Transformasi Tempat Ibadah: Gereja-Gereja Eropa Berubah Menjadi Masjid
Kabarberita911.com – Fenomena peralihan fungsi bangunan gereja menjadi masjid semakin marak di benua Eropa. Proses jual beli ini didorong oleh dua faktor utama: penurunan jumlah jemaat Kristen dan peningkatan populasi imigran Muslim di berbagai negara. Selain itu, biaya perawatan bangunan bersejarah juga semakin memberatkan.
Data Statistik yang Menggambarkan Tren
Kabar mengenai perubahan fungsi tempat ibadah ini telah lama menjadi sorotan media Eropa. Menurut laporan Deutsche Welle tahun 2023, angka jemaat Katolik di Jerman mengalami lonjakan signifikan dalam hal keluar. Pada 2022, sebanyak 522.821 orang meninggalkan gereja, naik drastis dari 359.338 orang pada tahun sebelumnya.
Di Inggris, sensus tahun 2021 mencatatkan momen bersejarah. Untuk pertama kalinya, umat Kristen menjadi minoritas. Kantor Statistik Nasional melaporkan bahwa 46,2 persen populasi atau sekitar 27,5 juta orang mengidentifikasi diri sebagai Kristen. Angka ini turun 13,1 persen dibandingkan sensus 2011 yang mencatat 59,3 persen atau 33,3 juta orang.
Contoh Nyata di Berbagai Negara
Di London, Inggris, Gereja Methodist yang berdiri sejak 1743 akhirnya mengakhiri fungsinya sebagai tempat ibadah Kristen. Bangunan ini dibeli oleh komunitas Muslim asal Bangladesh dan India yang terus berkembang. Lima puluh tahun lalu, struktur tersebut berubah menjadi Brick Lamme Masjid.
Di Clitheroe, Lancashire, Gereja Bukit Sion juga mengalami nasib serupa. Sejak 2006, bangunan ini berfungsi sebagai masjid. Sebelumnya, gedung ini sempat digunakan sebagai toko dan pabrik garmen.
Belanda tidak ketinggalan dalam tren ini. Masjid Al Hikmah yang ramai dikunjungi muslim Indonesia awalnya adalah Gereja Immanuel. Pada tahun 1990-an, pengusaha Probosutedjo membeli gedung tersebut seharga 1 juta gulden. Serah terima resmi kepada jemaah Indonesia dilakukan pada 1 Juli 1996.
Jerman juga memiliki contoh nyata. Gereja Lutheran Capernaum di Hamburg dibeli dan dikonversi menjadi Masjid Al-Nour pada tahun 2018.
Penyebab dan Dampak Sosial
Penurunan jumlah jemaat di Jerman dikaitkan dengan beberapa faktor. Skandal pelecehan seksual oleh para pastur terhadap jemaat menjadi salah satu penyebab utama. Selain itu, beban pajak gereja yang mencapai 8-9 persen dari penghasilan jemaat juga dianggap memberatkan.
Uskup Agung Canterbury, Justin Welby, memberikan perspektif berbeda. Ia menyatakan bahwa penurunan jemaat di Inggris murni disebabkan oleh “kegagalan pribadi”. Sebagai pemimpin tertinggi, ia merasa tidak yakin ada lagi tindakan yang bisa dilakukan.
“Pada akhirnya, gereja tidak berada di tangan Uskup Agung individu yang independen. Masa depan gereja, kelangsungan hidupnya atau sebaliknya, tidak bergantung pada Uskup Agung, melainkan pada Tuhan dan pemeliharaan Tuhan,” kata Welby seperti dikutip The Telegraph.
Sementara itu, sebuah perkumpulan bernama Sahabat Gereja Protestan di Berlin menerbitkan laporan mengenai sepuluh gereja di Jerman yang diubah menjadi masjid. Laporan tersebut menegaskan bahwa fenomena ini bukan hal baru, melainkan terjadi berulang kali secara sengaja.
Krisis Identitas dan Respon Politik
Maraknya penjualan gereja menjadi masjid memicu kritik dari berbagai pihak. Kelompok sayap kanan di Eropa memanfaatkan isu ini untuk memperkuat narasi anti-imigran dan anti-Muslim. Wartawan Mahmoud Zaki dalam tulisannya di Arab Weekly menyebutkan bahwa Eropa sedang menghadapi krisis identitas multidimensi.
Krisis ini tidak hanya terjadi di ranah politik dan ekonomi, tetapi juga agama dan ideologi. Penurunan jumlah jemaat menyebabkan sekitar 250 gereja ditutup setiap tahunnya.
“Isu pengubahan gereja menjadi masjid telah menjadi isu sensitif antara Timur dan Barat selama lebih dari 1.000 tahun. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa, seiring dengan menurunnya keterikatan warga Eropa pada keyakinan Kristen mereka, saatnya telah tiba bagi umat Muslim untuk berkembang. Namun, konflik historis antara Islam dan Kristen telah lama terkait dengan isu-isu martabat dan kemenangan,” tulisnya.
Partai-partai sayap kanan secara spesifik menargetkan imigran Muslim. Mereka menggunakan dalih pencegahan terorisme untuk mengambil langkah-langkah ketat terhadap kelompok Islam ekstremis. Amrou Farouk, seorang ahli kelompok Islam politik, menambahkan bahwa masalah transformasi identitas masih menjadi perdebatan hangat di masyarakat Eropa.

