Sapi Kurban di Mojokerto Terjebak di Septic Tank, Butuh 3 Jam untuk Dievakuasi
Facing Challenges – Satu kejadian mengejutkan terjadi di Dusun Ardilangu, Desa Ngembeh, Kecamatan Dlanggu, Mojokerto, Rabu (27/5). Sebuah sapi kurban yang termasuk dalam kepemilikan warga setempat akhirnya terjatuh ke dalam lubang septic tank. Proses evakuasi yang dilakukan memakan waktu hampir tiga jam, dengan melibatkan belasan personel dari Damkar Pos 1 Mojoanyar BPBD Kabupaten Mojokerto. Hewan ternak tersebut akhirnya berhasil dikeluarkan dari dalam lubang dalam kondisi masih hidup, meskipun terlihat sangat lemas.
Insiden ini terjadi saat salah satu warga mencoba memasukkan sapi kurban ke dalam lubang septic tank untuk proses pengurasan. Namun, karena kurangnya perhatian terhadap kemiringan atau kondisi tanah, hewan ternak tersebut justru terjatuh ke dalam lubang yang sedalam enam meter. Sapi itu terperosok hingga hampir tidak bisa dilihat dari atas, sehingga memicu upaya penyelamatan yang memakan waktu lama.
Kendala dalam Evakuasi
Dalam proses evakuasi, petugas menghadapi berbagai tantangan. Diameter lubang yang sempit—hanya sekitar satu meter—menyulitkan gerakan dan mengurangi efisiensi. Untuk mengangkat tubuh sapi dari dalam lubang, petugas memanfaatkan dua tripod katrol. Namun, tali yang digunakan tidak bisa bergerak bebas karena ruang yang terbatas. Beberapa kali tali terlepas, mengakibatkan perlambatan operasi.
Kendala utama selama penyelamatan adalah kecilnya akses ke dasar lubang. Dua personel di lapangan terpaksa turun langsung ke bawah untuk mengikat tubuh sapi. Mereka menghadapi kondisi pengap yang menyulitkan bernapas, serta risiko tertimpa benda-benda yang jatuh dari atas. Selain itu, pasokan udara di dalam lubang terbatas, sehingga waktu menjadi faktor kritis. Petugas mengantisipasi hal ini dengan menyalakan mesin blower guna menyuplai oksigen tambahan. Langkah ini dilakukan agar sapi tidak kehabisan napas sebelum akhirnya dikeluarkan.
“Kendalanya diameter lubang sangat sempit yang menyulitkan kami memasang tali pada sapi. Tali sempat lepas beberapa kali, karena kondisi sapi lemas sehingga molor,” ujar Komandan Damkar Pos 1 Mojoanyar BPBD Mojokerto Sukamto di lokasi kejadian, Selasa (26/5).
Evakuasi dimulai sejak pukul 16.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 19.20 WIB. Meskipun seluruh petugas dan relawan telah berupaya maksimal, kondisi sapi yang terus melemah memberi tekanan tambahan. Dalam momen terakhir, saat sapi hampir mencapai permukaan, petugas dan relawan harus berjuang ekstra karena ukuran tubuh hewan ternak tersebut jauh lebih besar daripada diameter mulut lubang. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa sapi akan mati lemas jika tidak segera dikeluarkan.
Kepala BPBD Mojokerto mengatakan, insiden ini menjadi contoh bagaimana kejadian yang tampak sederhana bisa berubah menjadi tantangan besar. “Kita perlu mempertimbangkan kehati-hatian dalam melakukan aktivitas di sekitar septic tank, terutama ketika melibatkan hewan besar seperti sapi,” tambah Sukamto. Ia juga menekankan bahwa keberhasilan evakuasi berkat kerja sama tim dan kesabaran selama berjam-jam.
