Gempa M7,8 di Selatan Filipina Dijelaskan sebagai ‘Megathrust yang Terlupakan’
Gempa M7 8 Filipina – Dalam peristiwa gempa M7,8 Filipina yang terjadi pada Senin (8/6), sejumlah pakar geofisika menggarisbawahi bahwa gempa tersebut tidak hanya sekadar kejadian lokal, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas tektonik yang lebih luas di wilayah timur Indonesia. Gempa berkekuatan 7,8 ini mengguncang selatan Filipina dan sebagian Sulawesi Utara, serta menjadi perhatian utama para ahli karena dilihat sebagai sinyal awal dari potensi gempa besar yang lebih besar. Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), mengungkapkan bahwa peristiwa ini seharusnya menjadi peringatan serius bagi seluruh wilayah Indonesia, terutama karena energi yang terakumulasi di bawah permukaan laut selama bertahun-tahun bisa melepaskan diri secara tiba-tiba.
Penyebab dan Mekanisme Gempa M7,8 Filipina
Gempa M7,8 Filipina terjadi akibat interaksi antara lempeng tektonik yang kompleks. Wilayah selatan Filipina dan Sulawesi Utara termasuk dalam sistem subduksi yang membentuk jalur tektonik kritis. Menurut Daryono, kejadian ini bukan terjadi secara spontan, melainkan hasil dari pelepasan energi yang telah terkumpul di zona subduksi selama puluhan tahun. “Gempa ini adalah peringatan bahwa sistem subduksi di daerah ini sedang mengumpulkan energi secara signifikan, dan bisa memicu kejadian besar jika tidak terus dipantau,” jelasnya dalam pernyataan Selasa (9/6).
Salah satu faktor utama yang menyebabkan gempa M7,8 Filipina adalah keberadaan Subduksi Lempeng Laut Filipina dan Subduksi Cotabato. Dua sistem ini saling berinteraksi, menciptakan deformasi kerak yang berpotensi menyebabkan pelepasan energi dalam skala besar. Daryono menyoroti bahwa kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya, seperti gempa besar di daerah lain, yang menunjukkan bahwa sistem ini bisa memicu berbagai jenis gempa, termasuk gempa dangkal yang merusak atau gempa dengan kedalaman dalam yang membahayakan wilayah pesisir.
Wilayah Maluku dan Risiko Gempa Besar
Dalam konteks gempa M7,8 Filipina, Daryono juga menegaskan bahwa Laut Maluku memiliki sistem subduksi ganda yang unik, sehingga menjadi daerah dengan risiko geodinamika tinggi. Lempeng Laut Maluku tersubduksi ke arah barat di bawah Busur Sangihe dan ke timur di bawah Busur Halmahera, menciptakan interaksi antarbusur (arc-arc collision) yang menyebabkan deformasi kerak ekstrem. Fenomena ini tidak hanya memicu gempa dengan kedalaman beragam, tetapi juga meningkatkan kemungkinan pelepasan energi secara simultan di beberapa zona sekaligus.
Daryono menyoroti bahwa daerah Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Filipina memiliki potensi magnitudo gempa hingga 8,2. Hal ini menjadikan kawasan tersebut sebagai “megathrust yang terlupakan” di timur Indonesia, karena belum mendapat perhatian sebanding dengan zona megathrust di Sumatra atau Jawa. “Gempa M7,8 Filipina adalah bagian dari pelepasan energi besar yang bisa terjadi di sini, dan kita perlu memahami mekanisme yang mendasari untuk mengantisipasi risiko yang lebih besar,” tambahnya.
Impact dan Potensi Tsunami
Gempa M7,8 Filipina berpotensi memicu gelombang laut yang signifikan, terutama jika terjadi di zona subduksi yang mendekati garis pantai. Daryono menekankan bahwa meskipun gempa ini belum menghasilkan tsunami besar, kejadian seperti ini bisa menjadi prekursor untuk peristiwa lebih besar. “Gempa M7,8 Filipina menunjukkan bahwa energi yang terkumpul di bawah laut bisa melepaskan diri kapan saja, dan kita perlu mengantisipasi berbagai skenario,” ujarnya.
Pakar juga mengingatkan bahwa wilayah selatan Filipina memiliki struktur geologis yang rentan. Subduksi Cotabato, misalnya, menunjukkan penunjaman sempit tetapi intens, yang bisa memicu pergeseran segmen patahan yang kuat. Selain itu, keberadaan lembah sesar di wilayah ini membuatnya lebih rentan terhadap gempa dangkal yang bisa mengganggu infrastruktur atau mengancam kehidupan masyarakat. Dengan peningkatan aktivitas tektonik, Daryono memprediksi bahwa potensi gempa besar di wilayah Maluku dan Filipina perlu lebih diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat.
Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa M7,8 Filipina termasuk dalam kategori gempa dangkal dengan kedalaman 30 kilometer. Meskipun tidak terlalu dalam, kekuatan gempa ini memicu getaran yang luas, terutama karena lokasi terletak di zona subduksi aktif. Daryono mengatakan bahwa gempa seperti ini seringkali menjadi tanda bahwa sistem subduksi sedang mengumpulkan energi untuk pelepasan besar yang bisa terjadi dalam beberapa tahun ke depan.
Dengan meningkatnya risiko gempa besar di wilayah timur Indonesia, Daryono menyarankan agar pemerintah dan masyarakat lebih waspada. “Gempa M7,8 Filipina adalah salah satu contoh dari sistem subduksi yang belum sepenuhnya dipahami, dan kita perlu meningkatkan sistem pemantauan serta kebijakan mitigasi bencana,” katanya. Dengan memperhatikan kejadian-kejadian sebelumnya, para ahli berharap masyarakat bisa lebih siap menghadapi potensi gempa yang lebih besar di masa depan.
