Iran Setuju Pindahkan Uranium ke Negara Ketiga dalam Program Terbaru, Ada Syaratnya
Latest Program – Dalam upaya mengakhiri ketegangan yang berlangsung sejak Februari 2026, Iran telah menyatakan persetujuan untuk memindahkan sebagian uranium yang diperkaya ke negara ketiga sebagai bagian dari Latest Program negosiasi internasional. Sumber dari dalam pemerintah Iran mengungkapkan bahwa negara tersebut akan mengurangi jumlah uranium yang diperkaya dan mengirimkannya ke pihak ketiga, meskipun dengan syarat-syarat tertentu. Langkah ini diharapkan bisa menjadi titik balik dalam memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat.
Kondisi dan Persyaratan Transaksi Uranium
Sumber yang mengetahui detail transaksi tersebut menjelaskan bahwa Iran menetapkan jaminan kembalinya uranium jika negosiasi tidak mencapai kesepakatan. Selain itu, mereka menolak rencana pembongkaran fasilitas nuklir yang diusulkan oleh pihak AS. Dalam diskusi, Teheran juga menekankan pentingnya menjaga keamanan dan kestabilan kawasan Timur Tengah.
“Kami memutuskan untuk fokus mengakhiri perang, karena ini menjadi perhatian seluruh kawasan dan komunitas internasional,” ujar Esmail Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, seperti dilansir Tasnim News Agency. “Langkah ini adalah bagian dari Latest Program yang kami lakukan guna menyelesaikan konflik dengan negara-negara tetangga.”
Dalam kesepakatan ini, Iran menawarkan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh negara penerima uranium. Pertama, negara ketiga harus menjamin bahwa uranium tersebut tidak digunakan untuk tujuan senjata nuklir. Kedua, pihak Iran meminta kepastian bahwa transfer ini tidak akan mengganggu kepentingan mereka dalam menghadapi ancaman dari Israel dan AS. Ketiga, mereka juga ingin memperoleh dukungan dari organisasi internasional dalam mengawasi proses tersebut.
Konteks Negosiasi dan Proses Diplomasi
Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat telah memasuki fase kritis dalam Latest Program mereka. Diskusi yang berlangsung di Pakistan pada pertengahan April 2026 menghasilkan beberapa kesepakatan, meskipun masih ada perbedaan signifikan terkait program nuklir Iran. AS menawarkan izin pelayaran kapal di Selat Hormuz serta penghentian blokade terhadap kapal dan pelabuhan Iran dalam waktu satu bulan. Iran, sementara itu, meminta jaminan bahwa langkah ini tidak akan memengaruhi kekuatan militer mereka.
Dalam beberapa hari terakhir, Teheran terus berupaya mencapai kesepakatan permanen. Presiden AS Donald Trump, yang telah menjadi salah satu tokoh kunci dalam Latest Program, menekankan bahwa Washington siap meluncurkan strategi baru jika negosiasi gagal. Langkah ini diperkirakan akan memperkuat dominasi AS di kawasan Timur Tengah, yang terus memanas setelah serangan besar-besaran oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Salah satu elemen utama dalam Latest Program adalah penerimaan uranium oleh negara-negara ketiga. Iran menegaskan bahwa keputusan ini bukan hanya untuk memenuhi tekanan internasional, tetapi juga untuk melindungi kepentingan nasional mereka. Negara ketiga yang terpilih harus mampu memastikan bahwa uranium tersebut digunakan secara transparan dan tidak menimbulkan konflik baru.
Kepala negosiasi Iran, Esmail Baghaei, menekankan bahwa mereka siap berdiskusi lebih lanjut jika ada penawaran yang memenuhi syarat mereka. “Kami mengharapkan bahwa Latest Program ini bisa menjadi jalan untuk keberlanjutan hubungan bilateral, terutama dalam menjaga stabilitas kawasan,” tambah Baghaei dalam pernyataan terbaru. Langkah Iran ini dianggap sebagai respons terhadap tekanan dari PBB dan negara-negara Arab yang meminta penurunan kapasitas nuklir Teheran.