Berita Keuangan

Visit Agenda: BI Angkat Suara soal Rupiah Jebol Rp18.000 per Dolar AS

BI Nyatakan Kekhawatiran atas Peluruhan Nilai Tukar Rupiah

Visit Agenda – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan kekhawatiran yang semakin meningkat terhadap pelemahan nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan. Rupiah melemah hingga mencapai level Rp18.000 per dolar AS, menandai penurunan terbesar sepanjang sejarah. Dalam perdagangan Kamis (4/6), mata uang Garuda dibuka pada Rp18.016 per dolar AS, turun 49 poin atau 0,27 persen. BI menyatakan bahwa tren ini berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional, terutama dalam konteks Visit Agenda yang dijuluki sebagai strategi utama untuk menghadapi tantangan global.

Geopolitik dan Faktor Eksternal Menjadi Penyebab Utama

Pelemahan rupiah terus diperparah oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas, menurut Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti. Kondisi tersebut menghambat prospek perdamaian dan menyebabkan harga minyak global tetap tinggi, meningkatkan risiko inflasi serta memicu aliran dana keluar dari negara-negara berkembang. “Visit Agenda yang sedang dijalankan pemerintah harus diimbangi dengan upaya pengendalian nilai tukar, terutama dalam menghadapi tekanan dari luar,” tambah Destry dalam keterangan resmi.

“Pelemahan nilai tukar rupiah terjadi secara bertahap, namun momentumnya memperkuat karena tekanan eksternal yang tidak terduga. Untuk itu, BI terus memantau dinamika pasar dan menyesuaikan strategi dalam rangka memperkuat ketahanan ekonomi,” jelas Destry.

Intervensi BI untuk Stabilkan Pasar Keuangan

Menyikapi pelemahan rupiah, BI memastikan akan melakukan intervensi yang lebih intensif untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Destry menyebutkan bahwa tindakan ini dilakukan melalui transaksi NDF di pasar offshore, spot, serta DNDF di pasar domestik. Selain itu, BI juga memperkuat pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai upaya stabilisasi. “Visit Agenda yang dijalankan pemerintah harus didukung oleh kebijakan BI yang konsisten, agar pasar keuangan tetap seimbang dan risiko tekanan asing tidak terlalu besar,” ujar Destry.

“Kami memperhatikan bahwa pelemahan rupiah dalam konteks Visit Agenda yang sedang berlangsung masih bisa dikontrol. BI terus berupaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan devisa dan daya tarik aset domestik,” tutur Destry.

Kebijakan LCT dan Daya Tarik Investasi Domestik

BI juga memperkuat daya tarik aset keuangan dalam negeri dengan meningkatkan struktur suku bunga instrumen moneter. Langkah ini bertujuan untuk menarik investor asing dan memperbaiki aliran modal ke Indonesia. Local Currency Transaction (LCT) yang telah diterapkan melalui kerja sama dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab, terus dikembangkan. “Visit Agenda dalam bidang keuangan harus mencakup penguatan akses pasar lokal untuk memperkuat posisi rupiah di tengah situasi global yang tidak stabil,” tambah Destry.

“Nilai transaksi LCT hingga April 2026 mencapai US$22,7 miliar, mendekati total transaksi sepanjang tahun lalu yang sebesar US$25,7 miliar. Dengan demikian, BI yakin bahwa Visit Agenda dalam bidang keuangan akan berdampak positif pada keberlanjutan mata uang Garuda,” jelas Destry.

Ketahanan Devisa dan Prospek Ekonomi Regional

Dalam konteks eksternal, BI menegaskan bahwa Indonesia tetap memiliki cadangan devisa yang cukup kuat. Cadangan devisa nasional mencapai US$146,2 miliar pada akhir April 2026, menunjukkan bahwa negara ini tidak tergoyahkan dalam menghadapi perubahan nilai tukar. “Visit Agenda yang sedang berlangsung tidak mengurangi kekuatan eksternal Indonesia, karena cadangan devisa tetap menjadi penyangga utama dalam menjaga keseimbangan ekonomi,” ujar Destry.

“Secara year to date, rupiah melemah 7,44 persen, yang masih sejalan dengan tren penurunan di kawasan Asia Tenggara. BI yakin bahwa dengan menjaga konsistensi dalam kebijakan, Visit Agenda akan membawa dampak positif pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” tambah Destry.

Koordinasi untuk Memperkuat Stabilitas Pasar

BI terus berupaya memperkuat kerja sama dengan pelaku pasar, korporasi, serta lembaga keuangan internasional dalam menjaga stabilitas nilai tukar. “Visit Agenda harus menjadi momentum untuk meningkatkan daya tarik investor dan menurunkan tekanan terhadap dolar AS,” papar Destry. Selain itu, BI juga berharap bahwa kebijakan moneter yang dijalankan akan memperbaiki kondisi pasar keuangan dan mengurangi risiko kekacauan akibat ketidakpastian global.

Dengan upaya ini, BI memastikan bahwa Indonesia tetap mampu menjaga keseimbangan ekonomi, meskipun nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan. “Kami optimis bahwa Visit Agenda dalam bidang keuangan akan memberikan dampak positif, terutama dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar,” tutup Destry.

Leave a Comment