Berita Hukum Kriminal

Kematian Eks Istri Polisi Medan, Dokter Jelaskan Asal-usul Luka Lebam

Foto : James Hernandez - kabarberita911.com
Table of Contents
  1. Penjelasan Medis Mengenai Luka Lebam pada Eks Istri Polisi Medan yang Tewas
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Penjelasan Medis Mengenai Luka Lebam pada Eks Istri Polisi Medan yang Tewas

Kabarberita911.com – Kasus kematian L, mantan istri Bripda IH dari Polsek Medan Sunggal, telah menarik perhatian publik. Jenazah korban ditemukan di sebuah rumah di Kompleks Bumi Asri, Medan, Sumatera Utara, dengan luka tembak di kepalanya. Awalnya, keluarga menduga korban mengakhiri hidupnya sendiri dengan senjata api. Namun, keberadaan luka lebam di tubuh korban membuat mereka mempertanyakan apakah L sempat mengalami penganiayaan sebelum meninggal.

Jenis Luka Tembak dan Trajektori Peluru

dr Mistar Ritonga, Dokter Forensik RS Bhayangkara Medan, memberikan klarifikasi mengenai hasil pemeriksaan korban. Menurut dokter tersebut, luka yang ditemukan merupakan luka tembak tempel. Senjata api ditempelkan langsung ke kepala korban saat tembakan terjadi.

“Berdasarkan keilmuan yang kami miliki dan hasil pemeriksaan langsung terhadap korban, kami menemukan ciri-ciri luka tembak tempel. Artinya senjata memang ditempelkan tepat pada kepala atau kulit korban saat ditembakkan,” kata Mistar di Polrestabes Medan, Kamis (6/8).

Keluarga sempat meragukan mengapa proyektil tidak menembus kepala korban sepenuhnya. Dokter menjelaskan bahwa kondisi ini sangat mungkin terjadi secara medis. Kecepatan peluru dapat berkurang karena berbagai faktor, termasuk ketika proyektil melewati bagian tubuh yang keras seperti tulang tengkorak.

“Untuk kecepatan anak peluru itu kan banyak faktor yang mempengaruhi. Jadi kalau dia bergerak, kalau misalnya dia ada bias ataupun gesekan-gesekan ke benda lain, tentu kecepatannya itu akan melambat. Jadi kalau pada kasus ini kelihatannya itu, itu kan dia melalui beberapa yang keras, tulang,” jelasnya.

Menurut dr Mistar, peluru masuk dari sebelah kanan dan menelusuri dasar tengkorak hingga menyebabkan retakan. Setelah itu, proyektil menembus ke sebelah kiri namun tenaganya sudah habis sehingga terhenti di bawah kulit.

“Dari luka tembak masuk yang di sebelah kanan ya, itu malah dia menelusuri dasar tengkorak kepalanya itu, sampai retak malah. Baru dia menembus ke sebelah kiri. Jadi tenaganya itu sudah apa, tidak kuat lagi untuk menembus, jadi dia terhenti di bawah kulit,” sambung Mistar.

Tidak Ada Tanda Penganiayaan

Dokter forensik tersebut juga menepis dugaan penganiayaan yang disampaikan keluarga. Selama proses pemeriksaan luar maupun autopsi, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.

“Kebetulan berdasarkan hasil pemeriksaan saya dari awal sampai mulai itu, saya tidak ada melihat atau menjumpai tanda-tanda kekerasan pada waktu itu. Hanya yang saya jumpai di situ tuh bekas bekas sayatan ya di tangan, bekas luka yang lama warna cokelat, di tangan sebelah kiri bagian dalam, bagian depan,” urainya.

Beberapa bekas luka lama berwarna cokelat ditemukan di tangan kiri korban, namun ini bukan akibat kekerasan baru. Selain itu, dr Mistar membantah adanya luka cekikan di leher korban yang dicurigai keluarga.

“Kalau bekas cekikan waktu kita lakukan pemeriksaan saat itu tidak ada. Kalaupun mungkin ada perubahan-perubahan yang timbul itu biasanya secara pembusukan misalnya seperti lebam mayat. Biru dia, biru,” sebutnya.

Penjelasan Medis Mengenai Lebam pada Mata dan Tubuh

Kondisi mata kiri korban yang tampak lebam juga mendapat penjelasan medis. dr Mistar memastikan hal tersebut bukan disebabkan pukulan atau kekerasan dari luar. Lebam terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di dasar tengkorak yang terdampak jalur peluru.

“Ya itu tadi, karena pecahnya akibat lukanya pembuluh darah yang di dasar tengkorak itu, pecah dia, namanya sirkulus Willisii. Jadi memang mungkin kalau orang awam kurang ngerti. Kalau itu pecah dia, pasti ini terjadi penumpukan apa, pembendungan darah di kelopak matanya. Makanya disebut juga hematom kacamata. Dan itu bukan karena kekerasan dari luar, karena pecahnya pembuluh darah tadi,” sebutnya.

Sedangkan warna kebiruan yang terlihat di sejumlah bagian tubuh lainnya, menurut dokter tersebut, merupakan lebam mayat. Ini adalah proses alami yang terjadi setelah seseorang meninggal dunia.

“Jadi makanya waktu pada pemeriksaan luar dia tidak dijumpai adanya tanda-tanda kekerasan. Sama juga dengan lebam mayat, kan biru juga dia. Biru juga dia itu, kan itu prinsipnya sama-sama penumpukan darah yang terlihat dari luar,” ucapnya.

Jahitan pada Leher Korban

Terakhir, dr Mistar menjelaskan adanya jahitan pada bagian leher korban yang sempat menimbulkan pertanyaan dari pihak keluarga. Jahitan tersebut merupakan bagian dari prosedur autopsi lengkap yang dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian secara menyeluruh.

“Kalau yang dijahit itu ya, itu kan waktu kita melakukan autopsi kan pasti dibuka juga lehernya. Karena kita meng-autopsinya itu kan yang secara lengkap. Bukan hanya leher, kepala juga. Itu kan dari apa, kita buka itu kita insisi sampai ke ini, ke symphysis namanya, sampai ke perut bawah. Sesudah itu, sesudah kita keluarkan organ, sudah kita periksa semua itu ini, kita jahit kembali. Di kepala pun pasti ada jahitannya. Karena itu tengkorak kepalanya semua itu kita buka,” kata Mistar.

Dengan penjelasan komprehensif ini, dr Mistar Ritonga berhasil memberikan kepastian medis mengenai kondisi korban, sekaligus menjawab berbagai keraguan yang muncul dari keluarga dan masyarakat.

Frequently Asked Questions

What is Kematian Eks Istri Polisi Medan Dokter?

Kematian Eks Istri Polisi Medan Dokter is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kematian Eks Istri Polisi Medan Dokter matter?

Kematian Eks Istri Polisi Medan Dokter matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment