Mark Ruffalo Klaim Hollywood Takut Tolak Merger Warner Bros-Paramount
Key Discussion – Aktor Marvel Mark Ruffalo menyatakan bahwa sejumlah besar bintang dan figur Hollywood menolak menandatangani surat terbuka yang menentang merger antara Warner Bros. Discovery (WBD) dan Paramount. Dalam opini bersama direktur riset American Economic Liberties Project, Matt Stoller, mereka menyoroti ketakutan para seniman yang membuat mereka ragu untuk mengambil sikap terbuka terhadap rencana penggabungan dua perusahaan media raksasa tersebut.
Surat terbuka ini mulai beredar di bulan April dan kini telah dikumpulkan lebih dari 4.000 tanda tangan dari berbagai artis Hollywood, seperti Florence Pugh, Pedro Pascal, Edward Norton, serta sutradara ternama seperti Yorgos Lanthimos, Sofia Coppola, dan Denis Villeneuve. Dalam tulisan mereka, Ruffalo dan Stoller menekankan bahwa fokus utama dari surat tersebut bukanlah siapa yang menandatangani, tetapi siapa yang memilih untuk tidak ikut serta. Mereka menilai ketakutan menjadi faktor dominan yang membuat para kreator ragu untuk menyuarakan pendirian mereka.
“Hal yang paling mengungkapkan tentang surat ini bukanlah orang-orang yang menandatanganiinya. Melainkan orang-orang yang tidak menandatanganiinya. Bukan karena mereka tidak setuju, tetapi karena mereka takut,” tulis Ruffalo dan Stoller.
Menurut mereka, para seniman yang diminta menandatangani petisi sering kali menyatakan dukungan terhadap penolakan merger, tetapi merasa cemas akan konsekuensi yang mungkin terjadi. “Kami berulang kali mendengar dari para seniman, ketika diminta menandatangani surat ini, bahwa mereka mendukungnya tetapi takut akan pembalasan. Ketakutan mereka bukan tanpa alasan,” tambah Ruffalo.
Ketakutan tersebut terlihat jelas dalam respons yang diberikan oleh beberapa media dan produser. Misalnya, saat direktur editorial The Ankler, sebuah majalah perdagangan independen, hadir dalam acara yang mendukung pemblokiran merger, Paramount disebut menarik iklannya dari media itu. Hal ini menunjukkan tindakan represif yang dilakukan perusahaan terhadap pihak yang menentang rencana penggabungan.
Selain itu, Mark Ruffalo juga menjadi contoh ketika usulan untuk menjadi tamu diskusi di acara CNN ditolak oleh seorang produser. Produser tersebut memberi alasan bahwa CNN memiliki keterkaitan dengan WBD sebagai perusahaan induk. “CNN memiliki pertimbangan hukum tentang apa yang dapat dan tidak dapat diliput atau dikatakan selama merger berlangsung,” tambah Stoller.
Peristiwa-peristiwa ini menyoroti bagaimana kekuasaan besar di Hollywood dapat memengaruhi pengambilan keputusan para seniman. Ruffalo dan Stoller berargumen bahwa ketakutan ini menjadi bukti ketidakpercayaan terhadap struktur monopoli yang muncul dari merger. Mereka menekankan bahwa film-film dan acara TV yang diproduksi akan lebih terbatas, serta ruang bagi kreativitas para seniman semakin menyempit.
Menurut kelompok yang menentang merger, yang terdaftar di BlockTheMerger.com, penggabungan kedua entitas tersebut akan semakin mengkonsolidasikan lanskap media yang sudah sangat terpusat. Hal ini berpotensi mengurangi persaingan dalam industri hiburan, yang berdampak pada peluang kreator, jumlah lapangan kerja, biaya produksi, dan pilihan yang tersedia bagi penonton di seluruh dunia. Mereka menyoroti bahwa jumlah studio film besar AS akan berkurang hanya menjadi empat setelah merger selesai.
