Berita Climate

NASA Soroti Karhutla Papua, Lonjakan Emisi Cetak Rekor

asap-karhutla-di-atas-papua-1792750771533_169
Foto : Michael Lopez - kabarberita911.com
Table of Contents
  1. Kebakaran Meluas di Papua Dorong Emisi Karbon ke Level Tinggi
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Kebakaran Meluas di Papua Dorong Emisi Karbon ke Level Tinggi

Kabarberita911.com – Kekeringan panjang yang dipengaruhi El Nino kuat telah memperparah kebakaran hutan dan lahan di Pulau Papua pada September hingga Oktober 2026. Dampaknya terlihat dari lonjakan emisi karbon, kabut asap yang bertahan selama berminggu-minggu, serta gangguan terhadap aktivitas warga di sejumlah wilayah.

NASA mencatat emisi akibat kebakaran di kawasan Papua telah melampaui catatan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Kondisi paling berat terjadi ketika vegetasi yang biasanya masih menyimpan kelembapan berubah sangat kering, sehingga api dari pembakaran skala kecil dapat berkembang menjadi kebakaran luas.

Di Papua Nugini, asap tebal menutupi banyak area selama beberapa pekan. Pencemaran udara meningkat, jadwal penerbangan terganggu, dan sejumlah sekolah harus menghentikan kegiatan belajar. Citra satelit NOAA-20 melalui instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite atau VIIRS juga menangkap gumpalan asap besar dari wilayah selatan Pulau Papua pada 11 Oktober.

Asap Bertahan di Dekat Permukaan

Peneliti NASA Goddard Institute for Space Studies dan Columbia University, Robert Field, menjelaskan bahwa sebagian asap dapat terdorong ke lapisan atmosfer lebih tinggi atau terbawa hujan saat memasuki sistem badai. Namun, bagian terbesar dari asap tersebut tetap terkonsentrasi dekat permukaan Bumi dan memperburuk udara yang dihirup masyarakat.

“Ini situasi yang mengerikan,” kata Field dalam keterangannya pada Kamis (22/10).

Masalah asap bukan sekadar persoalan jarak pandang. Partikel hasil pembakaran dapat membuat kualitas udara memburuk dalam waktu lama, terutama ketika angin lemah dan hujan belum turun. Gangguan pada penerbangan serta aktivitas sekolah memperlihatkan bahwa dampak kebakaran telah menjangkau kegiatan sehari-hari, bukan hanya kawasan hutan dan savana yang terbakar.

Rekor Emisi di Papua Nugini

Data Global Fire Emissions Database atau GFED menunjukkan kebakaran di Papua Nugini melepaskan hampir 32 megaton karbon hingga 17 Oktober 2026. Angka itu menjadi catatan emisi kebakaran tertinggi untuk Papua Nugini pada titik waktu yang sama dalam catatan yang tersedia.

Ilmuwan kebakaran dari Wageningen University & Research, Guido van der Werf, menilai besarnya emisi tahun ini sudah melampaui akumulasi emisi sepanjang 2015. Tahun 2015 sendiri dikenal sebagai salah satu periode ketika El Nino turut memicu kebakaran besar di berbagai wilayah.

“Emisi sudah jauh lebih tinggi dibandingkan total sepanjang 2015, dan sangat mungkin tahun ini menjadi yang tertinggi dalam catatan Papua Nugini, bahkan melampaui 1997,” ujar Van der Werf.

Di sisi Indonesia, kebakaran di Papua telah menghasilkan lebih dari 35 megaton karbon. Volume itu menempatkan 2026 sebagai catatan tertinggi ketiga, setelah 2015 dan 1997. Kedua tahun tersebut juga berkaitan dengan pengaruh El Nino yang kuat terhadap pola hujan dan kelembapan di kawasan ini.

GFED memperkirakan luas kebakaran vegetasi dan emisi karbon dengan memadukan pengamatan satelit, informasi karakteristik vegetasi, serta berbagai data pendukung lain. Pendekatan ini memungkinkan ilmuwan menilai dampak kebakaran dalam rentang waktu panjang, termasuk membandingkan kondisi pada 2026 dengan kejadian pada hampir tiga dekade sebelumnya.

