Susunan Direksi BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Jadi Dirut
Main Agenda – **Main Agenda** menjadi fokus utama perubahan struktur kepemimpinan Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam periode 2026-2030. Setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang berlangsung pada 29 Juni 2026, Jeffrey Hendrik resmi menjabat sebagai Direktur Utama BEI. Ia menggantikan posisi mantan Dirut yang telah menjabat selama beberapa tahun. Penunjukan ini diharapkan memperkuat implementasi **Main Agenda** yang berfokus pada pertumbuhan pasar modal nasional, meningkatkan daya saing, serta memperluas akses keuangan bagi masyarakat luas. Pemimpin baru BEI juga menegaskan komitmen untuk mencapai target strategis hingga 2030, seperti peningkatan jumlah investor hingga 35 juta dan pengembangan infrastruktur bursa yang lebih modern.
Persiapan dan Strategi Terkini
Sebelum menjadi Dirut, Jeffrey Hendrik telah menjabat sebagai Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama dan Direktur Pengembangan BEI, menunjukkan keterlibatannya dalam proses perencanaan **Main Agenda**. Pemimpin baru ini menyatakan bahwa kepemimpinan yang baru saja diumumkan akan menjadi pondasi bagi transformasi BEI menjadi salah satu bursa efek terbesar di dunia. Dalam wawancara terpisah, Jeffrey menjelaskan bahwa peningkatan jumlah investor akan menjadi prioritas utama, terutama melalui pengembangan instrumen keuangan yang lebih inklusif dan pendidikan pasar modal bagi masyarakat umum. “Main Agenda ini adalah langkah strategis untuk mempercepat integrasi pasar modal ke dalam ekonomi Indonesia yang lebih inklusif,” kata Jeffrey.
“Dengan **Main Agenda** yang jelas, BEI dapat memastikan koordinasi yang lebih baik antar sektor dan memperkuat kerja sama dengan lembaga keuangan, pemerintah, serta pihak swasta,” tambahnya.
Target Strategis Hingga 2030
Salah satu tujuan utama **Main Agenda** adalah menargetkan pertumbuhan kapitalisasi pasar BEI hingga mencapai Rp30 ribu triliun pada 2030. Angka ini sejalan dengan rencana pembangunan ekonomi nasional yang ingin mendorong pertumbuhan sektor keuangan dan investasi. Selain itu, BEI juga berharap dapat meningkatkan nilai transaksi harian rata-rata menjadi Rp31 triliun, serta mengembangkan jumlah perusahaan tercatat di atas 1.100 emiten. Target tersebut dirasa penting karena akan meningkatkan kepercayaan investor dan memperluas daya saing bursa efek Indonesia di tingkat internasional.
“**Main Agenda** akan menjadi pengarah utama bagi strategi jangka panjang BEI, termasuk pengembangan kualitas dan kuantitas perusahaan terdaftar, serta penguatan infrastruktur digital,” ungkap Jeffrey.
Pilar Utama Pengembangan
Jeffrey Hendrik menekankan bahwa **Main Agenda** akan diejawantahkan melalui empat pilar utama: (1) memperluas bisnis berbasis transaksi, (2) mengembangkan pendapatan non-transaksi, (3) meningkatkan kuantitas serta kualitas perusahaan terdaftar, dan (4) menjangkau investor dari segmen beragam. Pilar-pilar ini dirancang untuk memastikan stabilitas dan pertumbuhan berkelanjutan pasar modal nasional. Menurutnya, penguatan infrastruktur teknologi informasi, regulasi yang lebih fleksibel, dan kolaborasi dengan pihak eksternal menjadi kunci untuk merealisasikan visi **Main Agenda** tersebut.
“Kolaborasi, konektivitas, dan partnership dengan seluruh stakeholder harus ditingkatkan agar target 2030 tercapai secara signifikan,” kata Jeffrey.
Kebijakan Demutualisasi
Dalam rangka mendorong **Main Agenda** BEI, kebijakan demutualisasi menjadi salah satu strategi penting. Proses demutualisasi ini diinisiasi sesuai dengan mandat dari UU P2SK (Peraturan Pasar Modal) dan diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional serta inovasi dalam layanan bursa efek. Jeffrey mengungkapkan bahwa demutualisasi akan membantu BEI dalam menyesuaikan diri dengan dinamika pasar global, sehingga bisa menghadirkan lebih banyak peluang investasi bagi masyarakat. “Kebijakan demutualisasi adalah bagian dari **Main Agenda** untuk membangun bursa efek yang lebih modern dan responsif terhadap kebutuhan investor,” jelasnya.
Struktur Kepemimpinan yang Baru
Di bawah kepemimpinan Jeffrey Hendrik, susunan direksi BEI untuk periode 2026-2030 meliputi:
- Direktur Utama: Jeffrey Hendrik
- Direktur Penilaian Perusahaan: Saidu Solihin
- Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa: Irvan Susandy
- Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan: Yulianto Aji Sadono
- Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko: Abdul Munim
- Direktur Pengembangan: Iding Pardi
- Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum: Umi Kulsum
Manfaat dan Harapan Masa Depan
Struktur direksi baru ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi internal dan eksternal dalam mewujudkan **Main Agenda**. Dengan komposisi yang lebih seimbang antara keahlian teknis, keuangan, dan pengembangan pasar, BEI diperkirakan bisa menyelesaikan tantangan sektor keuangan, seperti penetrasi pasar yang masih terbatas dan kebutuhan akan transparansi. Selain itu, **Main Agenda** juga menargetkan pengembangan produk pasar modal yang lebih menarik bagi investor muda dan pemula, sehingga meningkatkan partisipasi sektor swasta dalam perekonomian nasional.
“**Main Agenda** adalah rencana tindakan jangka panjang untuk menjadikan BEI sebagai pilar utama pembangunan ekonomi Indonesia,” tutur Jeffrey Hendrik.
Dengan peta jalan yang telah ditetapkan, BEI berharap mampu menciptakan lingkungan investasi yang lebih sehat dan menarik bagi berbagai kalangan. Langkah-langkah ini juga menjadi respons atas dinamika pasar keuangan global yang terus berubah, serta kebutuhan dalam meningkatkan kapasitas industri keuangan Indonesia. Kepemimpinan Jeffrey Hendrik di bawah **Main Agenda** ini diperkirakan akan menghadirkan perubahan nyata dalam jangka panjang, baik melalui kebijakan yang lebih inklusif maupun inovasi dalam layanan pasar modal.
