Purbaya Bantah Rupiah Melemah karena Kebijakan Fiskal yang Dianggap Ugal-ugalan
Key Strategy – Dalam upayanya memperkuat kebijakan fiskal, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bukan disebabkan oleh kebijakan yang dianggap tidak terkendali. Pernyataan ini muncul dalam wawancara di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Rabu (3/6), di mana ia menjelaskan bahwa anggaran pemerintah kini lebih stabil dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dalam hal pendapatan pajak.
Kebijakan Pajak yang Membawa Peningkatan
“Banyak pihak menganggap pelemahan rupiah disebabkan oleh kebijakan fiskal yang tidak terkendali. Padahal, kondisi anggaran kita justru lebih baik dibandingkan periode lalu,” ujar Purbaya. Ia menekankan bahwa reformasi di bidang pajak telah menciptakan peningkatan signifikan dalam pendapatan negara, yang menjadi bagian dari key strategy untuk menjaga kesehatan ekonomi.
Menurut Purbaya, key strategy pemerintah mencakup upaya memperbaiki sistem keuangan dan mengurangi defisit anggaran. “Kita tidak hanya fokus pada pengelolaan pajak, tapi juga pada peningkatan efisiensi penggunaan dana negara,” tambahnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan fiskal saat ini tidak lagi bersifat acak, melainkan berlandaskan perencanaan yang terstruktur.
Peran Bank Indonesia dalam Stabilisasi Kurs
Sebagai bagian dari key strategy nasional, Purbaya mempercayakan urusan stabilisasi nilai tukar rupiah kepada Bank Indonesia. “Masalah kurs dikelola oleh bank sentral, jadi kita fokus pada perkuatan fondasi ekonomi,” jelasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi kerja sama antara Kementerian Keuangan dan BI dalam menjaga keseimbangan ekonomi.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian dalam key strategy adalah kebijakan moneter yang dijalankan BI. Purbaya menyebutkan bahwa meski terjadi pelemahan kurs, langkah-langkah BI seperti penyesuaian suku bunga dan intervensi pasar telah membantu mencegah kondisi yang lebih parah. “Kita tidak memaksa BI melakukan tindakan ekstrem, tapi menjaga komunikasi yang baik untuk mendukung stabilitas,” tambahnya.
“Ada yang menyebut pemerintah meminta bank-bank melakukan stress test dengan asumsi rupiah mencapai Rp18 ribu per dolar. Tapi, itu tidak benar. Saya tidak pernah memberi instruksi seperti itu,” tegas Purbaya. Ia menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika pasar internasional, seperti fluktuasi harga minyak atau kebijakan keuangan negara lain.
Menurut Purbaya, key strategy pemerintah juga mencakup pengawasan terhadap inflasi dan peningkatan daya beli masyarakat. “Kita mengantisipasi berbagai risiko dengan memperkuat kebijakan yang saling melengkapi, baik dari sisi fiskal maupun moneter,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah terus memantau dampak kebijakan terhadap kestabilan ekonomi, termasuk dampak terhadap pertumbuhan ekspor dan investasi.
Nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp17.966 per dolar AS pada hari perdagangan Rabu (3/6), mengalami pelemahan 128 poin atau 0,71 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Meski terjadi penurunan, Purbaya yakin bahwa dengan key strategy yang tepat, rupiah masih memiliki potensi untuk pulih dalam jangka pendek.
