El Niño 2026 Diprediksi Pecahkan Rekor 150 Tahun Terakhir
Kabarberita911.com – Para ahli iklim kini memproyeksikan bahwa fenomena El Niño pada tahun 2026 berpotensi menjadi yang terkuat dalam kurun waktu satu setengah abad. Berdasarkan hasil pemodelan iklim terkini, fenomena ini bahkan berpeluang memecahkan berbagai catatan rekor yang telah ada sebelumnya. Zeke Hausfather, ilmuwan iklim dari Berkeley Earth, menjelaskan bahwa proyeksi terbaru menunjukkan puncak El Niño kali ini akan melampaui batas tertinggi yang pernah dicatat.
Dengan menganalisis simulasi dari 14 model prakiraan musiman yang berbeda, para peneliti menemukan bahwa suhu permukaan laut di Samudra Pasifik memiliki risiko naik hingga sekitar 3,6°C di atas rata-rata. Angka tersebut ternyata 0,8°C lebih tinggi dibandingkan dengan rekor Super El Niño pada periode 2015-2016. Hausfather memberikan gambaran bahwa perbedaan suhu antara El Niño terkuat dan El Niño terkuat kelima dalam 150 tahun terakhir hanya berkisar 0,5°C.
Bayang-bayang Bencana Abad ke-19
Proyeksi tersebut bukan hanya sekumpulan angka belaka. Sekitar 150 tahun silam, dunia mengalami salah satu peristiwa El Niño terkuat yang pernah tercatat dalam sejarah, yaitu pada periode 1876 hingga 1878. Fenomena ini memicu kekeringan hebat di berbagai wilayah Asia, Afrika, serta Amerika Selatan. Kekeringan berkepanjangan kemudian berujung pada serangkaian bencana kelaparan besar yang dikenal sebagai Global Famine.
Beberapa peristiwa utama yang tercatat meliputi Bencana Kelaparan Besar 1876-1878 di India, Grande Seca di Brasil, serta Kelaparan China Utara 1876-1879. Ketiganya diperkirakan telah menewaskan lebih dari 50 juta manusia. Dampaknya bahkan terasa hingga ke Amerika Utara, di mana sejumlah wilayah di Amerika Serikat mengalami musim dingin yang tidak biasa hangatnya, sehingga periode tersebut dijuluki ‘Tahun Tanpa Musim Dingin’.
Para ilmuwan masih memperdebatkan tingkat kekuatan El Niño pada masa itu dibandingkan dengan peristiwa besar lainnya, mengingat data pengamatan laut pada akhir abad ke-19 masih sangat terbatas. Namun, sebuah studi tahun 2020 yang diterbitkan di Journal of Climate menggunakan rekonstruksi suhu permukaan laut untuk menaksir ulang kekuatan peristiwa tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa El Niño 1877-1878 masuk dalam kategori salah satu yang terkuat sepanjang sejarah. Secara statistik, intensitasnya ternyata tidak jauh berbeda dari El Niño modern seperti 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016.
Bukan Hanya Soal Kekuatan Fenomena
Para ilmuwan iklim menekankan bahwa pelajaran dari peristiwa 1870-an tidak berarti setiap El Niño kuat otomatis berujung pada bencana serupa. Berbeda dengan bencana yang datang tiba-tiba tanpa peringatan, El Niño berkembang dalam hitungan bulan sehingga dapat dipantau jauh-jauh hari.
“Namun, dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa dahsyat yang datang tiba-tiba tanpa peringatan, para ilmuwan sudah mengetahui jauh-jauh hari bahwa El Niño akan datang,” ujar Emily Becker, peneliti di Institute for Marine and Atmospheric Studies di University of Miami.
Salah satu pembeda utama antara peristiwa akhir abad ke-19 dan saat ini adalah soal peringatan dini. Ilmuwan modern kini memiliki satelit, jaringan pemantauan laut, model iklim, hingga sistem prakiraan musiman untuk melacak perkembangan El Niño dan mengantisipasi dampaknya.
Faktor Pendukung Lainnya
Meski begitu, El Niño bukan satu-satunya penyebab tewasnya 50 juta orang pada periode 1870-an. Studi tahun 2018 menemukan bahwa Global Famine muncul dari kombinasi tak biasa beberapa kondisi iklim, yakni El Niño kuat, Indian Ocean Dipole dengan intensitas rekor, dan suhu Samudra Atlantik Utara yang jauh lebih hangat dari biasanya.
Oleh karena itu, ilmuwan menilai bahwa kecil kemungkinan bencana serupa 1870-an bakal terulang persis sama. Pasalnya, peristiwa El Niño 1877-1878 sejatinya hanya satu bagian dari krisis yang jauh lebih besar. Keputusan politik, kebijakan kolonial, ketimpangan ekonomi, hingga kegagalan sistem pangan dan air saat itu ikut mengubah gagal panen massal menjadi bencana yang menewaskan puluhan juta orang. Sistem pangan, praktik pertanian, hingga jaringan tanggap darurat modern disebut sudah jauh berubah dibanding akhir abad ke-19. Karena itu, bencana sebesar skala 1870-an dinilai kecil kemungkinannya terulang dengan pola yang sama.
Meski begitu, para pakar tetap mengingatkan bahwa El Niño yang tengah berkembang saat ini berpotensi menimbulkan tantangan signifikan, mulai dari perubahan pola curah hujan, gelombang panas, hingga dampak ekonomi global.

