Wabah Ebola RD Kongo Diduga Berawal Sejak Awal Tahun, Jauh Sebelum Pengumuman Resmi
Kabarberita911.com – Penelitian terbaru mengungkap bahwa Wabah Ebola RD Kongo Diduga telah berlangsung sejak bulan Januari 2026, jauh sebelum otoritas kesehatan setempat mengonfirmasi kemunculannya secara resmi. Kementerian Kesehatan Kinshasa baru menyatakan penyakit ini sebagai Ebola pada bulan Mei, ketika situasi sudah semakin sulit dikendalikan. Pengumuman tersebut datang tepat pada hari Jumat (31/7), ketika otoritas mencatatkan wabah terbaru ini sebagai yang terbesar kedua di dunia berdasarkan total infeksi yang tercatat hingga saat ini.
Sejak pengumuman resmi di pertengahan Mei, data menunjukkan lebih dari 3.530 kasus telah ditemukan dengan 1.556 korban jiwa. Angka ini sudah melampaui wabah Ebola ke-10 di RD Kongo yang terjadi antara Agustus 2018 hingga Juni 2020, yang mencatatkan sekitar 3.470 kasus. Para ilmuwan juga mengidentifikasi lebih dari 500 kasus suspek dalam periode antara pertengahan Januari hingga 15 Mei, sebelum diagnosis resmi diberikan.
Jejak Epidemi di Mongbwalu dan Sekitarnya
Menurut laporan yang terbit dalam jurnal Science, epidemi kemungkinan besar mulai terpantik pada bulan Januari, bahkan mungkin lebih awal, di pinggiran Mongbwalu. Seorang pasien yang mencari perawatan mungkin telah membawanya ke kota dari daerah perdesaan. Tim peneliti mewawancarai sekitar 100 orang di Mongbwalu dan sekitarnya, termasuk para perawat, tokoh masyarakat, penyintas, keluarga korban, pembuat peti mati, hingga penjaga pemakaman.
Salah satu rantai penularan bermula dari seorang perempuan berusia 50 tahun yang meninggal pada 25 Januari setelah muntah darah. Ibunya meninggal enam hari kemudian, sedangkan suaminya sempat sakit tetapi selamat. Pola penularan ini menunjukkan bahwa virus sudah menyebar di komunitas lokal sebelum terdeteksi oleh sistem kesehatan.
“Jika wabah tersebut dapat dikendalikan di Mongbwalu, akan jauh lebih mudah untuk mengatasinya,” kata Manuel Albela, ahli epidemiologi dari Doctors Without Borders (Medecins Sans Frontieres/MSF) yang bekerja di kota tersebut, kepada para peneliti.
Metodologi Penelitian dan Tantangan Saat Ini
Untuk memperkirakan kasus Ebola, tim peneliti menelusuri rumah tangga yang memiliki sedikitnya dua kematian dalam 21 hari dengan gejala yang sesuai. Mereka juga memeriksa foto, pesan WhatsApp, catatan dokter, dan biografi pemakaman korban. Laporan itu menyimpulkan, semua petunjuk mengarah pada penyebaran Ebola yang luas di wilayah tersebut.
Wabah Ebola RD Kongo Diduga kini telah menjalar ke lima provinsi, yakni Haut-Uele, Ituri, North Kivu, South Kivu, dan Tshopo. Ituri tetap menjadi episentrum wabah yang disebabkan strain virus Bundibugyo, yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi spesifik yang disetujui. Kondisi ini memperumit upaya pengendalian wabah, mengingat keterbatasan alat diagnostik dan sumber daya kesehatan di wilayah tersebut.
Para ahli menekankan pentingnya deteksi dini dan respons cepat untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Dengan adanya temuan bahwa wabah sudah berlangsung sejak Januari, diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem surveilans kesehatan di RD Kongo. Upaya vaksinasi dan pengobatan harus dipercepat untuk melindungi populasi yang rentan di wilayah-wilayah terdampak.

