Ragam Energi

IZEHDV Summit 2026 Bahas Hambatan Percepatan Adopsi Truk Listrik di RI

Foto : Mary Thomas - kabarberita911.com

IZEHDV Summit 2026: Menggali Hambatan Adopsi Truk Listrik di Indonesia

Kabarberita911.com – Indonesia sedang menghadapi sejumlah kendala dalam mempercepat peralihan ke kendaraan berat dengan nol emisi atau yang dikenal sebagai Zero Emission Heavy-Duty Vehicle (ZEHDV). Kendala-kendala tersebut meliputi tingginya biaya investasi awal, keterbatasan pilihan model kendaraan, serta infrastruktur pengisian daya yang belum optimal. Seluruh isu ini menjadi bahan diskusi utama dalam IZEHDV Summit 2026, sebuah forum yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, industri, penyedia teknologi, lembaga keuangan, hingga mitra pembangunan internasional.

Menurut WRI Indonesia, sektor transportasi barang masih sangat bergantung pada bahan bakar diesel. Data menunjukkan bahwa antara tahun 2019 hingga 2024, pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp415,84 triliun untuk subsidi dan kompensasi solar. Meskipun truk hanya menyumbang 3,7 persen dari total populasi kendaraan bermotor di Indonesia, kontribusi emisi dari truk mencapai 31,7 persen terhadap emisi transportasi darat. Angka ini menempatkan truk sebagai salah satu sektor paling krusial dalam agenda dekarbonisasi nasional.

Tiga Tantangan Utama dalam Elektrifikasi Armada

I Made Vikannanda, Senior Manager for Resilient Cities WRI Indonesia, menekankan bahwa elektrifikasi kendaraan berat bukan sekadar pergantian teknologi. Menurutnya, transformasi ini memerlukan ekosistem yang utuh, mencakup kebijakan, investasi, kesiapan industri, dan infrastruktur pengisian daya. Ketiga aspek tersebut harus dibangun secara bersamaan agar adopsi truk listrik dapat berjalan lebih cepat dan memberikan manfaat nyata bagi efisiensi logistik maupun pencapaian target dekarbonisasi Indonesia.

WRI Indonesia mengidentifikasi tiga hambatan utama yang masih menghambat percepatan adopsi truk listrik di Indonesia. Pertama, harga investasi awal yang masih tinggi. Saat ini, truk listrik dijual dengan harga 2 hingga 3,5 kali lebih mahal dibandingkan truk diesel. Tambahan investasi yang diperlukan bisa mencapai Rp570 juta hingga Rp5 miliar per unit, sehingga banyak pelaku usaha masih mempertimbangkan matang-matang dalam melakukan transformasi armada mereka.

Kedua, ketersediaan model kendaraan yang belum sepenuhnya sesuai kebutuhan pasar. Sebagian besar permintaan kendaraan niaga di Indonesia berada pada segmen truk ringan dan pick-up. Namun, pilihan truk listrik pada segmen tersebut masih sangat terbatas dan belum sepenuhnya menjawab kebutuhan operasional maupun rentang harga yang diharapkan oleh pelaku usaha.

Ketiga, infrastruktur pengisian daya yang belum siap mendukung operasional kendaraan berat. Walaupun jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di seluruh Indonesia terus meningkat, sebagian besar belum memiliki spesifikasi ultra-fast charging yang dibutuhkan oleh kendaraan berat untuk menjaga efisiensi operasional armada.

Momentum dan Strategi Jangka Panjang

WRI Indonesia mengakui bahwa momentum percepatan mulai terlihat, antara lain lewat sejumlah perusahaan yang telah melakukan uji coba penggunaan truk listrik di berbagai sektor. Selain itu, ada pula inisiatif seperti National Green Corridor Initiative dan platform Truck Route Assessment & Charging Evaluation (TRACE) yang dikembangkan untuk membantu pemerintah dan pelaku industri mengidentifikasi koridor logistik prioritas serta kebutuhan infrastruktur pengisian daya secara lebih terarah.

Dwangga Nugraha, Sustainable Infrastructure Finance Specialist WRI Indonesia, menilai bahwa perusahaan yang telah mengadopsi truk listrik berhasil membangun proof of concept yang kuat. Hal ini didukung oleh komitmen dan executive buy-in dari top-level management. Menurutnya, transisi menuju kendaraan rendah emisi harus dimulai sebagai keputusan strategis di tingkat kepemimpinan perusahaan.

“Di tengah ketidakpastian geopolitik dan potensi gangguan rantai pasok energi, elektrifikasi armada perlu dipandang sebagai strategi mitigasi risiko sekaligus instrumen untuk melakukan hedging against energy supply risks, serta sebagai langkah untuk menangkap peluang pasar yang semakin memberikan preferensi pada produk dan layanan yang dihasilkan melalui rantai pasok rendah emisi,” papar Dwangga Nugraha.

Bagi pelaku usaha, adopsi truk listrik tidak semata-mata merupakan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan, tetapi juga strategi untuk memperkuat resiliensi operasional dan kinerja bisnis. Melalui IZEHDV Summit 2026, WRI Indonesia mendorong kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pembiayaan, dan penyedia teknologi untuk mempercepat pembentukan ekosistem kendaraan berat nol emisi di Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat mendukung target penurunan emisi nasional, serta memperkuat ketahanan sektor logistik Indonesia di masa depan.

Leave a Comment