Rumah Pahlawan Prof. Sardjito Akan Dijual, Diinginkan Jadi Museum
Topics Covered – Rumah milik Prof. Dr. M. Sardjito di Kelurahan Terban, Kota Yogyakarta, terancam dijual setelah kerabat dekatnya, Budhi Susanto (70), menyampaikan penawaran kepada beberapa pihak. Ia berharap bangunan bersejarah ini tetap dijaga sebagai museum atau tempat publik, bukan diubah menjadi kafe seperti bangunan sekitarnya. Budhi telah menghubungi 10 lembaga, termasuk Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Islam Indonesia (UII), untuk mengetahui minat pembelian.
Keluarga Sardjito Menyasar Lembaga Pendidikan
“Rumah ini paling mulia dipakai sebagai museum atau rumah sejarah. Jika UGM atau UII membelinya, bisa menjadi ruang edukasi untuk mengingat peran Prof. Sardjito dalam pendidikan dan kesehatan Indonesia,” ujar Budhi Susanto, yang saat ini tinggal di sana.
Prof. Sardjito, yang juga dikenal sebagai pahlawan nasional, pernah menjabat rektor UGM dan UII. Kebijakan-kebijakan konservatifnya dalam pengelolaan kampus serta kontribusi di bidang kesehatan membuat rumah ini memiliki nilai historis tinggi. Budhi menyatakan keinginan agar bangunan ini tidak hilang dari pemandangan kota, sebab lokasinya yang strategis di tengah pusat kota akan menjadi daya tarik bagi pengunjung.
Kampus UII dan UGM Respons Positif
UGM dan UII telah menerima penawaran pembelian rumah Prof. Sardjito. Juru Bicara UGM, I Made Andi Arsana, menyatakan akan mengevaluasi properti tersebut sebelum memutuskan langkah lebih lanjut. “Kami akan diskusikan dulu, apakah bisa digunakan sebagai museum atau hunian,” katanya kepada media pada Kamis (14/5).
“Matur nuwun atas informasinya. Kami teruskan ke Yayasan UII. Pembelian properti ini memang di luar kewenangan rektor,” tambah Rektor UII Fathul Wahid, yang menyambut baik ide konservasi bangunan tersebut.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta pihak-pihak lain turut memantau proses penjualan ini. Sejumlah warga setempat menilai rumah Sardjito perlu dilestarikan agar menjadi simbol perjuangan dan peran tokoh nasional dalam sejarah bangsa. Budhi Susanto menegaskan bahwa ia tidak ingin melihat rumah ini berubah menjadi tempat hiburan, meski lokasinya yang mudah diakses bisa menarik minat banyak calon pembeli.
Rumah bergaya arsitektur Hindia Belanda ini dibangun di tengah kebisingan Kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Terban. Sebagai bekas rumah rektor, bangunan ini memiliki nilai kolektif yang signifikan. Budhi menuturkan bahwa ia sudah berupaya memastikan rumah ini tetap dijaga, baik sebagai museum, ruang publik, atau hunian pribadi. “Semangat Pak Sardjito saat memimpin UII harus tetap hidup dalam ruang-ruang yang kita bina,” harapnya.
“Kita perlu melindungi tempat sejarah ini agar generasi muda bisa mengenang peran besar Prof. Sardjito dalam membangun bangsa,” pungkas Budhi Susanto, yang sekaligus mewakili keluarga Sardjito dalam proses penjualan.
Rencana penjualan rumah Sardjito ini juga menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Yogyakarta. Beberapa aktivis sejarah menyoroti pentingnya melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan, agar warisan budaya bisa dijaga dengan baik. Dengan keterlibatan UGM dan UII, harapan masyarakat bisa terwujud untuk menjadikan rumah ini sebagai museum yang menyajikan perjalanan hidup Prof. Sardjito, seorang tokoh yang dikenang dalam bidang pendidikan dan kesehatan nasional.
