Berita Hukum Kriminal

Balita Tewas Dibunuh Paman Diduga ODGJ di Bekasi

Balita Tewas Dibunuh Paman Diduga ODGJ di Bekasi

Balita Tewas Dibunuh Paman Diduga ODGJ – Seorang balita yang meninggal dunia akibat dibunuh oleh paman yang diduga mengalami gangguan jiwa ditemukan di Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Rabu (27/5). Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, mengungkapkan bahwa korban, seorang balita berusia dua tahun, tinggal bersama neneknya, M, dan paman korban, G (18), yang diduga memiliki gangguan mental. Balita ini telah diasuh oleh neneknya sejak lahir, dengan pengasuhan yang berlangsung intensif selama dua minggu pertama kehidupannya.

Korban ditemukan dalam kondisi terluka berat dengan belasan luka tusuk dan luka sayatan di wajah serta tubuh. Nenek korban, yang berprofesi sebagai penjual bahan kue, mengatakan bahwa ia menemukan jasad anaknya pada malam hari, sekitar pukul 22.00 WIB, setelah kembali dari bekerja. “Saya mencoba membuka kunci kontrakan, tapi pintu terkunci. Setelah bisa membuka dengan kunci cadangan, saya melihat korban anak A dan SG tergeletak dengan tubuh penuh darah,” jelas M, sambil menyebutkan bahwa SG, yang kemungkinan bersaudara dengan korban, terluka parah hingga hampir bunuh diri.

“Tapi kaget, saya langsung cuci pisaunya karena terkejut dan refleks,” imbuh M, yang ditemani oleh polisi saat memberikan keterangan di rumah sakit.

Menurut Andi, pembunuhan terjadi di kontrakan yang hanya memiliki satu unit kamar dan dapur. Paman korban, G, yang diduga ODGJ, ditemukan terluka di dada dan pipi. Meski kondisi kritis, ia masih dapat menjawab pertanyaan selama pemeriksaan. “Kita masih menunggu dia pulih agar bisa diberi keterangan. Hingga saat ini, G terduga sebagai pelaku utama,” tambah Andi, menambahkan bahwa korban mengalami luka tusukan di kepala, wajah, dan tubuh, termasuk sayatan di pipi yang membuat mulutnya terbuka.

Proses Investigasi dan Temuan Bukti

Polisi menyatakan bahwa investigasi sedang berlangsung untuk memastikan motif dan kejadian pembunuhan. Selain luka fisik, mereka juga menemukan bukti-bukti seperti pisau yang ditemukan dekat jasad korban. “Pisau itu sempat diambil oleh nenek korban, tapi dia langsung mencucinya karena kejut. Kita masih menyelidiki apakah pisau tersebut terlibat langsung dalam pembunuhan,” ujar Andi, menekankan bahwa pembunuhan terjadi dalam lingkungan kontrakan yang sempit.

“Kami sedang memeriksa riwayat medis paman korban, termasuk penggunaan obat dan riwayat gangguan kejiwaan. Nenek korban mengatakan bahwa G tidak mengonsumsi obat selama dua hari terakhir karena tidak ada uang untuk membelinya,” kata Andi, menambahkan bahwa kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan anak-anak yang masih sangat muda.

Pelaku dan korban dikenal memiliki hubungan dekat sebelum kejadian. G, yang tinggal di kontrakan bersama nenek korban, diperkirakan melakukan aksi pembunuhan sendirian. Polisi juga memastikan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan dari luar, sehingga memperkuat dugaan bahwa G adalah pelaku utama. “Kita belum menemukan bukti bahwa ada orang lain yang terlibat,” pungkas Andi.

Kondisi Sosial dan Lingkungan

Kasus ini memicu perhatian warga sekitar kontrakan. Neighbors mengatakan bahwa G sering terlihat memperlihatkan emosi yang tidak stabil, terutama di sekitar rumah nenek korban. “Dia sering menghardik anak-anak, tapi tidak ada yang tahu dia mengalami gangguan mental,” kata salah satu warga yang enggan disebutkan nama.

“Tapi dari keterangan nenek, G memang pernah dibawa ke psikiater untuk penanganan gangguan kejiwaan. Mungkin karena stres atau kelelahan, dia memutuskan melakukan tindakan kekerasan tersebut,” tambah warga lainnya.

Sementara itu, masyarakat setempat mengharapkan penanganan lebih lanjut terhadap ODGJ seperti G. Mereka berharap pihak berwenang bisa melakukan evaluasi lebih jauh tentang kondisi mental pelaku sebelum kejadian. “Balita ini adalah korban yang tidak bersalah, jadi kita berharap ada tindakan tegas untuk melindungi anak-anak dari orang-orang yang memiliki gangguan mental,” imbuh seorang aktivis lokal.

Berita ini menjadi peringatan bagi warga yang tinggal bersama ODGJ. Kasat Reskrim mengimbau untuk terus mengawasi kondisi psikologis orang dewasa yang memiliki gangguan jiwa, terutama jika mereka tinggal bersama anak-anak. “Kita juga meminta warga melaporkan jika ada orang dengan tanda-tanda ODGJ yang berpotensi melakukan kekerasan,” katanya, menegaskan bahwa kasus ini akan menjadi perhatian khusus hingga selesai.

“Sejak kejadian, warga sekitar meminta penjelasan lebih lanjut dari polisi. Mereka juga berharap ada penyelidikan lebih dalam untuk mengetahui apakah ada faktor lain yang memicu aksi paman korban tersebut,” tutup M, yang masih terdampak oleh kejadian tersebut.

Leave a Comment