Historic Moment: Perempuan Bali Tewas Akibat Rabies Setelah Digigit Kucing
Historic Moment – Perempuan berusia 38 tahun yang tinggal di Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, meninggal setelah didiagnosis menderita rabies. Kejadian ini menimbulkan perhatian publik karena menunjukkan bagaimana rabies bisa mengancam nyawa manusia secara tiba-tiba, bahkan setelah terkena gigitan hewan peliharaan yang sehari-hari dianggap aman. NKS, inisial korban, dibawa ke Rumah Sakit Umum Negara (RSU) Negara pada Sabtu, 23 Mei 2026, sekitar pukul 18.42 WITA, setelah mengalami gejala seperti takut air, sesak napas, dan rasa gelisah ketika terkena angin.
Kasus yang Membawa Perubahan Signifikan
Historic Moment – Penyakit rabies, yang biasanya terjadi setelah gigitan hewan pembawa virus, justru menjadi penyebab kematian NKS. Menurut dr Gusti Ngurah Putu Adnyana, Kepala Bidang Pelayanan Medik RSU Negara, kondisi pasien memburuk secara cepat. “Pasien datang dengan keluhan takut air, gelisah saat terkena angin, serta sesak napas sejak satu hari sebelumnya,” kata Adnyana, Jumat, 5 Juni 2026. Gejala-gejala ini menunjukkan bahwa NKS telah mencapai tahap akut penyakit, yang berpotensi mengakibatkan kematian dalam waktu singkat.
Historic Moment – Pada hari kedua pemeriksaan, tim medis menemukan tanda-tanda ensefalitis, yaitu peradangan otak, yang menjadi salah satu gejala khas rabies. Laporan menyebutkan bahwa NKS pernah digigit kucing sekitar satu bulan sebelum dirawat. Namun, luka tersebut tidak diberi perawatan dan juga tidak diberi vaksin antirabies. Keterlambatan ini kemungkinan besar menjadi penyebab kematian, karena rabies bisa berkembang tanpa pengobatan tepat waktu.
Proses Diagnosis dan Perawatan
Historic Moment – Setelah masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSU Negara, NKS segera diberi tindakan medis. Dokter mengatakan bahwa pasien mengalami gejala neurologis yang semakin memburuk, seperti kejang dan kebingungan. “Pasien dinyatakan meninggal pada pukul 03:46 WITA setelah upaya penyelamatan jiwa yang dilakukan tim medis,” tambah Adnyana. Kematian NKS menjadi bukti betapa pentingnya tindakan cepat dalam menghadapi rabies.
Historic Moment – Dokter mengingatkan bahwa rabies adalah penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi. “Gejala awal seperti kesulitan bernapas dan takut terhadap air bisa menjadi tanda bahaya jika tidak segera diatasi,” ujar Adnyana. Kasus ini juga menegaskan bahwa gigitan kucing, meski terlihat kecil, bisa menjadi awal dari penyakit mematikan ini. Karena itu, pencegahan menjadi kunci utama.
Historic Moment – Keluarga NKS menyebutkan bahwa mereka tidak menyadari bahaya gigitan kucing tersebut. “Kami tidak tahu bahwa gigitan bisa menyebabkan rabies,” kata salah seorang anggota keluarga. Mereka mengakui bahwa luka pada tangan korban tidak diperhatikan dengan serius, sehingga vaksin rabies tidak diberikan. Kasus ini juga menjadi contoh bagaimana kesadaran masyarakat terhadap penyakit menular ini masih rendah.
Historic Moment – Dokter menyebutkan bahwa rabies bisa menyebar melalui saliva hewan yang terinfeksi, terutama melalui gigitan. Penyebaran virus ini bisa terjadi dalam waktu 10 hingga 20 hari setelah kontak dengan hewan pembawa penyakit. “Jika korban langsung mendapat vaksinasi, kondisinya bisa berbeda,” jelas Adnyana. Hal ini menegaskan bahwa warga Jembrana perlu lebih waspada terhadap hewan peliharaan yang mungkin membawa virus.
Historic Moment – Kematian NKS menjadi peringatan bagi masyarakat di Bali, khususnya Jembrana, untuk segera memeriksa luka gigitan dan memastikan vaksin rabies diberikan. Dokter juga menyarankan bahwa vaksinasi wajib dilakukan setelah terkena gigitan hewan, terlepas dari apakah luka terlihat serius atau tidak. “Sekitar 60% dari kasus rabies berakhir fatal karena keterlambatan pengobatan,” tegas Adnyana. Kejadian ini dianggap sebagai historic moment penting dalam kesadaran kesehatan publik.
