Mark Ruffalo: Hollywood Takut Tolak Merger Warner Bros-Paramount
Meeting Results – Aktor Marvel Mark Ruffalo, bersama Matt Stoller dari American Economic Liberties Project, mengungkapkan dalam surat terbuka yang diterbitkan di The New York Times bahwa sejumlah besar tokoh Hollywood enggan menandatangani petisi menentang merger antara Warner Bros. Discovery (WBD) dan Paramount. Menurut mereka, kekhawatiran para peserta lebih dominan daripada perbedaan pendapat dalam menyuarakan penolakan ini.
Surat Terbuka yang Menjadi Sorotan
Surat terbuka tersebut mulai menjadi perbincangan hangat di media sejak April 2026, seperti yang dilaporkan Variety. Hingga saat ini, lebih dari 4.000 tanda tangan telah dikumpulkan dari kalangan artis, produser, dan sutradara ternama, termasuk Florence Pugh, Pedro Pascal, Edward Norton, serta pengarang film seperti Yorgos Lanthimos dan Sofia Coppola. Ruffalo dan Stoller menekankan bahwa ketakutan para peserta menjadi alasan utama di balik penolakan mereka.
“Yang paling menarik dari surat ini bukanlah siapa yang menandatangani, tetapi siapa yang tidak menandatangani. Mereka tidak menolak karena berbeda pendapat, melainkan karena takut,” tulis Ruffalo dan Stoller.
Keduanya mengungkapkan bahwa banyak seniman yang diminta menandatangani surat merasa cemas akan konsekuensi yang mungkin terjadi. Ruffalo menjelaskan bahwa kekhawatiran tersebut melibatkan ketergantungan pada studio besar, risiko kehilangan kreativitas, dan potensi dominasi pasar yang terlalu kuat. “Ketakutan mereka bukanlah tanpa dasar,” tambahnya.
Pengaruh Tekanan pada Industri Kreatif
Merkel merger ini juga menimbulkan efek domino pada industri kreatif. Sebagai contoh, direktur editorial The Ankler, majalah kewartawan independen, dilaporkan mengalami tekanan ketika menghadiri acara menentang penggabungan. Menurut laporan, Paramount menyebutkan bahwa mereka menarik iklan dari media tersebut. Selain itu, Mark Ruffalo sendiri diberitakan ditolak menjadi tamu diskusi di acara CNN karena hubungannya dengan WBD.
“Produser mengatakan CNN memiliki pertimbangan hukum tentang apa yang bisa dan tidak bisa diliput selama merger berlangsung,” tulis keduanya.
Kelompok yang terdaftar di BlockTheMerger.com menyatakan bahwa merger ini akan menguatkan dominasi media terpusat, mengurangi persaingan, dan menghambat inovasi industri kreatif. Mereka memperkirakan bahwa jumlah studio film besar di Amerika Serikat akan berkurang menjadi empat setelah penggabungan selesai. Hal ini mencerminkan kekhawatiran bahwa industri film akan menjadi monopoli dengan kekuasaan yang terlalu besar.
Hasil Kemenangan bagi CEO Paramount
Merger Warner Bros. Discovery dan Paramount diumumkan secara resmi pada 27 Februari 2026, dengan nilai transaksi mencapai US$110 miliar atau sekitar Rp1.700 triliun. Kesepakatan ini dianggap sebagai kemenangan besar bagi David Ellison, CEO Paramount, setelah ia mampu mengatasi persaingan dengan Netflix. Netflix menarik diri dari proses tersebut setelah menolak tawaran yang lebih tinggi dari Ellison.
Sebagai bagian dari perjanjian, gabungan kedua perusahaan berkomitmen untuk memproduksi minimal 30 film bioskop setiap tahun, dengan 15 film per studio. Setiap film juga akan dirilis secara penuh di bioskop dengan jendela eksklusif minimal 45 hari sebelum tersedia di layanan streaming. Ruffalo dan Stoller menilai bahwa kondisi ini menunjukkan dampak merger monopoli yang menghambat kemampuan individu atau tim kreatif untuk memutuskan secara mandiri.
Perspektif Hollywood tentang Kekuasaan Global
Meeting Results menunjukkan bahwa Hollywood tidak hanya khawatir tentang kontrol internal, tetapi juga tentang pengaruh global merger ini. Beberapa anggota industri menyatakan kecemasan akan dominasi Warner Bros. Discovery di pasar internasional, terutama karena kemitraan dengan Netflix yang terbengkalai. Perusahaan yang menggabungkan WBD dan Paramount diharapkan akan menjadi pemain utama dalam industri film dan streaming, dengan pengaruh yang lebih besar dalam menentukan arah produksi.
Dalam surat terbuka, Ruffalo dan Stoller menggambarkan bagaimana merger ini mengubah dinamika kompetisi. Mereka menyoroti bahwa penolakan peserta tidak hanya berasal dari ketidakpuasan, tetapi juga dari rasa takut akan konsekuensi keuangan dan reputasi. “Hollywood tidak ingin kehilangan kemampuan untuk mengambil keputusan secara bebas,” tulis mereka, menambahkan bahwa perubahan struktur ini bisa memengaruhi kualitas dan kuantitas karya seni.
Menurut para kritikus, merger ini bisa menyebabkan peningkatan biaya produksi dan kurangnya kebebasan dalam membuat film. Sejumlah artis bahkan mengungkapkan bahwa mereka khawatir akan kehilangan pengaruh di platform media. “Pandangan ini menunjukkan bagaimana konsensus di Hollywood bukan hanya tentang film, tetapi juga tentang kontrol yang berada di tangan perusahaan besar,” kata Ruffalo dalam surat terbuka.