Berita Asean

Istri Eks PM Mahathir Wafat, Ini Peninggalannya untuk Malaysia

siti-hasmah-mohamad-ali-1790568696184_169
Foto : Elizabeth Wilson - kabarberita911.com
Table of Contents
  1. Dr. Siti Hasmah, Pelopor Kesehatan Perempuan dan Anak Malaysia, Meninggal di Usia 100 Tahun
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Dr. Siti Hasmah, Pelopor Kesehatan Perempuan dan Anak Malaysia, Meninggal di Usia 100 Tahun

Kabarberita911.com – Tun Dr. Hasmah Mohamad Ali, istri mantan Perdana Menteri Malaysia Tun Dr. Mahathir Mohamad, meninggal dunia pada Senin pagi, 28 September, dalam usia 100 tahun. Sosok yang luas dikenal sebagai Dr. Siti Hasmah itu wafat pukul 09.20 waktu setempat, meninggalkan Mahathir yang berusia 101 tahun serta tujuh anak mereka.

Kepergiannya menutup perjalanan panjang seorang dokter, pegiat sosial, dan tokoh publik yang memberi perhatian besar pada kesehatan ibu dan anak, terutama di kawasan pedesaan. Selama beberapa dekade, Hasmah juga menjadi pendamping Mahathir dalam perjalanan politiknya, sembari mempertahankan kiprah sendiri di bidang kesehatan, pendidikan, dan organisasi masyarakat.

Hasmah dan Mahathir menikah pada 5 Agustus 1956. Pada Agustus lalu, keduanya mendapat pengakuan dari ASEAN Records dan Asia Records sebagai pasangan mantan kepala pemerintahan tertua yang masih hidup di Asia Tenggara. Catatan itu menandai usia mereka yang sama-sama telah melampaui satu abad.

Perintis dokter perempuan Melayu

Lahir di Klang, Selangor, pada 12 Juli 1926, Hasmah tumbuh dalam keluarga dengan sejumlah tokoh penting Malaysia. Ia merupakan anak keenam dari 10 bersaudara. Di antara saudara kandungnya terdapat Tun Ismail Mohamed Ali, mantan Gubernur Bank Negara Malaysia; Jenderal Tun Mohamed Hashim Mohd Ali, mantan Panglima Angkatan Bersenjata; serta Datuk Ahmad Razali Mohd Ali, mantan Menteri Besar Selangor.

Kakak perempuannya, Tan Sri Dr. Saleha Mohd Ali, juga berprofesi sebagai tenaga medis. Latar keluarga tersebut berjalan beriringan dengan pilihan Hasmah untuk menekuni dunia kedokteran pada masa ketika kehadiran perempuan Melayu di pendidikan medis masih sangat terbatas.

Ia tercatat sebagai salah satu perempuan Melayu pertama yang diterima di King Edward VII College of Medicine, Singapura. Di institusi itulah Hasmah bertemu Mahathir pada 1947. Setelah menyelesaikan studi pada 1955, ia memasuki layanan kesehatan pemerintah Malaysia.

Penugasan awalnya berada di daerah pedesaan Kedah. Pengalaman tersebut membentuk arah pengabdiannya: memperkuat layanan ibu dan anak, membangun kebiasaan kebersihan dasar, mendorong imunisasi, serta menyampaikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat. Kerja di tingkat komunitas ini menjadi bagian penting dari warisan profesionalnya.

Pada 1965, Hasmah menjadi perempuan pertama yang ditunjuk sebagai petugas medis di Departemen Kesehatan Ibu dan Anak. Setahun kemudian, ia memperoleh diploma kesehatan masyarakat dari University of Michigan. Pada 1974, ia kembali mencetak sejarah sebagai perempuan pertama di Kedah yang memegang jabatan Pejabat Kesehatan Ibu dan Anak Negara Bagian.

Program kesehatan di pedesaan Kedah yang dipeloporinya dikaitkan dengan penurunan angka kematian bayi secara besar: dari 75 kematian per 1.000 kelahiran hidup menjadi enam per 1.000 kelahiran hidup. Capaian itu mencerminkan pentingnya layanan kesehatan dasar, pencegahan penyakit, dan pendampingan keluarga di wilayah yang jauh dari pusat layanan.

