KPK Sebut Nilai Pemerasan Silmy Karim Cs Capai Ratusan Miliar
Penyelidikan KPK Terbongkar Skema Pemerasan dalam Pelayanan Keimigrasian
KPK Sebut Nilai Pemerasan Silmy Karim – KPK menyebut nilai pemerasan yang dilakukan Silmy Karim bersama rekan-rekannya mencapai ratusan miliar rupiah, berdasarkan hasil Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan di Jakarta Barat pada 2-3 Juni 2026. Kasus ini terungkap setelah penyidik menemukan bukti-bukti kuat terkait praktik korupsi yang terjadi dalam pengurusan dokumen keimigrasian, khususnya izin tinggal bagi warga asing. Menurut Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, total dana yang diperoleh melalui skema pemerasan ini tercatat dalam angka besar, namun detail lengkapnya masih dalam penyelidikan.
“Nilai pemerasan yang diperkirakan mencapai ratusan miliar, terutama dalam pelayanan keimigrasian dan penerimaan uang dari pihak-pihak yang membutuhkan izin tinggal,” jelas Budi Prasetyo kepada wartawan pada Kamis (4/6).
Penyidikan KPK menunjukkan bahwa Silmy Karim dan tujuh pejabat Imigrasi lainnya terlibat dalam tindak pidana korupsi serta gratifikasi. Tersangka-tersangka ini diduga menjalankan skema pemerasan dengan memanfaatkan posisi mereka dalam proses penerbitan dokumen. Penyidik juga masih menyelidiki bagaimana dana tersebut dialirkan dan berapa besar kontribusi masing-masing individu. Kasus ini menjadi salah satu contoh korupsi yang memperlihatkan keterlibatan pejabat di lingkungan pemerintahan dalam praktik penyimpangan.
Dalam OTT ini, KPK menetapkan Silmy Karim sebagai tersangka utama, disertai tujuh pejabat Imigrasi yang terlibat langsung. Tersangka-tersangka tersebut meliputi eks Plt Dirjen Imigrasi Saffar Muhammad Godam, Kepala Kantor Wilayah Jawa Barat Jaya Saputra, serta beberapa staf di Direktorat Izin Tinggal seperti Tessar Bayu Setyaji, Bagus Bramantyo, Ronald Arman Abdullah, Juniadi Sri Priambudi, dan Gusti Benardiansyah. Semua pihak ini diduga memberikan fasilitas khusus kepada pihak-pihak tertentu dalam menukar dana yang besar.
Barang Bukti yang Disita Termasuk Dana Kecil dan Kebutuhan Pribadi Tersangka
KPK menyita sejumlah barang bukti selama operasi yang terbongkar, antara lain empat mobil, sembilan sepeda motor, dan tujuh sepeda. Selain itu, ditemukan valas seperti dolar Singapura dan dolar Amerika Serikat, serta logam mulia berupa emas. Barang-barang ini diduga digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi atau sebagai alat pengaturan dalam skema pemerasan.
KPK Sebut Nilai Pemerasan Silmy Karim cs tidak hanya terbatas pada dana tunai, tetapi juga mencakup barang-barang yang dianggap memiliki nilai ekonomi tinggi. Penyidik sedang mengungkap alur penggunaan dana tersebut, termasuk apakah ada rekening rahasia atau bentuk investasi yang disisipkan. Perkembangan kasus ini juga menyoroti kebijakan pemerintah dalam pengawasan pengurusan izin tinggal bagi warga asing.
Kasus pemerasan Silmy Karim cs memberikan dampak signifikan terhadap citra KPK dan instansi terkait. Berdasarkan data yang dihimpun, kasus ini menjadi salah satu dari beberapa investigasi besar yang dilakukan lembaga antikorupsi itu. KPK Sebut Nilai Pemerasan Silmy Karim cs mencapai ratusan miliar juga menunjukkan bahwa korupsi dalam sektor imigrasi masih menjadi sorotan utama. Penyidikan ini diharapkan mampu mengungkap korupsi yang lebih luas, terutama dalam proses pengurusan dokumen.