Kekeringan Lebih dari Tiga Bulan

Perubahan pola hujan saat El Nino membuat sejumlah ekosistem Papua berada dalam kondisi sangat rentan terhadap api. Di kawasan Trans-Fly, bagian paling selatan Papua Nugini yang didominasi savana dan padang rumput, kekeringan berlangsung lebih dari 90 hari berturut-turut tanpa hujan.

Sejak Agustus, beberapa wilayah hanya menerima sekitar 5 hingga 10 persen dari curah hujan normal. Kekurangan hujan dalam skala sebesar itu tidak hanya meningkatkan kemungkinan api menyebar. Pertanian juga dapat terdampak melalui gagal panen, persediaan air berkurang, dan kegiatan pendidikan ikut tersendat ketika lingkungan sekitar tidak lagi aman atau nyaman.

Hujan deras pada musim hujan menjadi faktor penting untuk menurunkan ancaman kebakaran di bagian selatan pulau. Hingga curah hujan kembali cukup, bahan bakar alami berupa rumput, semak, dan vegetasi kering masih dapat membuat api bertahan atau muncul kembali di lokasi lain.

Aktivitas Manusia dan Lahan yang Mengering

Banyak titik api di Papua berkaitan dengan aktivitas manusia, termasuk pembakaran untuk pertanian, perawatan padang penggembalaan, pembukaan hutan, dan perburuan. Dalam keadaan yang lebih basah, pembakaran seperti itu dapat lebih mudah dikendalikan. Risiko berubah drastis ketika tanah dan vegetasi kehilangan kelembapan akibat kemarau panjang.

Api yang awalnya terbatas dapat menjalar cepat melewati rumput kering, semak, dan kawasan terbuka. Karena itu, kondisi cuaca ekstrem memperbesar bahaya dari praktik pembakaran yang sebelumnya mungkin dianggap rutin oleh pelaku di lapangan.

Peneliti University of California, Irvine, Yang Chen, melihat aktivitas kebakaran tahun ini jauh lebih tinggi di Papua Nugini dan Indonesia timur dibandingkan banyak wilayah di Indonesia bagian barat. Papua Indonesia dan Kalimantan menjadi area yang menonjol, sementara Sumatra serta sejumlah kawasan barat lainnya mencatat aktivitas yang lebih rendah dalam perbandingan tersebut.

“Kami melihat aktivitas kebakaran yang sangat tinggi di Papua Nugini dan Indonesia Timur, khususnya Papua Indonesia dan Kalimantan, tahun ini dibandingkan Sumatra dan wilayah Indonesia Barat lainnya,” ujar Chen.

Tekanan Deforestasi di Papua

Selain iklim, perubahan penggunaan lahan menjadi perhatian penting dalam membaca risiko kebakaran di Papua. Dalam dua dekade terakhir, pembukaan hutan di Papua Indonesia berlangsung untuk beragam kebutuhan, mulai dari perkebunan kelapa sawit dan tanaman bahan baku bubur kertas hingga pertanian skala kecil, perluasan kota, serta pertambangan.

Chen menyebut Papua sebagai salah satu kawasan baru yang menghadapi tekanan deforestasi di Indonesia. Hilangnya tutupan hutan dapat mengubah lanskap dan memperbesar kerentanan wilayah tertentu ketika musim kering datang, terutama apabila pembukaan lahan bertemu dengan periode hujan yang jauh di bawah normal.

Global Forest Watch mencatat sekitar 27 ribu hektare hutan primer di Papua hilang sepanjang 2025. Luas tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan 2024 dan menjadi kehilangan tertinggi sejak 2017. Gambaran itu menunjukkan bahwa persoalan kebakaran di Papua perlu dipahami melalui keterkaitan antara cuaca ekstrem, aktivitas manusia, kondisi ekosistem, dan perubahan bentang alam.

Lonjakan emisi pada 2026 menegaskan besarnya dampak kebakaran di Pulau Papua, baik bagi kualitas udara lokal maupun pelepasan karbon ke atmosfer. Selama kekeringan masih berlangsung, pengendalian titik api dan perlindungan kawasan rentan akan tetap menjadi bagian penting untuk membatasi perluasan kebakaran berikutnya.

Frequently Asked Questions

What is NASA Soroti Karhutla Papua Lonjakan Emisi?

NASA Soroti Karhutla Papua Lonjakan Emisi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does NASA Soroti Karhutla Papua Lonjakan Emisi matter?

NASA Soroti Karhutla Papua Lonjakan Emisi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment