Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, Bagaimana Selanjutnya?
Key Strategy – Perjanjian pembatasan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia, dikenal sebagai New Strategic Arms Reduction Treaty (New START), telah memasuki masa akhirnya pada 5 Februari 2026. Kesepakatan ini memberlakukan batasan sebanyak 1.550 sistem senjata strategis yang dikerahkan oleh masing-masing negara. Dengan berakhirnya perjanjian tersebut, tidak ada lagi aturan resmi yang mengikat kedua pihak dalam pengendalian senjata nuklir mereka. Data dari International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (icanw.org) menunjukkan bahwa Rusia memiliki total 5.459 hulu ledak nuklir, sedangkan Amerika Serikat mencatatkan 5.277 hulu ledak.
Kondisi Pasca-Perjanjian Berakhir
Kehilangan kerangka regulasi ini membuka jalan bagi kemungkinan pertumbuhan jumlah senjata nuklir tanpa batasan yang jelas. Dalam beberapa tahun mendatang, analis keamanan mulai memprediksi bahwa dunia akan memasuki era perlombaan senjata nuklir yang lebih intensif. Penurunan jumlah senjata yang diatur oleh New START telah membawa total sistem nuklir yang dikerahkan ke level terendah sejak era Perang Dingin, menurut laporan dari Laman CFR.org. Namun, kini tanpa perjanjian formal, kedua negara bisa menambahkan senjata strategis secara bebas, dan data menunjukkan tren peningkatan produksi yang terus berlangsung.
Ketakutan akan Perlombaan Senjata
Rose Gottemoeller, mantan Wakil Sekretaris Jenderal NATO dan negosiator utama AS dalam perjanjian New START, menyatakan bahwa sebelum pandemi COVID-19, AS dan Rusia rutin melakukan delapan belas kunjungan per tahun untuk memverifikasi data. Namun, pada 2023, Putin memutus akses inspeksi di lokasi, menyebabkan perjanjian ini dianggap sebagai “zombie” yang tidak lagi memiliki fungsi verifikasi. “Kehilangan perjanjian ini bisa menjadi titik di akhir kalimat yang sudah ditulis,” kata Gottemoeller, yang menyoroti risiko ketidakpastian dalam interaksi nuklir antara dua negara besar.
Kehilangan kepercayaan yang dibangun selama dua dekade sejak perjanjian itu ditandatangani, berdampak pada komunitas intelijen kedua belah pihak. Sebelumnya, batasan nuklir dan komitmen untuk tidak mengganggu Sarana Teknis Nasional (NTM) memberikan kepastian bahwa Washington dan Moskow mempercayai pihak lain tidak akan melakukan serangan secara tiba-tiba. Kini, dengan penggunaan sistem komando dan kendali nuklir yang lebih digital, risiko salah perhitungan menjadi lebih tinggi. Sistem ini bisa menyalurkan senjata nuklir dengan cepat, tetapi juga meningkatkan potensi kesalahan dalam interpretasi ancaman.
Perubahan Dalam Persenjataan Nuklir
Kedua negara kini menghadapi tantangan baru dalam pengelolaan senjata nuklir mereka. AS memiliki kemampuan untuk membuka kembali tabung rudal yang sebelumnya ditutup pada kapal selam kelas Ohio. Undang-Undang One Big Beautiful Bill, yang digagas Presiden Donald Trump, memberikan dana $62 juta untuk tujuan ini. Kapal selam yang kembali ke pelabuhan setelah berpatroli bisa digunakan untuk memasukkan hulu ledak tambahan ke platform yang siap diluncurkan.
Rusia, di sisi lain, memiliki cadangan hulu ledak yang lebih besar dibandingkan AS. Menurut beberapa perkiraan, dalam satu dekade ke depan, AS mungkin bisa mengambil senjata dari persediaan dan menambahkan hingga 1.900 unit baru ke sistem pengiriman. Rusia, yang sudah memiliki persediaan lebih luas, juga bisa menyesuaikan kekuatan senjata nuklirnya dengan cepat. Hal ini memicu ketakutan akan kemampuan eksotis yang dirancang untuk menghindari pertahanan rudal, seperti sistem nuklir yang bisa diluncurkan dari darat, udara, dan angkasa.
Respon dari Indonesia
Indonesia, melalui Menteri Luar Negeri Sugiono, memberikan peringatan serius terkait akhir perjanjian New START. “Berakhirnya New START menandai momen yang mencemaskan bagi dua negara yang menjadi pemilik senjata nuklir terbesar di dunia,” ujarnya dalam Konferensi Pelucutan Senjata di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jenewa, Swiss, pada Senin (23/2) lalu. Sugiono menekankan bahwa penghapusan batasan ini bisa memicu perubahan dalam dinamika keamanan global, terutama dengan kehadiran negara-negara seperti Tiongkok dan Korea Utara yang semakin meningkatkan kapasitas nuklir mereka.
Keberadaan Tiongkok sebagai negara nuklir baru dengan persenjataan yang berkembang pesat, serta Korea Utara yang kini memiliki kemampuan memadai untuk menyerang musuh, mengubah lingkungan keamanan ketika perjanjian itu ditandatangani. “Lingkungan keamanan saat ini sangat berbeda dari masa perjanjian dibuat,” kata Sugiono. Karena itu, kebijakan luar negeri Rusia yang semakin agresif sejak 2010 menjadi salah satu faktor perubahan, bersama dengan kekuatan nuklir Tiongkok dan Korea Utara.
Kemungkinan Aksi dan Reaksi
Kehilangan New START berdampak pada siklus aksi-reaksi yang bisa terjadi antara AS dan Rusia. Jika satelit peringatan dini mendeteksi gangguan atau mengalami kegagalan, analis intelijen bisa mencurigai adanya serangan yang sedang berlangsung. Tanpa verifikasi langsung, risiko salah interpretasi meningkat. Misalnya, jika sistem radar menangkap peluncuran rudal dari Rusia, AS bisa merespons dengan mempercepat pengiriman senjata nuklir tanpa waktu untuk memastikan kebenaran ancaman.
Austin Long, cendekiawan di Massachusetts Institute of Technology dan mantan wakil direktur untuk stabilitas strategis di Pentagon, mengatakan bahwa batasan-batasan dalam perjanjian ini dirancang untuk era keamanan yang berbeda. “Kondisi saat ini lebih kompleks dibandingkan masa perjanjian dibuat,” ujarnya. Karena itu, pihak-pihak yang terlibat mungkin perlu mengadaptasi strategi mereka. Bagi AS, berakhirnya perjanjian bisa menjadi peluang untuk mengeksplorasi teknologi baru yang memperkuat kemampuan nuklir mereka. Sementara Rusia, dengan sumber daya cadangan yang lebih besar, bisa menambah jumlah senjata tanpa perlu mengorbankan kapasitas pertahanan mereka.
Dengan akhirnya perjanjian ini, dunia berpotensi memasuki fase baru dalam perang nuklir. Lingkungan keamanan yang lebih dinamis, campuran antara keseriusan Rusia dan pengembangan kekuatan Tiongkok, serta kemampuan intelijen yang semakin canggih, menegaskan bahwa pengendalian senjata nuklir global akan semakin sulit. Bagi sebagian besar pengamat, perjanjian New START adalah salah satu langkah penting untuk menjaga keseimbangan antara dua negara yang memiliki kemampuan nuklir dominan, tetapi kini keberadaannya menjadi pertanyaan besar di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat.
