Jajanan Kaki Lima di Hanoi Dikenai Harga 10 Kali Lipat untuk Turis
Topics Covered – Sebuah kejadian viral di Hanoi, Vietnam, menarik perhatian wisatawan dan pengguna media sosial setelah seorang penjual jajanan kaki lima ditemukan menaikkan harga jual banh cam hingga 10 kali lipat. Insiden ini diunggah ke media sosial pada Senin (8/6) lalu, yang membongkar praktik penjualan yang berbeda antara pelanggan lokal dan turis.
Pelaku Penipuan dengan Harga Tidak Transparan
Dalam video yang viral, seorang penjual bernama Pham Thi Yen mengenakan harga 500.000 VND untuk sepuluh porsi banh cam, sementara harga normal di pasar lokal hanya sekitar 50.000 VND per porsi. Hal ini membuat turis yang membeli hanya mendapatkan kembalian 70.000 VND, sehingga harga yang dibayar menjadi 430.000 VND per porsi, yang merupakan 10 kali lipat dari harga biasa. Kejadian ini menggambarkan bagaimana beberapa penjual di Hanoi menggunakan kesenjangan pengetahuan wisatawan terhadap bahasa dan mata uang lokal untuk memperoleh keuntungan ekstra.
Topics Covered menunjukkan bahwa penipuan harga ini bukan sekadar kejadian tunggal, melainkan bagian dari tren di sejumlah tempat wisata di Asia Tenggara. Beberapa pengguna internet mengeluhkan cara Yen memanfaatkan situasi ini, dengan mengatakan bahwa kenaikan harga memicu kekecewaan terhadap citra kota wisata Hanoi. Banyak orang berpendapat bahwa penjelasan harga yang tidak jelas bisa merusak pengalaman wisatawan dan mengurangi kepercayaan terhadap kota tersebut.
Langkah Petugas dan Dampak pada Citra Kota
“Kami meminta Yen menampilkan harga secara transparan dan mengingatkannya agar tidak terus menaikkan tarif untuk pelanggan, terutama wisatawan, demi menjaga reputasi Hanoi sebagai kota yang ramah,” kata petugas yang menangani laporan ini.
Setelah dikeluarkan video tersebut, Yen dikenai denda 225.000 VND sebagai bentuk sanksi atas praktik penipuan. Petugas menegaskan bahwa kejadian ini menjadi pelajaran bagi pengusaha lokal untuk lebih hati-hati dalam menetapkan harga, terutama di area yang sering dikunjungi turis. Dengan kejadian ini, citra Hanoi sebagai destinasi wisata yang ramah dan terjangkau mulai terdampak, meskipun mayoritas penjual tetap menjaga harga yang wajar.
Topics Covered juga memperlihatkan bagaimana turis terkadang menjadi korban dari kesenjangan informasi. Di Hanoi, banh cam adalah camilan khas yang sering dijual di pasar kaki lima. Namun, dengan harga yang ditetapkan secara tidak transparan, wisatawan bisa terjebak dalam kesalahpahaman yang memicu kekecewaan. Pihak kota mengaku sedang meninjau aturan harga jual di area wisata untuk mencegah praktik serupa terjadi kembali.
Sebagai langkah pencegah, pemerintah setempat memberikan pelatihan kepada pedagang kaki lima tentang pentingnya transparansi harga dan layanan yang baik. Dengan begitu, wisatawan dari luar negeri dapat mengakses makanan lokal tanpa merasa diperas. Kejadian ini juga menjadi peringatan bagi para pengusaha lainnya agar tidak mengambil kesempatan menipu pengunjung yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kota ini.
Topics Covered menambahkan bahwa selain banh cam, ada beberapa jajanan lain di Hanoi yang juga memiliki harga berbeda untuk turis. Misalnya, kue khas atau minuman tradisional sering kali dijual dengan harga yang lebih mahal dibandingkan pembeli lokal. Meski demikian, pihak kota berharap adanya kejadian seperti ini bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki pengalaman wisatawan dan menjaga keseimbangan antara pendapatan pedagang dengan kepuasan konsumen.
