjelaskan sebagian kecil hubungan

Peneliti juga melihat kemungkinan peran tekanan darah dalam hubungan antara aktivitas dan fungsi kognitif. Tekanan sistolik yang lebih tinggi, yaitu angka teratas pada hasil pengukuran tekanan darah, dikaitkan dengan nilai yang sedikit lebih rendah pada tes pemilihan imbalan.

Dalam pemeriksaan lanjutan, tekanan sistolik yang lebih rendah secara statistik menjelaskan sekitar 5 persen hubungan antara jumlah langkah dan skor pada tes tersebut. Angka ini terbatas dan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa penurunan tekanan darah akan memperbaiki kemampuan berpikir.

Hasil tersebut justru memperlihatkan bahwa keterkaitan antara aktivitas fisik, kesehatan pembuluh darah, dan fungsi otak kemungkinan melibatkan banyak faktor. Pola tidur, kondisi kesehatan, lingkungan, kesempatan bergerak, serta kemampuan kognitif yang telah dimiliki seseorang dapat ikut berpengaruh, meski penelitian ini tidak dirancang untuk menguraikan seluruh faktor tersebut.

Bukan bukti sebab-akibat

Karena tes kognitif dilakukan hanya satu kali, penelitian ini tidak dapat menentukan apakah kemampuan berpikir peserta berubah dari waktu ke waktu. Ada pula kemungkinan arah hubungan yang berbeda: orang dengan kemampuan kognitif tertentu mungkin lebih mudah mempertahankan kebiasaan aktif dibandingkan peserta lain.

“Temuan kami mendukung adanya hubungan antara aktivitas fisik jangka panjang dan performa kognitif di kemudian hari, tetapi tidak membuktikan bahwa aktivitas fisik menyebabkan kemampuan kognitif yang lebih baik,” kata Okusaga.

Bagi pembaca, pesan penting dari riset ini bukanlah mengejar angka langkah tunggal. Jalan kaki dapat menjadi salah satu cara praktis untuk menambah gerak dalam rutinitas harian, terutama karena aktivitas ini dapat dilakukan dalam banyak situasi, seperti berjalan menuju transportasi umum, berkeliling lingkungan rumah, atau mengambil jeda singkat dari pekerjaan yang banyak duduk.

Penelitian berikutnya dengan penilaian kognitif berulang masih diperlukan untuk memahami apakah perubahan kebiasaan berjalan benar-benar diikuti perubahan kemampuan berpikir. Meski belum menjawab seluruh pertanyaan, studi ini menambah alasan untuk memandang aktivitas harian sebagai bagian yang berpotensi berkaitan dengan kesehatan tubuh dan otak.

Frequently Asked Questions

What is Jalan Kaki Bisa Tingkatkan Fungsi Kognitif?

Jalan Kaki Bisa Tingkatkan Fungsi Kognitif is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Jalan Kaki Bisa Tingkatkan Fungsi Kognitif matter?

Jalan Kaki Bisa Tingkatkan Fungsi Kognitif matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment