Berita Bisnis

Special Plan: Kementan Ungkap Harga Sapi Perah Impor Meroket Imbas Rupiah Loyo

Kementan: Rupiah Loyo Memicu Kenaikan Harga Sapi Perah Impor

Special Plan – Kementerian Pertanian (Kementan) menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga sapi perah impor. Dalam upaya memperluas populasi ternak nasional, Kementan terus mengawasi strategi pengadaan sapi perah dari luar negeri. Kepala Badan Penguatan Pertanian, Makmun, mengatakan bahwa kenaikan harga sapi perah saat ini terjadi karena nilai dolar AS yang terus meningkat, meski pihaknya masih berupaya mempercepat produksi susu dalam negeri sebagai bagian dari Special Plan.

Kurs rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (2/6) mencapai Rp17.839 per dolar, menurun 0,19 persen dibanding hari sebelumnya. Pelemahan ini berdampak langsung pada biaya impor sapi perah, yang menjadi bagian penting dari Special Plan. “Kenaikan harga sapi perah saat ini berhubungan dengan pergerakan dolar AS. Biasanya kita mendatangkan dari Australia,” jelas Makmun dalam konferensi pers di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat.

Analisis Sumber Impor dan Dampaknya

Makmun menegaskan bahwa Australia tetap menjadi sumber utama sapi perah impor karena lokasinya yang strategis dan aksesibilitasnya. Namun, Kementan juga mempertimbangkan negara-negara lain seperti Selandia Baru untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber. “Special Plan memperkuat pengadaan sapi perah dari berbagai negara guna memastikan ketersediaan pasokan yang stabil,” tambahnya.

Fluktuasi kurs rupiah tidak hanya memengaruhi harga sapi perah, tetapi juga bahan baku susu lainnya yang diimpor. Dengan nilai dolar AS yang melonjak, biaya produksi susu nasional berpotensi meningkat. Makmun menyebutkan bahwa harga sapi perah bunting tahun ini masih terjangkau, meski terjadi kenaikan dari Rp45 juta per ekor tahun lalu.

Saat ini, harga sapi perah impor sedang mengalami peningkatan karena pelemahan rupiah. Kami tetap memantau dampaknya terhadap keberlanjutan Special Plan,” kata Makmun.

Langkah Pemerintah untuk Stabilkan Harga dan Produksi

Kepala Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan, Widyastuti, menegaskan bahwa pelemahan rupiah memberikan tekanan pada sektor susu. “Special Plan memberi perhatian khusus pada peningkatan produktivitas dan pengurangan ketergantungan pada impor,” ujarnya.

Untuk mengatasi kenaikan biaya impor, pemerintah menyiapkan beberapa langkah. Dalam jangka pendek, fokus diberikan pada memastikan pasokan susu impor tetap stabil melalui kontrak jangka panjang dengan produsen. Sementara itu, untuk jangka menengah dan jangka panjang, Kementan menargetkan pengembangan sentra sapi perah baru serta peningkatan kemitraan dengan sektor pertanian lainnya.

Industri susu nasional juga berupaya mengurangi dampak kenaikan biaya. General Manager R&D Health and Wellness Divisi Dairy PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, Tjatur Lestijaman, mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen kebutuhan susu Indonesia berasal dari luar negeri. “Special Plan berperan dalam mengoptimalkan pasokan susu impor sekaligus mendorong produksi lokal,” jelas Tjatur.

Dengan penerapan Special Plan, kita bisa mengurangi risiko kenaikan harga susu terhadap masyarakat. Kami juga berupaya menekan kenaikan biaya produksi hingga tidak melebihi 10 persen,” kata Tjatur.

Dalam beberapa bulan terakhir, Kementan telah melakukan evaluasi terhadap strategi pengadaan sapi perah impor. Langkah ini menjadi bagian dari Special Plan untuk memastikan ketahanan pangan nasional. Selain itu, pihaknya juga memperkuat kerja sama dengan instansi terkait dalam meningkatkan efisiensi produksi susu.

Leave a Comment