Berita Peristiwa

Jakarta 500 Tahun, Rano Usul Peristiwa 1740 Diangkat Jadi Pentas Drama

wagub-dki-usul-peristiwa-1740-diangkat-jadi-pentas-drama-jelang-jakarta-500-tahun-1788091696111_169
Foto : Michael Lopez - kabarberita911.com
Table of Contents
  1. Menatap 500 Tahun Jakarta: Rano Karno Ajak Sekolah Seni Yonif Menghidupkan Kembali Tragedi 1740 di Panggung
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Menatap 500 Tahun Jakarta: Rano Karno Ajak Sekolah Seni Yonif Menghidupkan Kembali Tragedi 1740 di Panggung

Kabarberita911.com – Peringatan 500 tahun Jakarta yang jatuh pada 2027 semakin dekat, dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno memilih jalur seni pertunjukan sebagai salah satu cara untuk mengenang serta merefleksikan sejarah kota. Dalam sebuah kesempatan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rano secara langsung menantang Sekolah Seni Yonif untuk menyiapkan pementasan drama yang mengangkat peristiwa berdarah tahun 1740 — episode yang kerap disebut sebagai salah satu luka terdalam dalam memori kolektif warga Batavia kala itu.

Usulan itu dilontarkan ketika Rano hadir menyaksikan pertunjukan drama musikal berjudul Putri Lopian: Bunga Belantara Dairi, sebuah karya yang dipentaskan oleh para siswa Sekolah Seni Yonif pada Minggu (30/8). Taman Ismail Marzuki, yang sejak era Orde Baru menjadi pusat kegiatan teater dan seni pertunjukan ibu kota, kembali menjadi saksi lahirnya gagasan baru: bahwa sejarah kelam Jakarta layak dipentaskan, bukan sekadar dibaca dalam buku teks.

Tantangan Langsung di Panggung

Rano tidak sekadar memberikan apresiasi. Ia menyampaikan instruksi konkret kepada pihak Sekolah Seni Yonif agar mereka mulai menggali literatur sejarah terkait peristiwa 1740 dan menyiapkan naskah untuk dipentaskan pada tahun berikutnya. Pemprov DKI, kata Rano, akan memberikan dukungan penuh terhadap proyek tersebut.

“Kamu siapkan tahun depan teater begini, temanya Jakarta 500 tahun. Kamu bisa cari literasi, ada peristiwa. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1740.”

Ia kemudian merinci konteks sejarah yang ingin diangkat: bentrokan antara komunitas Tionghoa dan pasukan Belanda yang mendapat dukungan dari penduduk pribumi, peristiwa yang menewaskan ribuan orang dan meninggalkan jejak mendalam pada topografi kota. Nama Kali Angke, menurut Rano, lahir dari ingatan kolektif tentang sungai yang kala itu penuh darah.

“Itulah pertama kali Genosida, saudara kita Cina, perang dengan Belanda, yang dibantu oleh Pribumi. Itulah cikal bakal yang disebut ada yang namanya Kali Angke. Kali Angke itu kali yang penuh darah. Nah jadi artinya, kamu cari literasi itu, bikin tahun depan kita bikin pentas di sini.”

Peristiwa 1740, yang dalam historiografi sering disebut sebagai Tragedi Glasneer atau Pembantaian 1740, merupakan salah satu episode paling kelam dalam sejarah Batavia. Konflik antara pedagang Tionghoa dan pemerintah kolonial VOC memuncak dalam pembantaian massal yang menewaskan ribuan jiwa di wilayah yang kini menjadi jantung kota Jakarta. Mengangkat peristiwa ini ke panggung teater berarti mengajak publik ibu kota berhadapan langsung dengan akar kekerasan yang membentuk identitas kota, sebuah langkah yang jarang dilakukan dalam peringatan hari jadi kota di Indonesia.

