Diplomasi Laut: Duta Besar Eropa Amati Konservasi di Minahasa Utara
Kabarberita911.com – Pekan lalu, sekelompok besar duta besar dari berbagai negara Eropa melakukan perjalanan menyusuri wilayah pesisir Likupang Timur di Minahasa Utara. Berbeda dengan agenda diplomatik konvensional yang biasanya digelar di dalam ruangan rapat, para perwakilan negara tersebut memilih untuk langsung terjun ke laut. Mereka berinteraksi dengan nelayan lokal, berenang menikmati keindahan bawah air, serta meninjau terumbu karang yang telah berhasil dilindungi.
Program Kerjasama Internasional yang Berjalan Sejak 2019
Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif bertajuk ‘Marine Biodiversity and Support of Coastal Fisheries in the Coral Triangle’. Program tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Kehutanan dengan Uni Eropa, yang didukung oleh Bank Pembangunan Jerman (KfW) serta Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia. Sejak tahun 2019, proyek ini telah beroperasi di wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
Rombongan yang dipimpin oleh Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia ini terdiri dari dua belas duta besar dan pejabat tinggi kedutaan. Negara-negara yang diwakili meliputi Belanda, Austria, Prancis, Spanyol, Bulgaria, Lithuania, Belgia, Portugal, Republik Ceko, Irlandia, Denmark, dan Finlandia.
Momen Langka di Luar Pulau Jawa
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, menyatakan bahwa kunjungan bersama para duta besar negara anggota Uni Eropa keluar dari Jakarta bahkan melampaui batas Pulau Jawa adalah hal yang jarang terjadi. Ia menjelaskan kepada CNN Indonesia pada hari Jumat (17/7) bahwa ini kemungkinan merupakan kunjungan pertama dalam waktu lama di mana tim dari negara-negara anggota Uni Eropa datang bersama ke satu lokasi di luar Jawa.
Dari pesisir Sulawesi Utara, para diplomat menyaksikan secara langsung bagaimana upaya konservasi laut berjalan beriringan dengan kegiatan masyarakat setempat. Para delegasi melakukan dialog dengan kelompok nelayan yang telah menerapkan sistem penangkapan ikan lebih berkelanjutan selama beberapa tahun terakhir. Setelah itu, mereka menyelam untuk mengamati kondisi terumbu karang secara langsung.
Dampak Ekonomi Nyata bagi Nelayan
Pengalaman lapangan ini menunjukkan hubungan yang selama ini sering dibahas dalam konsep ekonomi biru. Di lapangan, perlindungan ekosistem laut justru berjalan bersamaan dengan upaya menjaga sumber penghidupan masyarakat pesisir.
Burkhard Hinz, Country Director KfW Development Bank Indonesia, menyebutkan bahwa perubahan pola menangkap ikan telah menghasilkan dampak ekonomi yang nyata. Ia memberikan contoh seorang nelayan yang melaporkan pendapatannya meningkat hingga dua kali lipat setelah menerapkan metode penangkapan yang berbeda. Menurut Hinz, peningkatan tersebut bukan berasal dari bantuan dana, melainkan dari cara baru dalam mengelola sumber daya laut.
“Pendapatannya berlipat ganda hanya karena mengubah pola menangkap ikan, dan itu tidak butuh biaya sepeser pun,” ucap dia.
Data program menunjukkan hasil yang sejalan dengan cerita tersebut. Di Desa Gangga Dua, kesepakatan penutupan musiman perikanan membuat pendapatan nelayan meningkat dari sekitar Rp20 juta menjadi Rp48 juta setiap musim tangkap. Program yang berjalan sejak 2019 itu juga mencatat penguatan pengelolaan 21 kawasan konservasi perairan seluas lebih dari 1,6 juta hektare.
Keterlibatan Masyarakat sebagai Kunci Keberhasilan
Selain menjaga terumbu karang, mangrove, dan padang lamun, program tersebut mendorong berkembangnya ekowisata, usaha pengolahan hasil laut, serta penguatan kelompok masyarakat pesisir.
Bagi Jean-Marc Roda dari CIRAD Prancis, kekuatan utama program ini justru terletak pada keterlibatan masyarakat. Menurutnya, perubahan dimulai ketika warga dan nelayan berunding sendiri mengenai cara menjaga kawasan laut yang menjadi sumber penghidupan mereka.
“Mereka menjadi pengelola keanekaragaman hayati yang sesungguhnya. Dan keanekaragaman hayati itu memberi mereka imbalan kembali,” tegasnya.
Roda menambahkan, kekayaan itu bertahan karena nelayan setempat sejak beberapa tahun terakhir mulai membuat kesepakatan sendiri untuk menjaga wilayah pemijahan ikan tanpa menunggu perintah pemerintah. Ia menyebut fenomena ini sebagai ‘negosiasi otonom’ yang kemudian diperkuat oleh program internasional, dan bukan terbalik diciptakan oleh program untuk dipatuhi masyarakat.
Minahasa Utara: Titik Pertemuan Keanekaragaman Hayati Dunia
Roda pun menjelaskan mengapa Minahasa Utara dianggap istimewa secara ekologis. Ia menyebut kawasan ini sebagai titik pertemuan fauna dan flora dari Pasifik, Australia, dan Asia. “Kalau dilihat per kilometer persegi, di wilayah inilah tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, bisa lebih tinggi dari Kongo atau Amazon,” katanya.
Di sisi lain, kunjungan para duta besar memperlihatkan bentuk diplomasi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Alih-alih hanya membahas kerja sama di meja perundingan, mereka memilih melihat langsung bagaimana konservasi diterjemahkan menjadi aktivitas ekonomi sehari-hari.