Pembelian Warner Bros. Discovery oleh Paramount
Warner Bros. Discovery (WBD) telah resmi menyetujui penjualan bisnisnya kepada Paramount dengan harga US$31 per saham. Transaksi ini bernilai total US$110 miliar atau sekitar Rp1.700 triliun, dan pengumuman resmi dikeluarkan pada 27 Februari 2026. Peristiwa ini dianggap sebagai kemenangan besar bagi CEO Paramount, David Ellison, setelah berbulan-bulan berkompetisi dengan tawaran dari Netflix yang sebelumnya ditolak WBD.
Dalam pembicaraan dengan Netflix, WBD menganggap tawaran Paramount lebih menarik karena memperlihatkan keuntungan yang lebih besar. Setelah menolak usulan Netflix, perusahaan streaming raksasa tersebut segera menarik diri dari persaingan. Tindakan ini memudahkan Paramount untuk menguasai salah satu studio terbesar di Hollywood.
Dalam kesepakatan yang ditandatangani, perusahaan gabungan WBD dan Paramount berkomitmen untuk memproduksi minimal 30 film bioskop setiap tahun, atau 15 film per studio. Mereka juga menjanjikan rilis bioskop penuh dengan jendela eksklusif minimal 45 hari di seluruh dunia sebelum film tersedia di layanan streaming. Kebijakan ini dikhawatirkan akan mengurangi fleksibilitas para kreator dan meningkatkan dominasi perusahaan besar.
Persaingan dan Dampak pada Industri
Ruffalo dan Stoller berpendapat bahwa merger ini akan memberikan keuntungan besar bagi para oligarki media, yang berusaha memperoleh kendali atas acara TV dan film. Mereka menilai bahwa industri hiburan sedang berada di ambang perubahan besar, dan kekuasaan yang terpusat akan menghambat inovasi serta perbedaan pendapat di kalangan seniman.
Ketika tidak terjebak di pinggir lapangan dan bersatu untuk melawan, kelompok penolak merger menilai bahwa mereka memiliki peluang untuk mengubah arah. “Tetapi koalisi kita yang berkembang menunjukkan bahwa ketika kita tidak tunduk pada keniscayaan dan mengambil tindakan, kita dapat menang,” tulis Ruffalo dan Stoller.
Mereka optimis bahwa kemenangan kecil ini bisa menjadi langkah awal untuk mengubah struktur industri. “Jika kita dapat mengalahkan para oligarki yang mencoba merebut kendali acara TV dan film kita, mungkin kita juga bisa melakukan hal serupa di tempat lain,” tambah Ruffalo. Pendapat ini menegaskan bahwa tindakan kolektif para seniman tetap menjadi faktor penting dalam memperjuangkan kebebasan ekspresi di Hollywood.
Dengan merger ini, industri hiburan menghadapi tantangan baru dalam menghadapi kekuasaan yang lebih terpusat. Banyak yang khawatir bahwa kebijakan seperti jendela eksklusif atau pembatasan rilis akan mengurangi kreativitas dan pilihan bagi penonton. Meski demikian, Ruffalo dan Stoller yakin bahwa ketika para seniman berani berbicara, industri bisa bergerak ke arah yang lebih adil.
Keberhasilan merger ini menunjukkan bahwa perusahaan besar siap memberikan tekanan terhadap pihak yang menentang. Namun, Ruffalo dan Stoller tetap yakin bahwa kekuatan kolektif para seniman akan menjadi penentu akhir. “Kita telah melihat apa yang terjadi ketika perusahaan monopoli mendapat keuntungan dari rasa takut yang membungkam perbedaan pendapat,” tulis mereka.
Dengan menolak untuk menandatangani petisi atau mengambil sikap terbuka, para seniman mencerminkan ketakutan yang mendalam terhadap kekuasaan. Namun, mereka juga menunjukkan bahwa ketika diberi peluang, konsensus bisa terbentuk. Maka, keberhasilan atau kegagalan merger ini akan menjadi cerminan bagaimana Hollywood memperjuangkan kebebasan dalam menghadapi dominasi ekonomi dan struktural.