Sapi kurban tersebut sebelumnya dipilih oleh warga sebagai bagian dari tradisi Iduladha. Hewan tersebut seharusnya digunakan untuk ibadah kurban, tetapi karena kejadian ini, warga setempat mengalami kecewa. Namun, sejumlah warga mengapresiasi upaya petugas yang mampu menyelamatkan hewan ternak tersebut meskipun dalam kondisi yang sangat kritis. Proses evakuasi yang terjadi sepanjang hari menjadi perhatian masyarakat sekitar, yang menunggu dengan antusias hingga sapi berhasil dievakuasi.
Kemacetan selama evakuasi tidak hanya berdampak pada kondisi sapi, tetapi juga mengganggu aktivitas warga di sekitar lokasi. Sejumlah orang terpaksa menunggu di luar area evakuasi sementara petugas bekerja keras. Meski begitu, selama tiga jam yang berlalu, tidak ada kejadian serius seperti korban jiwa atau kerusakan tambahan. Sapi yang berhasil dikeluarkan pun langsung dibawa ke tempat penampungan sementara untuk pemulihan kondisi sebelum digunakan sebagai hewan kurban.
Sukamto menambahkan bahwa insiden ini mengingatkan pentingnya melakukan persiapan matang sebelum melaksanakan aktivitas di septic tank. “Dalam hal ini, kita harus memastikan bahwa lubang cukup lebar untuk menghindari kejadian serupa,” kata pria yang juga bertugas sebagai petugas pemadam kebakaran itu. Ia menyarankan warga untuk lebih berhati-hati ketika melakukan pengurasan atau pembersihan di area tersebut.
Evakuasi yang sukses ini menunjukkan kemampuan tim penyelamat dalam menghadapi situasi yang tidak terduga. Dengan kombinasi alat khusus, kesabaran, dan kerja sama yang baik, mereka mampu menyelesaikan tugas yang berat. Meski ada hambatan seperti tali yang terlepas atau waktu yang terbatas, keselamatan sapi akhirnya tercapai. Hasilnya, sapi tersebut bisa diangkat ke permukaan, meskipun dalam kondisi sangat lemas.
Kejadian ini juga menjadi bahan evaluasi bagi BPBD Mojokerto. Dalam rapat internal setelah evakuasi selesai, mereka akan meninjau kembali protokol penggunaan septic tank agar kejadian serupa tidak terulang. Sukamto menegaskan bahwa kejadian ini adalah pelajaran berharga untuk seluruh petugas dan masyarakat.
Selain itu, kejadian ini menarik perhatian media lokal dan nasional yang meliput proses evakuasi. Dalam laporan, mereka memuji keberhasilan tim Damkar dalam mempertahankan kondisi sapi hingga akhirnya bisa dikeluarkan. “Ini adalah salah satu evakuasi yang paling menantang dalam beberapa tahun terakhir,” kata salah satu wartawan yang hadir di lokasi. Pembaruan tentang insiden ini juga ditayangkan secara langsung melalui siaran media, membuat warga sekitar menyadari pentingnya kesadaran akan risiko di area septic tank.
Sebagai contoh, sejumlah warga mulai memperhatikan lebar lubang septic tank saat melakukan pembersihan atau penggunaan hewan untuk kurban. Mereka berupaya memperbaiki kondisi lubang agar lebih aman. Selain itu, beberapa warga menawarkan bantuan tambahan seperti makanan atau minuman untuk sapi yang terjebak agar kondisinya tidak semakin memburuk.
Kendati demikian, kejadian ini tetap menjadi pengalaman yang menyakitkan bagi warga yang mengharapkan sapi kurban dalam kondisi sehat. Meski sudah berhasil dievakuasi, hewan tersebut perlu perawatan intensif sebelum digunakan sebagai kurban. “Sapi tersebut sudah sangat lemah, jadi kita perlu menunggu beberapa hari untuk pemulihan kondisi,” kata Sukamto. Ia juga menyarankan warga untuk memastikan bahwa hewan yang digunakan sebagai kurban dalam kondisi yang baik sebelum dimasukkan ke dalam septic tank.
