Sutradara NAZA Warga Israel, Kenapa Berani Beber Genosida di Gaza?
Table of Contents
NAZA Mengungkap Jarak antara Keputusan Militer dan Korban di Gaza
Kabarberita911.com – Dokumenter NAZA mendapat sambutan luar biasa dalam Festival Film Venesia di Italia. Seusai penayangannya pada Kamis (10/9) waktu setempat, penonton memberikan tepuk tangan selama lebih dari 20 menit kepada karya Rachel Szor dan Yuval Abraham, dua sineas warga Israel.
Film produksi media Inggris The Guardian itu menyoroti cara petugas intelijen Israel memilih sasaran serangan di Gaza, termasuk keputusan yang berpotensi menewaskan warga sipil. Judul film mengambil istilah internal intelijen yang merujuk pada perkiraan jumlah warga sipil yang dapat terbunuh dalam sebuah serangan udara.
Dalam praktiknya, istilah tersebut diperlakukan sebagai ukuran “kerusakan tambahan” atau collateral damage. Namun, dokumenter itu mengingatkan bahwa angka dalam perhitungan tersebut merepresentasikan manusia: keluarga, anak-anak, dan warga yang berada di rumah atau kawasan padat penduduk.
Sistem target, AI, dan serangan jarak jauh
NAZA menggambarkan sistem operasi yang bekerja melalui banyak lapisan, sehingga orang yang mengambil bagian di dalamnya dapat merasa jauh dari akibat serangan. Sejumlah petugas bekerja dari Tel Aviv, sementara kecerdasan buatan digunakan untuk membantu menentukan target dan drone menjatuhkan bom dari kejauhan.
Film itu memperlihatkan bagaimana bahasa teknis dapat menyamarkan dampak nyata dari keputusan militer. Ketika korban sipil disebut sebagai “kerusakan tambahan”, penderitaan manusia berisiko berubah menjadi sekadar parameter dalam proses operasional.
“Pasukan Pertahanan Israel lebih suka menargetkan anggota Hamas di rumah mereka pada malam hari, dan jika mereka tinggal bersama keluarga mereka, atau di lingkungan yang padat penduduk. Itu nasib buruk. Pada suatu titik, sebuah sumber mengklaim, persetujuan diberikan untuk membunuh 500 NAZA untuk satu anggota Hamas.”
Beberapa personel yang muncul dalam film mengungkap cara mereka memahami posisi masing-masing dalam rantai tersebut. Ada yang menggambarkan pekerjaannya semata-mata sebagai urusan teknis, sementara yang lain merasa dirinya hanya bagian kecil dari mesin yang lebih besar.
“Peran saya bersifat teknis,” kata salah satu dari pasukan yang ditampilkan.
“Saya hanya roda gigi kecil,” kata yang lain.
Bagi Abraham, jarak fisik dari lokasi serangan memang dapat membuat tindakan kekerasan terasa lebih mudah dilakukan. Akan tetapi, ia menekankan bahwa petugas intelijen tetap memiliki informasi yang sangat rinci tentang keadaan di lapangan, termasuk penghuni rumah yang akan dibom.
“Tentu, memang lebih mudah membunuh orang ketika Anda melakukannya di layar,” kata Yuval Abraham.
“Saya rasa ada benarnya juga. Tetapi perlu juga dikatakan bahwa petugas intelijen lah yang paling tahu. Mereka mendengarkan percakapan telepon seluler. Mereka tahu rumah yang mereka bom penuh dengan anak-anak. Mereka bisa mendengar bayi menangis. Namun mereka tetap memerintahkan serangan lain.”
Risiko yang dihadapi Rachel Szor dan Yuval Abraham
Keputusan Szor dan Abraham membawa isu ini ke layar lebar bukan tanpa konsekuensi. Keduanya menghadapi tekanan dari lingkungan sendiri karena mengangkat kritik tajam terhadap tindakan pasukan Israel dan dampaknya bagi penduduk Gaza.
Szor, yang lebih jarang tampil di ruang publik, mengatakan bahwa perannya sebagai pemegang kamera membuatnya tidak terlalu dikenal. Ia justru merasa lega dengan kondisi tersebut. Namun, penolakan tetap datang dari sejumlah orang terdekat, termasuk anggota keluarganya.
“Tidak ada yang tahu siapa saya, dan saya sangat senang tentang itu. Tetapi beberapa anggota keluarga saya, dan beberapa orang yang dekat dengan saya, tidak menerima apa yang saya lakukan. Setelah Oscar (tahun lalu) mereka sangat malu, sangat marah. Tapi ini adalah harga kecil yang harus dibayar,” katanya.
Abraham menghadapi pengalaman yang lebih terbuka. Seusai pemutaran perdana No Other Land di Festival Film Berlin pada 2024, rumah keluarganya didatangi massa sayap kanan. Peristiwa itu ia sebut sebagai pengalaman paling buruk yang pernah dialaminya, terlebih karena kekhawatiran ibunya bahwa kejadian serupa dapat terulang.
“Bagi saya, itu adalah momen terburuk,” katanya. “Ibu saya berharap hal itu tidak terjadi lagi.”
Meski mengakui risiko pribadi tersebut, Abraham meminta agar situasinya tidak disamakan dengan kondisi warga Palestina. Ia menilai dirinya dan Szor tetap berada dalam sistem yang memberi mereka hak istimewa melalui supremasi Yahudi-Israel.
“Kita mengambil risiko dalam sistem yang memberi kita hak istimewa, yang memiliki supremasi Yahudi-Israel sebagai ciri dasarnya,” katanya.
Perbedaan risiko bagi warga Palestina
Pesan utama dokumenter ini tidak hanya berada pada keberanian pembuat filmnya, melainkan juga pada ketimpangan pengalaman antara warga Israel yang mengkritik pemerintahnya dan warga Palestina yang hidup di bawah serangan maupun pendudukan.
Abraham menegaskan bahwa ancaman terhadap dirinya tidak dapat dibandingkan dengan risiko yang dihadapi warga Palestina. Jika rumah keluarganya pernah menjadi sasaran massa sayap kanan, banyak keluarga Palestina menghadapi buldoser, senjata, dan serangan yang dapat menghancurkan tempat tinggal mereka.
“Bagi begitu banyak warga Palestina, bukan massa sayap kanan yang datang ke rumah mereka: melainkan buldoser dan senjata yang didanai AS. Bayangkan jika seorang jurnalis Palestina di Gaza mencoba melakukan apa yang kami lakukan dan menghubungi pejabat senior Israel. Tidak ada perbandingannya. Mereka kemungkinan besar akan dibunuh,” ujarnya.
Melalui kesaksian para petugas dan pandangan kedua sutradaranya, NAZA mengajak penonton melihat bagaimana keputusan perang dibuat, siapa yang memikul akibatnya, serta bagaimana istilah birokratis dapat menjauhkan pelaku dari kenyataan korban sipil. Sambutan panjang di Venesia menunjukkan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut tetap relevan dan mendesak untuk dibicarakan di panggung internasional.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Sutradara NAZA Warga Israel Kenapa Berani?
Sutradara NAZA Warga Israel Kenapa Berani is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Sutradara NAZA Warga Israel Kenapa Berani matter?
Sutradara NAZA Warga Israel Kenapa Berani matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