Setelah menjalani berbagai peran dalam layanan pemerintah, Hasmah juga mengajar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Malaya. Keterlibatannya di pendidikan memperluas sumbangsihnya, dari praktik dan administrasi kesehatan ke pembinaan generasi profesional berikutnya.

Peran publik di sisi Mahathir

Mahathir menjadi wakil perdana menteri pada 1976 sebelum kemudian memimpin pemerintahan Malaysia. Ia menjabat perdana menteri pada periode 1981 hingga 2003, lalu kembali memegang jabatan itu dari 2018 sampai 2020. Dalam masa-masa tersebut, Hasmah dikenal masyarakat sebagai “Ibu Negara”.

Namun, peran publiknya tidak semata-mata bersifat seremonial. Hasmah memakai perhatian yang diperolehnya untuk menyuarakan isu keluarga berencana, kesehatan perempuan, pencegahan penyalahgunaan narkoba, serta pendidikan dan literasi bagi warga pedesaan. Fokus tersebut sejalan dengan pengalaman medisnya yang menempatkan keluarga dan komunitas sebagai pusat kesehatan masyarakat.

Pada 1995, ia memimpin delegasi Malaysia ke Konferensi Dunia Keempat Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perempuan di Beijing, China. Delapan tahun kemudian, Hasmah memimpin Dialog Ibu Negara dalam KTT Organisasi Kerja Sama Islam pada 2003.

Kontribusinya juga terlihat dalam dunia pendidikan tinggi. Ia menjabat sebagai rektor pertama Universitas Multimedia dari 1997 hingga 2012. Masa tugas yang panjang itu memperlihatkan keterlibatannya yang berkelanjutan di luar lingkup kesehatan dan kegiatan pendampingan kenegaraan.

Kepedulian yang melampaui batas negara

Pada Maret 2000, Hasmah memimpin misi kemanusiaan selama lima hari ke Irak. Kunjungan itu digunakan untuk melihat dampak sanksi internasional terhadap perempuan dan anak-anak Irak. Ia turut membawa perlengkapan medis secara pribadi untuk rumah sakit anak serta panti asuhan.

Dalam perjalanan tersebut, Hasmah bertemu langsung dengan Presiden Irak saat itu, Saddam Hussein. Rencana pertemuan itu dirahasiakan hingga terlaksana, dan Mahathir disebut tidak mengetahui agenda tersebut sebelumnya.

Di Malaysia, pengabdiannya juga mencakup sejumlah lembaga masyarakat. Hasmah pernah menduduki posisi kepemimpinan di Asosiasi Pramuka Putri Malaysia dan Yayasan Asosiasi Medis Malaysia. Ia juga menjadi pelindung Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia.

Tetap hadir di usia lanjut

Pada usia lanjut, Hasmah masih terlibat dalam berbagai kegiatan dan dikenal sebagai figur budaya dengan karakter yang khas. Ia bahkan kembali memainkan biola setelah lama berhenti. Kehadirannya di ruang publik menunjukkan semangat untuk tetap berkegiatan setelah melewati puluhan tahun di dunia kedokteran, pendidikan, organisasi sosial, dan kehidupan kenegaraan.

Warisan Dr. Siti Hasmah tidak hanya melekat pada posisinya sebagai istri seorang pemimpin Malaysia. Jejak utamanya berada pada layanan kesehatan ibu dan anak, terutama bagi masyarakat pedesaan, serta dorongan agar perempuan dapat mengambil peran lebih besar dalam pendidikan dan profesi medis. Dari ruang pelayanan kesehatan hingga panggung internasional, ia membawa perhatian yang konsisten terhadap kesejahteraan keluarga dan anak-anak.

Frequently Asked Questions

What is Istri Eks PM Mahathir Wafat Ini Peninggalannya?

Istri Eks PM Mahathir Wafat Ini Peninggalannya is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Istri Eks PM Mahathir Wafat Ini Peninggalannya matter?

Istri Eks PM Mahathir Wafat Ini Peninggalannya matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment