Sesar Flores Pernah Picu 5 Gempa Besar, Makan Korban Hingga Ribuan
Table of Contents
Sesar Naik Flores: Sejarah Lima Gempa Besar yang Menelan Ribuan Korban
Kabarberita911.com – Pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, wilayah Nusa Tenggara Timur diguncang gempa berkekuatan magnitudo 7,7. Aktivitas tektonik yang menjadi penyebab utama guncangan tersebut adalah Sesar Naik Flores. Patahan aktif ini terletak di dasar laut dan membentang mulai dari perairan utara Bali, melewati Nusa Tenggara, hingga mencapai perairan Wetar. Terbentuknya sesar ini disebabkan oleh tekanan tektonik yang ditimbulkan dari tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia.
Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), menjelaskan bahwa catatan sejarah gempa kuat dan tsunami di masa lalu membuktikan bahwa Sesar Naik Flores merupakan sumber gempa yang masih aktif. Menurut ahli tersebut, ancaman gempa dan tsunami dari sesar ini bersifat permanen. “Ke depan, potensi gempa di kawasan utara Bali hingga Nusa Tenggara yang bersumber dari Sesar Naik Flores tetap ada dan patut diwaspadai karena ini adalah ancaman gempa dan tsunami yang permanen,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Sabtu (15/8).
Lima Gempa Besar yang Terkait Sesar Naik Flores
Sesar naik busur belakang merupakan fenomena geologis yang sering kali ditemukan di belakang zona subduksi lempeng. Berikut merupakan lima peristiwa gempa kuat yang pernah berkaitan dengan aktivitas Sesar Naik Flores:
1. Gempa Bali-Lombok (22 November 1815) – Magnitudo 7,0 Gempa dengan kekuatan magnitudo 7,0 ini berhasil memicu gelombang tsunami yang melanda wilayah Bali bagian utara serta Lombok.
2. Gempa Bima (28 November 1836) – Magnitudo 7,5 Guncangan kuat berkekuatan magnitudo 7,5 terjadi di wilayah Bima pada tanggal tersebut.
3. Gempa Bali-Lombok (13 Mei 1857) – Magnitudo 7,0 Peristiwa serupa kembali terjadi pada tahun 1857, di mana gempa magnitudo 7,0 juga dilaporkan menyebabkan tsunami di Bali dan Lombok.
4. Gempa Seririt (14 Juli 1976) – Magnitudo 6,6 Gempa ini mengguncang kawasan Seririt, Bali, dan mengakibatkan kerusakan pada 67.419 rumah. Peristiwa tragis tersebut menewaskan sebanyak 559 jiwa di Bali.
5. Gempa Flores (12 Desember 1992) – Magnitudo 7,8 Salah satu gempa terbesar dalam catatan sejarah, gempa ini memicu tsunami dan menewaskan lebih dari 2.500 orang.
Riset Ilmiah dan Data Tektonik
Kehadiran Sesar Naik Flores telah lama menjadi fokus perhatian para ahli kebumian. Warren B Hamilton, seorang pakar geologi dan tektonik asal Amerika Serikat, tercatat sebagai salah satu peneliti awal yang mengkaji kondisi tektonik Laut Flores menggunakan data profil refleksi. Dalam bukunya yang berjudul Tectonics of the Indonesian Region dan terbit pada tahun 1979, Hamilton mengungkap keberadaan sesar di utara Sumbawa hingga Flores yang dikenal sebagai sesar busur belakang.
Penelitian lanjutan kemudian dilakukan oleh Eli A Silver dari University of California Santa Cruz melalui ekspedisi bahari untuk mendapatkan profil refleksi kawasan busur belakang Flores. Silver memperkirakan sistem sesar tersebut berlanjut hingga mencapai Cekungan Bali di Laut Bali. Riset yang dipublikasikan pada tahun 1986 dengan judul Multibeam Study of the Flores Back Arc Thrust Belt kemudian menggambarkan struktur kerak Bumi serta jalur Sesar Naik Flores di dasar laut.
Penelitian Robert McCaffrey dan John L Nabelek pada tahun 1987 terhadap sejumlah gempa signifikan di utara Bali juga menunjukkan keberadaan patahan naik dengan deformasi berarah utara-selatan. Studi gempa lokal dan mekanisme sumber yang dilakukan Masturyono pada tahun 1994 dan Daryono pada tahun 2000 kembali menunjukkan aktivitas gempa serta bidang sesar yang memiliki kemiripan dengan Sesar Naik Flores.
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017 yang diterbitkan oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN), sejumlah segmen Sesar Naik Flores memiliki laju pergeseran yang relatif aktif. Segmen Bali memiliki laju pergeseran 6,9 milimeter per tahun dengan magnitudo maksimum 7,4. Segmen Lombok-Sumbawa memiliki laju pergeseran 9,9 milimeter per tahun dengan magnitudo maksimum 8,0. Sementara Segmen Flores Barat dan Flores Tengah masing-masing memiliki laju pergeseran 11,6 milimeter per tahun dengan magnitudo maksimum 7,5. Segmen Flores Timur memiliki laju pergeseran 5,6 milimeter per tahun dengan magnitudo maksimum 7,5.
“Kapan akan terjadi gempa, kita belum mampu memprediksi, tetapi kita harus siap menghadapinya,” tegas Daryono.
Daryono menegaskan bahwa gempa tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi. Karena itu, mitigasi harus dilakukan secara berkelanjutan untuk menghadapi ancaman yang terus ada dari Sesar Naik Flores.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Sesar Flores Pernah Picu 5 Gempa?
Sesar Flores Pernah Picu 5 Gempa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Sesar Flores Pernah Picu 5 Gempa matter?
Sesar Flores Pernah Picu 5 Gempa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
