Permintaan Emas Global Kuartal I 2026 Naik 74 Persen, Tembus Rp3.000 T
Permintaan Emas Global Kuartal I 2026 mencapai puncak historis dengan nilai transaksi mencapai US$193 miliar atau setara Rp3.000 triliun, menurut laporan terbaru dari World Gold Council (WGC). Meski pertumbuhan jumlah permintaan hanya sekitar 2 persen secara tahunan (yoy), nilai transaksi emas global melonjak signifikan, mencerminkan dinamika pasar yang berubah karena berbagai faktor ekonomi dan geopoltik. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa emas tetap menjadi aset utama dalam portofolio investasi global, terutama di tengah ketidakstabilan pasar keuangan dan kekhawatiran inflasi.
Faktor Penyebab Peningkatan Permintaan Emas Global
Permintaan Emas Global Kuartal I 2026 meningkat 74 persen dibandingkan kuartal I 2025, berkat kebijakan moneter yang lebih ketat dan ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia. Shaokai Fan, Global Head of Central Banks di WGC, menjelaskan bahwa permintaan emas batangan dan koin meningkat 42 persen, mencapai 474 ton, terutama karena keinginan investor ritel untuk memperkuat portofolio mereka sebagai perlindungan terhadap risiko pasar. Di China, permintaan emas naik 67 persen menjadi 207 ton, mengungguli rekor tertinggi sebelumnya pada kuartal II 2013.
Permintaan Emas Global Kuartal I 2026 juga didorong oleh kebijakan stimulus ekonomi yang diterapkan beberapa negara, termasuk Indonesia. Di sini, permintaan emas batangan dan koin tumbuh 47 persen, sejalan dengan tren global. Sementara itu, pasar Asia lainnya seperti India dan Korea Selatan juga mengalami peningkatan belanja emas, meskipun laju pertumbuhan berbeda antarnegara. Faktor utama yang memengaruhi permintaan emas global adalah ekspektasi kenaikan suku bunga dan kekhawatiran terhadap pelemahan mata uang utama.
“Permintaan emas global kuartal I 2026 mencerminkan kepercayaan investor terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai yang stabil, terutama dalam kondisi ketidakpastian ekonomi global,” kata Shaokai Fan saat mengumumkan laporan Gold Demand Trends Q1 2026 secara virtual pada Rabu (13/5). Ia menambahkan bahwa tren ini konsisten dengan pola historis emas sebagai aset yang paling diminati saat krisis finansial terjadi.
Pola Permintaan Emas Global dan Kontribusi Asia
Permintaan Emas Global Kuartal I 2026 menunjukkan pergeseran signifikan dari pola tradisional, dengan Asia menjadi penentu utama. Pasar perhiasan emas mengalami penurunan, tetapi permintaan investasi emas justru meningkat, mengubah komposisi kebutuhan emas di seluruh dunia. Di negara-negara seperti China, India, dan Indonesia, permintaan emas batangan dan koin tumbuh pesat, meskipun tingkat pertumbuhan perhiasan emas mengalami penurunan. Faktor utama penyebab penurunan permintaan perhiasan adalah kenaikan harga emas yang mencapai rekor, sehingga membuat konsumen lebih memilih investasi jangka pendek.
Permintaan Emas Global Kuartal I 2026 juga mencerminkan peran emas dalam kebijakan moneter pemerintah. Sejumlah bank sentral di negara-negara berkembang menggunakan emas sebagai alat untuk mengendalikan inflasi dan memperkuat nilai tukar mata uang mereka. Dalam konteks ini, kebijakan pembelian emas oleh bank sentral di Asia, seperti China dan India, menjadi faktor kunci dalam meningkatkan permintaan global. Selain itu, kenaikan permintaan emas di pasar ritel juga menunjukkan perubahan preferensi konsumen terhadap aset yang dianggap lebih aman.
“Permintaan emas global kuartal I 2026 menunjukkan bahwa emas tetap menjadi pilihan utama dalam lindung nilai, bahkan saat kondisi pasar stabil. Hal ini menunjukkan kekuatan emas sebagai instrumen yang dapat menarik perhatian investor dalam berbagai kondisi ekonomi,” jelas Shaokai Fan. Ia menekankan bahwa pola permintaan emas di Asia menjadi sinyal kuat untuk permintaan global, terutama dalam situasi krisis yang berulang.
Pengaruh Perubahan Harga Emas pada Pasar Global
Peningkatan permintaan Emas Global Kuartal I 2026 juga dipengaruhi oleh perubahan harga emas yang mencapai rekor tertinggi. Meskipun harga emas naik signifikan, permintaan justru meningkat, menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset ini sebagai penyeimbang risiko. Dalam konteks ekonomi global yang tidak pasti, emas terus menjadi pilihan yang populer, terutama di negara-negara dengan stabilitas politik yang terganggu.
Berbagai negara seperti Indonesia, permintaan emas batangan dan koin mencapai 47 persen pertumbuhan tahunan, dengan nilai transaksi yang naik drastis. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih menganggap emas sebagai aset aman, terutama saat mata uang lokal mengalami pelemahan. Selain itu, permintaan emas di pasar keuangan global juga meningkat, dengan beberapa negara menyalurkan dana ke aset emas sebagai perlindungan terhadap risiko keuangan.
