Berita Corporate Action

Key Strategy: Pertamina & ASRI Energi Edukasi soal Transisi Energi bagi Pelajar SMA

Pertamina & ASRI Energi Edukasi Edukasi Soal Transisi Energi bagi Pelajar SMA

Key Strategy – Program edukasi transisi energi yang digelar oleh PT Pertamina (Persero) bersama Akademi Sekolah Lestari (ASRI) Energi Edukasi di SMAN 40 Jakarta pada Senin (11/5) bertujuan untuk membangun kesadaran siswa tentang energi berkelanjutan serta memperkaya pemahaman mereka terkait bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan matematika. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya perusahaan energi nasional dalam menyiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan dan peluang di sektor energi yang terus berubah.

Penguatan STEM sebagai Persiapan Masa Depan

VP CSR & SMEPP Management Pertamina, Rudi Ariffianto, menjelaskan bahwa program Sekolah Energi Berdikari (SEB) bertujuan meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya transisi energi. Menurutnya, penguasaan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) menjadi kunci bagi keberlanjutan sektor energi. “Pendidikan energi berkelanjutan dan pengembangan STEM perlu diintegrasikan sejak dini agar siswa siap menghadapi transformasi energi di masa depan,” ujarnya.

“Transisi energi dan penguatan STEM harus diperkenalkan sejak awal agar generasi muda memiliki kesiapan dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan energi masa depan,”

Menurut Rudi, transisi energi nasional tidak bisa tercapai tanpa keterlibatan sejak dini. Dengan memperkenalkan konsep tersebut di tingkat SMA, Pertamina berharap mendorong siswa untuk memahami peran energi nonfosil dalam memperkuat ketahanan nasional. “Indonesia memiliki potensi energi nonfosil yang besar, sehingga edukasi sejak dini menjadi langkah strategis untuk menyiapkan calon pemimpin, regulator, dan pelaku industri energi di masa depan,” tambahnya.

Kemitraan dengan Sektor Pendidikan

Program edukasi ini tidak hanya fokus pada pengetahuan teknis, tetapi juga pada penerapan prinsip keberlanjutan. Kemitraan antara Pertamina dan ASRI Energi Edukasi dianggap sebagai langkah penting untuk menciptakan ekosistem pembelajaran yang holistik. Rudi menekankan bahwa kerja sama dengan sekolah merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam membentuk generasi muda yang adaptif terhadap dinamika energi global.

Dukungan Sekolah dalam Mewujudkan Tujuan Sosial

Kepala Sekolah SMAN 40 Jakarta, Adriansyah, menyambut positif kolaborasi ini. Ia menyebut program edukasi transisi energi relevan dengan komitmen sekolah untuk mencapai predikat Adiwiyata Mandiri. “Kerja sama ini membantu memadukan isu lingkungan dengan pendidikan energi dan STEM, sehingga siswa memperoleh wawasan yang lebih menyeluruh tentang tanggung jawab keberlanjutan,” katanya.

Langkah Konsisten dengan Dual Growth Strategy

Kegiatan tersebut selaras dengan dual growth strategy Pertamina, yakni menjaga ketahanan energi nasional melalui bisnis migas, serta mempercepat pengembangan energi rendah karbon dan energi baru terbarukan (EBT). Rudi menjelaskan bahwa strategi ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus memperkuat kapasitas SDM dalam menghadapi revolusi energi. “Dengan menanamkan kesadaran energi berkelanjutan di tingkat SMA, Pertamina berkontribusi pada transisi energi nasional yang berkelanjutan,” tuturnya.

“Melalui sinergi sektor pendidikan, komunitas dan pemangku kepentingan, Pertamina terus mendorong ekosistem pembelajaran yang memperkuat kapasitas generasi muda sebagai fondasi ketahanan energi nasional dan keberlanjutan energi masa depan,”

Kolaborasi Pertamina dengan ASRI Energi Edukasi juga mendapat dukungan dari Ketua Yayasan Berkat Budaya Sejahtera, Glory Oyong. Ia menekankan bahwa pendidikan keberlanjutan membutuhkan keterlibatan lintas sektor. “Edukasi berkelanjutan tidak bisa tercapai hanya dengan satu pihak, tetapi membutuhkan partisipasi bersama antara pemerintah, perusahaan, dan komunitas,” ujarnya.

Glory menambahkan bahwa inisiatif ini sejalan dengan tujuan pemerintah dalam mempercepat transisi energi nasional. “Edukasi yang terintegrasi dengan STEM akan mendorong munculnya inovasi di sektor energi, sekaligus meningkatkan kualitas SDM yang mampu berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan,” jelasnya.

Kesiapan Siswa di Tengah Peminatan STEM yang Rendah

Rudi juga menyoroti fakta bahwa peminatan siswa di Indonesia terhadap STEM hanya mencapai 18 persen. Menurutnya, angka ini menggambarkan tantangan dalam menumbuhkan minat generasi muda terhadap bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. “Transisi energi memerlukan keterampilan teknis, sehingga kegiatan seperti ini menjadi bentuk perangsangan untuk meningkatkan minat siswa terhadap STEM,” tutur Rudi.

Program edukasi ini tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga memberikan pengalaman langsung melalui diskusi, simulasi, dan proyek praktis. Siswa diberi kesempatan untuk menggali potensi energi terbarukan serta memahami peran mereka dalam menjaga lingkungan. Menurut Glory, pendekatan ini mampu mengubah pandangan siswa yang sering kali menganggap energi hanya sebagai bahan bakar, menjadi pelaku perubahan positif.

Perspektif Global dalam Pendidikan Energi

VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa kolaborasi dengan sekolah merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menciptakan masyarakat yang berpartisipasi aktif dalam transisi energi. “Pendidikan energi tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang kesadaran lingkungan dan keberlanjutan,” katanya.

Baron menyebut program edukasi ini sebagai bentuk sinergi antara dunia pendidikan, komunitas, dan pemangku kepentingan. “Dengan membangun kesadaran sejak dini, Pertamina berupaya memastikan generasi muda memiliki kemampuan menyelesaikan masalah energi secara kreatif dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Masa Depan Energi dan Tanggung Jawab Sosial

Pertamina berharap program SEB ini bisa menjadi contoh terbaik dalam pendekatan edukasi berbasis keberlanjutan. Dengan menanamkan pemahaman tentang transisi energi, perusahaan berupaya membangun kesadaran siswa akan pentingnya mengurangi emisi karbon dan meningkatkan penggunaan energi hijau. “Kami percaya bahwa pendidikan menjadi penggerak utama dalam menciptakan perubahan besar di bidang energi,” tutur Rudi.

Sementara itu, Glory menyoroti bahwa program ini tidak hanya bermanfaat untuk siswa, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang pada masyarakat. “Edukasi yang terstruktur akan menciptakan perubahan perilaku, yang menjadi fondasi dari keberlanjutan ekosistem energi nasional,” ujarnya. Kegiatan yang diadakan di SMAN 40 Jakarta diharapkan bisa menjadi model yang bisa diadopsi oleh sekolah-sekolah lain di Indonesia, terutama dalam mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan lingkungan dan energi di masa depan.

Leave a Comment