VIDEO: Awal Kemarau, Surabaya Mengalami Suhu Tinggi 36,4°C
VIDEO: Awal Kemarau – Suhu Panas Surabaya Tembus 36,4 Derajat Celcius – Kota Surabaya, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan karena suhu panas yang mencapai 36,4 derajat Celcius pada awal bulan Mei, yang menandai permulaan musim kemarau. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi iklim kota, tetapi juga berdampak pada aktivitas sehari-hari warga, terutama dalam hal kebutuhan air dan kesehatan. Video yang beredar menunjukkan kondisi panas ekstrem yang diakui oleh masyarakat setempat, dengan data cuaca yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Surabaya.
Pemicu Peningkatan Suhu di Surabaya
Menurut informasi dari BMKG, kenaikan suhu di Surabaya dipengaruhi oleh perubahan pola angin dan tekanan atmosfer yang terjadi selama transisi musim. Cuaca terik berkepanjangan juga disebabkan oleh pengaruh El Niño, yang mempercepat proses pemanasan global di daerah tersebut. Selain itu, minimnya hujan sejak awal tahun membuat lautan udara terbuka lebih cepat menyerap panas, sehingga memperparah kondisi. Video yang diunggah ke media sosial memperlihatkan warga mengenakan pakaian tipis dan menggunakan alat pendingin di luar rumah, menggambarkan tingkat kepanasan yang dialami.
Menurut laporan terbaru, suhu tinggi yang tercatat di Surabaya sejak akhir April hingga Mei menjadi indikator kuat bahwa musim kemarau telah tiba. Pada beberapa hari terakhir, suhu rata-rata mencapai di atas 35°C, dengan titik puncak hingga 36,4°C. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata musim kemarau sebelumnya, menunjukkan tren perubahan iklim yang semakin ekstrem. Para ahli meteorologi menyatakan bahwa fenomena ini dapat berdampak pada produksi pertanian dan distribusi air bersih, karena kebutuhan air meningkat tajam.
Imbas Pemanasan Terhadap Masyarakat
Kenaikan suhu panas di Surabaya tidak hanya mengganggu kenyamanan warga, tetapi juga berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan. Orang yang rentan terhadap panas, seperti anak-anak dan lansia, dianjurkan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama jam-jam terik. Selain itu, penyakit seperti demam dan dehidrasi menjadi lebih rentan terjadi, terutama di daerah-daerah yang tergolong rawan banjir saat musim hujan. Video yang diunggah menunjukkan beberapa warga berusaha mendinginkan diri dengan menggunakan selimut, minum air, dan menghindari paparan sinar matahari langsung.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Surabaya merupakan salah satu kota besar yang paling rentan mengalami kekeringan di Jawa Timur. Selama musim kemarau, ketersediaan air mengalami penurunan drastis, sehingga warga perlu mengambil langkah-langkah antisipatif untuk memenuhi kebutuhan harian. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memperingatkan bahwa kondisi ini bisa berlangsung hingga dua bulan ke depan, dengan risiko pemanasan terus meningkat jika tidak ada hujan yang signifikan.
Para ahli lingkungan menekankan bahwa perubahan iklim memengaruhi siklus alam secara signifikan. Menurut Dr. Dian Suryanto, peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), suhu yang tinggi selama beberapa bulan terakhir mencerminkan pergeseran pola iklim global yang berdampak lokal. “Ini bukan fenomena sementara, tetapi bisa menjadi indikasi awal dari pola cuaca yang lebih panas dan kering di masa depan,” katanya dalam wawancara terpisah. Video yang beredar di media sosial menjadi bukti nyata bagaimana warga Surabaya merasakan perubahan ini secara langsung.
Kota Surabaya juga mengalami peningkatan tingkat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau. Menurut laporan dari Pemkot Surabaya, jumlah kejadian karhutla meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penyebab utama dari aktivitas pertanian dan pengelolaan sampah yang tidak tepat. Video yang menunjukkan asap tebal di sekitar kota mengingatkan tentang pentingnya upaya pencegahan kebakaran di masa mendatang. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap memantau kondisi cuaca dan melakukan penghematan air guna menghadapi musim kemarau yang semakin panjang.
Dengan suhu 36,4°C, Surabaya kembali mengingatkan kita akan pentingnya adaptasi terhadap perubahan iklim. Video yang menayangkan cuaca panas ini menjadi peringatan bagi masyarakat luas, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Dalam video tersebut, terlihat beberapa warga sedang berlarian di alun-alun kota sambil menikmati sejuknya angin, sementara yang lain berusaha menyelamatkan tanaman dari kekeringan. Data dari BMKG juga menunjukkan bahwa kondisi ini akan berlanjut hingga akhir musim kemarau, sehingga warga harus bersiap menghadapi tantangan baru dalam sektor pertanian, kesehatan, dan ketersediaan air.