Apresiasi terhadap Putri Lopian

Sebelum menyampaikan tantangan tersebut, Rano terlebih dahulu mengapresiasi kualitas pementasan Putri Lopian: Bunga Belantara Dairi. Drama musikal ini mengisahkan Putri Lopian Sinambela, putri Raja Sisingamangaraja XII dari Tapanuli, yang memilih berdiri di sisi keluarga dan rakyatnya dalam perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Rano mengakui bahwa memerankan tokoh sejarah yang asing bagi para pemain muda bukanlah hal mudah.

“Bagi saya tidak mudah menampilkan sebuah tokoh yang dia tahu tapi dia tidak kenal. Itu sangat sulit. Artinya begitu dia masuk, dia pasti akan timbul rasa kecintaan. Itulah yang membuat mereka, saya tadi tanya kepada Bu Dewi, mereka berlatih hampir satu bulan. Setiap hari, bayangin.”

Komitmen waktu latihan yang hampir satu bulan penuh setiap hari menunjukkan intensitas proses kreatif di balik pertunjukan tersebut. Bagi para siswa yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang seni pertunjukan formal, transformasi menjadi tokoh sejarah menuntut bukan hanya penguasaan teknik vokal dan gerak, tetapi juga pemahaman emosional terhadap konteks zaman yang mereka perankan.

Produksi Perdana Sekolah Seni Yonif

Marulina Dewi, Kepala Sekolah Seni Yonif yang juga menjabat Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik DKI Jakarta, menjelaskan bahwa Putri Lopian: Bunga Belantara Dairi merupakan produksi perdana yang dikerjakan secara mandiri oleh para siswa. Mulai dari vokal, koreografi tari, tata rias, hingga wardrobe, seluruh elemen pertunjukan ditangani langsung oleh anak-anak tanpa bergantung pada tenaga profesional eksternal.

“Putri Lopian adalah pagelaran perdana yang dikerjakan langsung, diselenggarakan langsung oleh Sekolah Seni Yonif mulai dari vokal, tarian, make up, wardrobe, langsung oleh anak-anak.”

Lebih dari 60 talenta siswa tampil di atas panggung, sementara lebih dari 100 orang terlibat dalam keseluruhan rantai produksi — dari penulisan naskah, penyusunan musik, hingga logistik pertunjukan. Skala produksi ini menjadikan pementasan tersebut salah satu proyek seni pertunjukan terbesar yang pernah dihasilkan oleh institusi pendidikan seni di lingkungan pemerintah daerah DKI Jakarta.

Marulina menambahkan bahwa pemilihan kisah Putri Lopian bukan tanpa alasan. Narasi tersebut membawa pesan tentang keberanian, kesetiaan, dan pengorbanan — nilai-nilai yang relevan bagi generasi muda yang sedang membentuk identitasnya di tengah kota metropolitan.

“Kisahnya adalah kisah seorang anak yang memilih berdiri di sisi keluarganya dan rakyatnya, membela rakyat dari perjuangan melawan Belanda. Kisah seorang perempuan muda yang menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk kekuatan besar.”

Implikasi untuk Peringatan 500 Tahun

Gagasan Rano untuk mengangkat peristiwa 1740 ke panggung teater menempatkan seni pertunjukan sebagai instrumen utama dalam narasi peringatan 500 tahun Jakarta. Alih-alih menjadikan hari jadi kota sebagai perayaan semata, pendekatan ini mengajak publik untuk menengok kembali lapisan-lapisan sejarah yang membentuk kota — termasuk kekerasan, migrasi, dan perlawanan. Jika berhasil diwujudkan pada 2027, pementasan tersebut akan menjadi salah satu upaya paling ambisius dalam sejarah peringatan hari jadi kota di Indonesia, sekaligus menegaskan peran Taman Ismail Marzuki sebagai ruang di mana masa lalu dan masa depan Jakarta bertemu di atas satu panggung.

Frequently Asked Questions

What is Jakarta 500 Tahun Rano Usul Peristiwa 1740?

Jakarta 500 Tahun Rano Usul Peristiwa 1740 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Jakarta 500 Tahun Rano Usul Peristiwa 1740 matter?

Jakarta 500 Tahun Rano Usul Peristiwa 1740 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment