Berita Energi

Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Trump Klaim Rusia-Ukraina Sepakat Damai

ilustrasi-kilang-minyak_169
Foto : Anthony Martinez - kabarberita911.com
Table of Contents
  1. Harapan Gencatan Senjata Energi Tekan Harga Minyak Dunia
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Harapan Gencatan Senjata Energi Tekan Harga Minyak Dunia

Kabarberita911.com – Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (12/10), setelah muncul sinyal bahwa risiko gangguan pasokan dari Rusia dapat berkurang. Pasar merespons klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Rusia dan Ukraina telah menyetujui penghentian serangan terhadap infrastruktur energi masing-masing.

Kontrak minyak Brent turun US$1,37 atau 1,31 persen menjadi US$103,35 per barel. Pada saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat terkoreksi US$1,30 atau 1,42 persen ke US$90,55 per barel.

Penurunan tersebut mencerminkan perubahan cepat dalam perhitungan pelaku pasar. Konflik yang menyeret fasilitas energi biasanya menimbulkan kekhawatiran terhadap produksi, pengiriman, dan ketersediaan minyak mentah. Karena itu, kemungkinan meredanya serangan terhadap aset energi Rusia dan Ukraina langsung dipandang sebagai faktor yang dapat mengurangi tekanan pada pasokan dalam waktu dekat.

Kesepakatan Belum Memiliki Rincian Lengkap

Trump mengumumkan kabar mengenai penghentian serangan energi itu secara mendadak pada Minggu (11/10). Pernyataan tersebut muncul tidak lama setelah AS dan Rusia meneken kesepakatan pasokan solar pada Jumat (9/10).

Namun, kepastian pelaksanaan kesepakatan Rusia-Ukraina masih menjadi perhatian. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan pihaknya masih menunggu rincian teknis dari pengaturan tersebut. Sementara itu, Rusia belum menyampaikan pernyataan resmi mengenai klaim perdamaian di sektor energi itu.

Kondisi ini membuat reaksi pasar cenderung berhati-hati. Harga minyak memang melemah, tetapi investor belum sepenuhnya menganggap ketegangan telah berakhir. Kejelasan mengenai mekanisme penghentian serangan, pihak yang akan memantau kesepakatan, serta daya tahannya akan menentukan seberapa jauh dampaknya terhadap harga energi global.

“Masih ada pertanyaan mengenai keabsahan dan keberlanjutan gencatan senjata semacam itu. Tanpa bukti yang lebih jelas bahwa kesepakatan benar-benar bertahan, ruang penurunan harga tampaknya masih terbatas,” ujar Analis Utama KCM Trade Tim Waterer.

Penilaian tersebut menggambarkan situasi pasar minyak yang masih dipenuhi faktor saling bertentangan. Di satu sisi, peluang tambahan pasokan Rusia dapat meredakan kekhawatiran. Di sisi lain, ancaman terhadap jalur distribusi minyak dan konflik bersenjata di Timur Tengah tetap menjadi penopang harga.

Ketegangan Timur Tengah Menahan Koreksi Brent

Brent dinilai masih berpeluang bertahan di atas US$100 per barel karena eskalasi geopolitik di Timur Tengah belum mereda. Kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan drone terhadap Bandara Internasional Riyadh pada Sabtu (10/10). Serangan itu menewaskan 13 orang dan menyebabkan lebih dari 300 orang mengalami luka-luka.

Arab Saudi kemudian melaporkan adanya serangan lanjutan di lokasi yang sama pada Minggu. Menanggapi rangkaian insiden tersebut, Trump membuka kemungkinan Amerika Serikat bergabung dengan militer Saudi untuk menyerang Houthi di Yaman.

Langkah itu berisiko memperlebar konflik regional yang telah memanas sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari. Bagi pasar minyak, perluasan konflik di kawasan penghasil dan pengirim minyak utama dapat memicu kekhawatiran baru, terutama bila keamanan fasilitas energi atau rute pelayaran terganggu.

Ancaman lain datang dari kawasan Teluk. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mencatat dua serangan baru terhadap kapal tanker pada akhir pekan, masing-masing di Selat Hormuz dan wilayah sekitar Pelabuhan Sohar, Oman. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi ekspor minyak Timur Tengah, sehingga setiap gangguan keamanan di area ini dapat meningkatkan biaya pengiriman serta memperbesar risiko keterlambatan pasokan.

Proyeksi Harga Desember Direvisi Naik

Dengan risiko geopolitik yang masih tinggi, Goldman Sachs menaikkan perkiraan harga Brent untuk Desember menjadi US$90 per barel. Angka tersebut lebih tinggi daripada proyeksi sebelumnya yang berada di US$85 per barel.

“Kami mempertahankan skenario dasar bahwa penyesuaian pasokan dari Timur Tengah pada akhirnya bakal menekan harga minyak mentah, meski potensi eskalasi baru tetap membayangi,” tulis tim analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven.

Proyeksi itu menunjukkan bahwa pasar masih melihat kemungkinan penyesuaian pasokan akan menekan harga pada akhirnya. Meski demikian, prospek tersebut dibayangi kemungkinan konflik baru dan gangguan distribusi minyak. Harga energi dapat berubah tajam ketika ada perkembangan keamanan di kawasan produsen utama atau di jalur pelayaran strategis.

Goldman Sachs juga memperkirakan WTI akan rata-rata berada di US$81 per barel pada Desember 2026, lalu turun menjadi US$73 per barel pada 2027. Selisih harga WTI yang lebih rendah dibandingkan Brent saat ini dikaitkan dengan meningkatnya biaya pengapalan dari Amerika Serikat menuju Eropa.

Pemulihan Produksi di Teluk Meksiko

Di tengah perhatian terhadap Rusia, Ukraina, dan Timur Tengah, industri energi di Teluk Meksiko juga mulai kembali beroperasi. Shell, Chevron, dan BP memulihkan produksi serta mengembalikan pekerja ke anjungan lepas pantai setelah Badai Isaias menerjang kawasan tersebut pada Sabtu (10/10) dini hari.

Pemulihan kegiatan di Teluk Meksiko menjadi salah satu elemen yang diperhatikan pasar karena produksi lepas pantai berperan dalam ketersediaan minyak AS. Kembalinya operasi secara bertahap dapat membantu mengurangi dampak gangguan sementara akibat cuaca buruk, meskipun pengaruhnya terhadap harga tetap bergantung pada perkembangan konflik dan kelancaran distribusi global.

Untuk saat ini, pasar minyak berada di antara harapan damai dan risiko eskalasi. Kabar penghentian serangan energi Rusia-Ukraina telah mendorong harga turun, tetapi ketidakpastian pelaksanaannya serta ancaman keamanan di Timur Tengah membuat ruang pelemahan minyak belum tentu terbuka lebar.

Frequently Asked Questions

What is Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Trump?

Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Trump is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Trump matter?

Harga Minyak Dunia Anjlok Usai Trump matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment