Berita Peristiwa

Puluhan Warga Karawaci Protes Polusi Debu Batu Bara dari Pabrik

Puluhan Warga Karawaci Keluhkan Polusi Udara dari Pabrik

Puluhan Warga Karawaci Protes Polusi Debu – Di Jalan Imam Bonjol RT 01/RW 04, Kelurahan Bojong Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Banten, sebanyak 38 kepala keluarga (KK) mengeluhkan adanya polusi udara berupa partikel debu hitam yang diduga berasal dari sisa pembakaran batu bara sebuah perusahaan. Lokasi permukiman warga berada di dekat pagar pembatas dan dua cerobong asap utama pabrik PT Cisadane Raya Chemical.

Proses Produksi Minyak Sawit Disinyalir Jadi Penyebab

Warga memperkirakan partikel debu tersebut berasal dari aktivitas produksi minyak sawit yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar. Meski jarak permukiman ke pabrik hanya sekitar 100 meter, dampak polusi terasa jelas dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua RT 01, Didih Suryadi, menyatakan bahwa pencemaran udara sudah terjadi cukup lama, tetapi kondisi semakin memburuk dalam dua tahun terakhir. Menurutnya, debu hitam sering ditemukan menempel pada lantai rumah dan perabot warga.

“Kami sudah beberapa kali beraudiensi dengan pihak perusahaan terkait pencemaran ini, tetapi fakta di lapangan belum menunjukkan perubahan yang berarti. Yang kami khawatirkan justru partikel kecil yang bisa terhirup masyarakat,” ujar Didih saat ditemui, Jumat (5/6).

Perhatian terhadap Kesehatan Masyarakat

Keluhan warga tidak hanya berupa debu yang terlihat oleh mata, tetapi juga kekhawatiran terhadap partikel halus yang berpotensi merusak kesehatan. Didih mengatakan risiko gangguan pernapasan terutama menyerang anak-anak dan kelompok rentan menjadi perhatian utama.

Sebagai upaya mengurangi dampak, warga diimbau membatasi aktivitas di luar rumah saat proses produksi pabrik sedang berlangsung. Meski telah menyampaikan keluhan ke Pemerintah Kota Tangerang melalui aparat kelurahan, Didih menuturkan belum ada investigasi atau langkah konkret yang diambil untuk menangani dugaan pencemaran.

Harapan untuk Perubahan Sistem Produksi

Warga juga menyoroti ketidakseimbangan lingkungan karena lokasi pabrik yang berbatasan langsung dengan permukiman. Tidak adanya ruang terbuka hijau atau zona penyangga antara area industri dan lingkungan warga menjadi keluhan.

Mereka berharap perusahaan serta Pemerintah Kota Tangerang segera mengambil tindakan nyata, seperti mengubah sistem produksi dengan mengurangi penggunaan batu bara dan beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Hal ini penting mengingat pabrik terletak di tengah kawasan perkotaan dan berdampingan langsung dengan hunian penduduk.

Leave a Comment