Historic Moment: Bupati Serang Salurkan Bantuan Rp1,19 M untuk Korban Bencana Sumatra
Historic Moment – Kabupaten Serang mencatatkan momen sejarah dalam upaya membantu korban bencana di Sumatra dengan menyalurkan bantuan kemanusiaan sebesar Rp1,19 miliar. Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah secara resmi menyerahkan bantuan tersebut kepada warga Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang terkena banjir serta longsor tanah. Donasi ini merupakan hasil kerja sama Aparatur Sipil Negara (ASN) dan berbagai komunitas di wilayah Kabupaten Serang. Upacara penyerahan dilakukan di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Tamiang, Jumat (8/5), dengan Ratu Rachmatuzakiyah langsung menyerahkan bantuan kepada Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi dan tim pemerintah setempat.
Kepedulian Masyarakat dan Lembaga
Acara penyerahan bantuan dihadiri oleh sejumlah pejabat penting seperti Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Serang Maksum, Kepala Pelaksana BPBD Ajat Sudrajat, Kepala Dinas Sosial Yadi Priyadi Rochdian, serta perwakilan dari lembaga-lembaga terkait. Ratu Rachmatuzakiyah menegaskan bahwa momen sejarah ini menunjukkan semangat kepedulian masyarakat Serang terhadap korban bencana di Sumatra. “Bantuan ini adalah bentuk nyata solidaritas kita sebagai bagian dari bangsa yang saling mendukung,” ujar Ratu Zakiyah.
“Momen sejarah ini membuktikan bahwa tali persaudaraan antar daerah tidak pernah terputus, bahkan dalam kondisi darurat,” kata Ratu Zakiyah sebelum bantuan disalurkan.
Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga November 2025, Indonesia mengalami 2.726 peristiwa bencana hidrometeorologi. Dari jumlah tersebut, banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat melaporkan lebih dari 400 korban meninggal. Ratu Rachmatuzakiyah menegaskan bahwa sumbangan dari Serang adalah bentuk dukungan nasional untuk mempercepat pemulihan wilayah terdampak. “Kami berharap momen ini menjadi motivasi bagi masyarakat lain untuk berpartisipasi,” tambahnya.
Proses Pengumpulan dan Penyaluran
Bantuan yang disalurkan terdiri dari dua bentuk: uang tunai dan logistik. Dana tunai berasal dari sinergi pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), organisasi masyarakat, keagamaan, serta kalangan mahasiswa. Terbesar sumbangan berasal dari ASN di OPD Kabupaten Serang, yang menghimpun total Rp926.791.000 dari 29 instansi. Sementara itu, 29 kecamatan di Serang berkontribusi dengan mengumpulkan Rp124.132.000 dalam bentuk sembako dan mi instan.
Organisasi seperti Forum Konsorsium Daerah Terdampak (FKDT), Persatuan Cerdas Nasional Umat (PCNU), Muslimat NU, dan Badan Kesejahteraan Sosial dan Perempuan Muslim Indonesia (BKPRMI) juga aktif dalam pengumpulan dana. Total sumbangan dari kelompok ini mencapai Rp68.384.000. Selain itu, BUMD seperti Perumda Tirta Albantani, BPR Serang, dan Bank bjb KCK Banten turut berkontribusi dengan bantuan senilai Rp70.800.000.
Bantuan disalurkan melalui kunjungan lapangan maupun transfer ke rekening pemerintah daerah. Ratu Rachmatuzakiyah menekankan bahwa distribusi dilakukan secara transparan dan terarah. Wilayah penerima bantuan mencakup Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Timur, hingga Tapanuli Tengah. “Kami percaya momen sejarah ini akan memberikan dampak positif bagi korban bencana,” ujarnya.
Menurut data BNPB, bencana di Sumatra Utara terutama berdampak pada sektor pertanian dan perumahan. Banjir bandang yang melanda beberapa daerah menyebabkan ratusan rumah rusak dan tanaman terendam. Bantuan dari Serang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar korban, seperti pangan dan perlengkapan kebutuhan sehari-hari. “Kami juga berharap bantuan ini menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat bahwa kerja sama dan kepedulian harus terus dijaga,” tambah Ratu Zakiyah.
Dalam menyusun strategi penyaluran, Pemkab Serang memastikan bahwa setiap dana dan logistik tepat sasaran. “Proses ini diawasi secara ketat untuk menghindari penyaluran yang tidak optimal,” jelas Kepala Pelaksana BPBD Ajat Sudrajat. Selain itu, bantuan juga disalurkan melalui kerja sama dengan lembaga donor lainnya, sehingga mempercepat distribusi ke wilayah terpencil. “Momen sejarah ini menjadi bukti bahwa kita tidak pernah sendirian dalam menghadapi musibah,” pungkas Ratu Rachmatuzakiyah.
