Banjir di Kendari: Ratusan Rumah Terendam, 2.985 Warga Terdampak
Penyebab dan Perkembangan Banjir di Kendari
Banjir di Kendari yang terjadi pada akhir Mei 2026 menimbulkan dampak signifikan terhadap warga Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari mengungkapkan bahwa lebih dari 600 unit rumah tergenang air dan sekitar 2.985 penduduk terkena dampak bencana alam ini. Menurut Kepala BPBD Kota Kendari, Cornelius Padang, banjir mengenai 15 titik lokasi, termasuk permukiman, jalan kota, dan area pertanian. Banjir di Kendari berawal dari curah hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut selama tiga hari berturut-turut, menyebabkan aliran sungai meluap dan merendam sejumlah permukiman. Peristiwa ini menimbulkan keresahan di antara masyarakat setempat, dengan banyak orang terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
“Banjir di Kendari terjadi karena hujan deras yang melanda daerah tersebut selama beberapa hari. Kami sedang berupaya menangani dampaknya dengan cepat,” ujar Cornelius Padang.
Bencana alam ini mengakibatkan kondisi kritis di beberapa titik, terutama di daerah yang terletak di dataran rendah. Dalam laporan terbaru, wilayah Kelurahan Kambu menjadi salah satu lokasi paling parah, dengan 100 rumah di Jalan Mangkeray dan 76 bangunan di Jalan Hidayatullah yang terendam. Di Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga, banjir menghancurkan 153 unit rumah di lima wilayah RT, sementara 23 rumah di RT 7, RT 8, dan RT 19 juga terkena dampak serupa. Banjir di Kendari tidak hanya mengenai permukiman, tetapi juga mengganggu aktivitas sehari-hari warga, termasuk akses ke fasilitas umum seperti sekolah dan pasar.
Kerusakan Infrastruktur dan Lingkungan
Pelaksanaan banjir di Kendari mengakibatkan kerusakan infrastruktur yang signifikan. Selain merusak rumah-rumah warga, banjir juga menyebabkan beberapa jalan kota tergenang air hingga setinggi satu meter. Akibatnya, akses transportasi terganggu, dan sejumlah kendaraan terjebak di tengah air. Di Kelurahan Poasia, 109 rumah di Jalan Kedondong dan Jalan Kampung Baru terkena banjir, sementara di Kelurahan Wua-Wua, puluhan bangunan di Jalan La Ode Hadi dan Lorong Veteran mengalami kerusakan. Banjir di Kendari juga merendam lahan pertanian sawah seluas 50 hektare, mengancam pasokan pangan lokal dan memicu kekhawatiran akan kekurangan bahan makanan.
“Selain dampak pada rumah warga, banjir di Kendari juga merusak jaringan infrastruktur dan lingkungan hidup. Kami sedang mengevaluasi kerusakan dan menyiapkan langkah rehabilitasi,” tutur Cornelius Padang.
Menurut laporan BPBD, banjir di Kendari berdampak pada sejumlah kecamatan, termasuk Kecamatan Kadia dan Abeli. Di Kecamatan Kadia, beberapa titik permukiman tergenang, sementara di Kecamatan Abeli, tiga area terkena air deras. Banjir di Kendari menyebabkan kekacauan di sejumlah desa, dengan warga terpaksa mengungsikan barang-barang pribadi dan hewan peliharaan. Dalam beberapa area, air banjir mengalir deras ke dalam ruangan, menghancurkan furnitur dan peralatan rumah tangga. BPBD Kota Kendari menyatakan bahwa pihaknya terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memberikan bantuan darurat.
Upaya Mitigasi dan Dukungan Warga
Pasca banjir di Kendari, BPBD Kota Kendari mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, namun meningkatkan kesiapsiagaan guna mendukung upaya mitigasi bencana. “Warga diminta menjaga ketenangan dan siapkan langkah-langkah antisipasi, seperti menyimpan barang-barang penting di tempat tinggi,” kata Cornelius Padang. Selain itu, pemerintah setempat berupaya mengorganisir penampungan warga yang terdampak, dengan menyiapkan tenda dan makanan ringan di beberapa titik. Banjir di Kendari juga mendorong masyarakat berpartisipasi aktif dalam evakuasi, seperti membantu mengangkat peralatan rumah tangga dan menyiapkan tempat tinggal sementara.
“Banjir di Kendari memperlihatkan pentingnya persiapan dan respons cepat. Kami berharap masyarakat bisa berkoordinasi dengan pihak BPBD untuk mengurangi risiko serupa di masa depan,” tambah Cornelius Padang.
Kerja sama antara pemerintah daerah, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat setempat menjadi kunci dalam menangani bencana ini. BPBD Kota Kendari bekerja sama dengan relawan dan badan-badan penanggulangan bencana nasional untuk mengevakuasi warga yang terjebak di daerah terendam. Banjir di Kendari juga memicu kegiatan pembersihan di beberapa titik, termasuk mengangkat sampah dan mengeringkan permukiman. Pihak berwenang sedang mengumpulkan data lebih lanjut untuk menilai tingkat kerusakan dan memperkirakan biaya pemulihan. Dengan memperkuat sistem peringatan dini dan drainase, diharapkan banjir di Kendari bisa diminimalkan pada tahun depan.
Sebagai warga Kota Kendari, banyak dari mereka merasa terdampak secara langsung oleh banjir. Banyak orang menyatakan bahwa banjir di Kendari adalah salah satu bencana terparah dalam beberapa tahun terakhir. “Banjir di Kendari membuat kami kehilangan segalanya, termasuk barang-barang dan ternak,” ujar salah satu warga yang tinggal di daerah terdampak. Meski demikian, warga juga menunjukkan semangat kerja sama, dengan saling bantu mengumpulkan bantuan dan membangun kembali rumah-rumah mereka. Banjir di Kendari memperlihatkan betapa pentingnya kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana alam dan peran aktif dalam mitigasi.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi dampak banjir di Kendari. Pemerintah daerah menyalurkan bantuan berupa makanan, tenda, dan alat pembersihan. BPBD Kota Kendari juga bekerja sama dengan pihak swasta untuk mempercepat proses pemulihan. Banjir di Kendari tidak hanya menjadi peringatan akan ancaman cuaca ekstrem, tetapi juga mengingatkan pentingnya perencanaan tata kota yang baik. Dengan memperbaiki sistem drainase dan menambahkan jalur evakuasi, Kota Kendari bisa mengurangi risiko banjir di masa depan. Pemulihan pasca-banjir di Kendari menjadi prioritas, dengan harapan warga bisa kembali beraktivitas normal dalam waktu dekat.