Berita Bisnis

Special Plan: Momentum Menata Ulang Akselerasi Ekonomi Syariah Meski Peringkat Turun

Special Plan: Akselerasi Ekonomi Syariah Indonesia Meski Peringkat Turun

Analisis Kinerja Ekonomi Syariah dalam Laporan SGIE 2025/2026

Special Plan menjadi sorotan utama dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi Syariah Indonesia, meski negara ini menempati posisi keempat di Global Islamic Economy Indicator (GIEI) dalam laporan SGIE 2025/2026. Peringkat tersebut turun dari posisi ketiga selama tiga tahun terakhir, dengan Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi menduduki tiga besar. Meski demikian, kinerja ekonomi Syariah Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, terutama dalam sektor modest fashion dan halal food yang menjadi peluang utama.

Perspektif Ekosistem Syariah Global

Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sutan Emir Hidayat, menekankan bahwa peringkat GIEI bukanlah satu-satunya parameter keberhasilan. Ia menjelaskan bahwa ekosistem Syariah global dinilai berdasarkan kebijakan, inovasi, investasi, serta kemampuan membangun rantai nilai halal yang terintegrasi. “Special Plan perlu menjadi pendorong utama untuk mengubah dinamika ini,” tambahnya.

KNEKS mengungkapkan bahwa kekuatan ekonomi Syariah Indonesia berada di bawah permukaan, dengan fokus pada transformasi dari pasar halal menjadi produsen halal dunia. Meski peringkat mengalami penurunan, pertumbuhan di sektor media dan rekreasi yang menempati peringkat ketiga menunjukkan kemajuan. “Indonesia harus memanfaatkan potensi ini untuk menciptakan perubahan struktural,” kata Sutan, yang menyoroti pentingnya integrasi antara sektor keuangan Syariah dan industri riil.

Strategi Akselerasi Ekonomi Syariah Melalui Special Plan

Special Plan dianggap sebagai momentum untuk mereformasi ekonomi Syariah Indonesia, dengan tiga fokus utama yang direncanakan. Pertama, penguatan hilirisasi industri halal yang diperlukan agar nilai tambah tercapai. Kedua, sinergi antara keuangan Syariah dan sektor-sektor lainnya, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ketiga, penguatan inovasi teknologi dan digitalisasi untuk meningkatkan daya saing global. “Special Plan harus menjadi panduan untuk transformasi ekosistem ini,” jelasnya.

Dalam konteks ini, KNEKS menekankan bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung pada regulasi, tetapi juga pada kerja sama lintas sektor. “Special Plan adalah instrumen yang mengintegrasikan kebijakan, investasi, dan partisipasi masyarakat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Syariah,” tambah Sutan. Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan dalam populasi Muslim terbesar di dunia, pasar domestik yang luas, serta sumber daya alam yang melimpah, yang bisa dimanfaatkan melalui strategi yang tepat.

Kolaborasi dan Partisipasi Masyarakat dalam Special Plan

Special Plan membutuhkan partisipasi aktif dari berbagai pihak, termasuk dunia usaha, lembaga keuangan Syariah, akademisi, pesantren, serta masyarakat luas. Menurut Sutan, keberhasilan ekonomi Syariah Indonesia tidak bisa tercapai hanya melalui upaya pemerintah, tetapi juga perlu didukung oleh sektor swasta dan komunitas halal. “Special Plan menggambarkan visi kolaboratif, di mana semua pemangku kepentingan bekerja bersama untuk menciptakan keunggulan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut laporan SGIE 2025/2026, sektor modest fashion Indonesia tetap menempati peringkat pertama dunia, sementara sektor halal food mengalami peningkatan ke posisi ketiga. “Special Plan harus memastikan pertumbuhan ini terus berlanjut, dengan dukungan infrastruktur dan kebijakan yang terpadu,” imbuh Sutan. Ia menyoroti bahwa Indonesia perlu meningkatkan daya saing global melalui inovasi produk dan layanan, serta ekspansi pasar internasional.

Dalam wawancara dengan CNN Indonesia, Sutan menjelaskan bahwa penurunan peringkat GIEI justru menjadi pelajaran penting. “Special Plan harus menjadi alat untuk merevisi strategi, meningkatkan responsivitas, dan memperkuat posisi Indonesia di panggung ekonomi Syariah global,” katanya. Ia menegaskan bahwa ekonomi Syariah Indonesia tidak hanya berfokus pada konsumsi halal, tetapi juga pada penguasaan rantai nilai ekonomi yang lengkap.

Leave a Comment