Berita Peristiwa

Solving Problems: Timwas DPR Sebut Petugas Kesehatan-Fasilitas Medis Haji Belum Ideal

Solving Problems: DPR Timwas Temukan Ketidakideal dalam Kesehatan Haji

Kebutuhan Tenaga Medis Haji Tidak Terpenuhi

Solving Problems – Dalam pemeriksaan terhadap sistem pelayanan kesehatan haji, Tim Pemantauan Kesehatan (Timwas) DPR RI menemukan bahwa jumlah petugas medis dan fasilitas kesehatan masih belum memadai. Solving Problems menjadi salah satu tantangan utama yang harus diatasi dalam menghadapi penyelenggaraan haji tahun ini. Anggota Komisi Kesehatan DPR, Netty Prasetiyani Aher, menyatakan bahwa kekurangan tenaga medis terutama terjadi di sektor layanan kloter dan Pusat Pelayanan Terpadu Haji (PPIH) di Arab Saudi, yang menjadi titik kritis dalam menjaga kesehatan jemaah.

“Jumlah petugas medis saat ini tidak mampu menangani kepadatan jemaah dan berbagai risiko kesehatan yang muncul, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem dan kerumunan yang tinggi,” ujar Netty dalam rapat evaluasi Senin (25/5).

Fasilitas Medis Haji Terancam Kurang Efisien

Berdasarkan laporan Timwas, terdapat 1.249 petugas kesehatan haji yang terdiri dari 1.050 Tenaga Kesehatan Haji Kloter (TKHK) dan 199 petugas non-kloter. Namun, jumlah ini dinilai masih tidak cukup untuk mengatasi tantangan kesehatan yang terus meningkat. Netty menyoroti bahwa kebutuhan tenaga medis harus lebih besar mengingat sebagian besar jemaah haji memiliki riwayat penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan jantung.

Salah satu masalah yang paling mengemuka adalah kondisi ambulans Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI). Dari total sembilan unit ambulans, sebagian besar dianggap sudah usang dan tidak optimal. Netty menjelaskan bahwa hanya 15 unit yang dapat digunakan untuk menangani darurat kesehatan, terutama menjelang pemondokan jemaah di Armuzna.

“Kami menemukan bahwa ambulans yang ada kurang memadai dalam menjawab kebutuhan jemaah selama perjalanan haji. Solving Problems dalam pelayanan kesehatan haji memerlukan perbaikan infrastruktur yang lebih cepat,” tegas Netty.

Rekomendasi untuk Meningkatkan Kualitas Pelayanan

Netty memberikan sejumlah rekomendasi untuk meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan haji. Pertama, ia menyarankan penambahan kuota petugas kesehatan untuk memastikan ketersediaan tenaga yang memadai di setiap sektor pemondokan. Kedua, armada ambulans yang saat ini dibeli pada 2010 perlu diganti dengan unit baru agar lebih nyaman dan efektif dalam menangani kondisi darurat.

Menurut Netty, pengadaan peralatan medis terbaru serta pembangunan gedung KKHI yang lebih nyaman bagi pasien juga menjadi prioritas. “Gedung KKHI Makkah yang memiliki 17 lantai justru mempersulit proses observasi dan rujukan jemaah yang sakit,” tambah politisi dari Fraksi PKS tersebut. Solving Problems dalam kesehatan haji tidak hanya bergantung pada jumlah petugas, tetapi juga pada kualitas fasilitas dan koordinasi antar sektor.

“Solusi jangka panjang adalah memastikan keberlanjutan sistem kesehatan haji yang adaptif terhadap kebutuhan jemaah, baik dalam kondisi normal maupun darurat,” lanjut Netty.

Kenaikan Angka Kesehatan Rentan di Tahun Ini

Dalam laporan Timwas, jumlah jemaah haji dengan kondisi kesehatan rentan meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini memperkuat kebutuhan akan penambahan kuota petugas medis, terutama di sektor layanan langsung. “Kenaikan ini menunjukkan bahwa Solving Problems harus lebih proaktif, bukan hanya reaktif,” kata Netty.

Netty juga menyoroti kurangnya pengawasan terhadap kualitas fasilitas medis di lapangan. Ia mencontohkan bahwa AC di beberapa ambulans tidak berfungsi optimal, sehingga membuat lingkungan perawatan jemaah haji kurang nyaman. “Solving Problems ini membutuhkan kolaborasi lebih intensif antara pemerintah, Kemenag, dan institusi kesehatan terkait,” imbuhnya.

“Kami merekomendasikan pengadaan peralatan medis yang lebih canggih dan pembinaan petugas kesehatan agar mampu beradaptasi dengan tantangan haji yang semakin kompleks,” jelas Netty.

Langkah Strategis untuk Pemulihan Sistem Kesehatan Haji

Timwas DPR juga menekankan perlunya rencana strategis jangka panjang untuk memperkuat sistem kesehatan haji. Langkah ini melibatkan peningkatan kapasitas petugas medis, perluasan jaringan fasilitas kesehatan di berbagai lokasi pemondokan, serta penggunaan teknologi untuk memantau kesehatan jemaah secara real-time. “Solving Problems dalam haji tidak bisa diselesaikan hanya dengan perbaikan sementara, tetapi harus melalui reformasi struktural,” tegas Netty.

Menurut laporan, Timwas akan merekomendasikan revisi kebijakan pelayanan kesehatan haji kepada pemerintah. Rekomendasi ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk pengadaan anggaran yang lebih besar di tahun depan. “Kami ingin solusi yang berkelanjutan, bukan hanya untuk satu musim haji saja,” pungkas Netty, yang menyoroti pentingnya keberlanjutan dalam memastikan kesehatan jemaah tetap terjaga. Solving Problems dalam kesehatan haji menjadi fokus utama Timwas untuk meningkatkan kualitas dan keandalan layanan haji.

Leave a Comment