Pakar soal Lagu Little Bolu Ketan: Realita Penegas Bahlil Raja Olah
Solution For – Media sosial belakangan ini ramai dibanjiri konten viral berupa lagu berjudul ‘My Little Bolu Ketan’ yang diarahkan ke Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia. Lagu ini, yang menggabungkan nada santai dan unsur canda, menjadi bahan perbincangan publik yang memanas. Menanggapi fenomena tersebut, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai Bahlil dan Partai Golkar berhasil memanfaatkan lagu satire ini untuk mengubahnya menjadi isu positif. Menurutnya, hal ini memperkuat gambaran Bahlil sebagai tokoh politik yang mahir dalam mengolah berbagai polemik.
Bahlil: Simbol Politik yang Dipercaya Masyarakat
Adi Prayitno menjelaskan, munculnya lagu ‘My Little Bolu Ketan’ mungkin awalnya dimaksudkan sebagai sarana kritik melalui nuansa satire terhadap Bahlil. Namun, kenyataannya lagu ini justru disukai oleh banyak kalangan, termasuk generasi muda. “Dari percakapan di media sosial hari ini, terlihat lagu ini menjadi pembicaraan yang penuh humor dan menyenangkan,” ujar Adi, Jumat (29/5) seperti dikutip dari detik.com. Ia menambahkan, fenomena ini mengindikasikan bahwa publik mulai mengakui Bahlil sebagai figur politik yang mampu membangun aura positif. “Ini menunjukkan bahwa alam bawah sadar masyarakat terbuka terhadap pesona Bahlil, yang seolah dianggap sebagai komoditas yang relevan di ranah politik,” kata Adi.
Adi juga mengungkap, perubahan nuansa lagu dari kritik menjadi pujian tidak lepas dari strategi Partai Golkar dalam mengelola isu. “Golkar terus mengubah komentar negatif menjadi konten yang menguntungkan Bahlil,” ujarnya. Menurutnya, keberadaan Bahlil sebagai Menteri ESDM dan pemimpin partai besar memberikan peluang untuk menciptakan narasi yang lebih mendukung. “Selama ini Bahlil sering dikritik, tetapi seiring waktu, kritik itu bergeser menjadi pujian. Dukungan publik pun secara perlahan mengalir kepadanya,” jelas Adi. Ia menegaskan bahwa Bahlil tetap menjadi pusat perhatian dalam berbagai isu politik aktual.
Konten Viral dan Keterlibatan AI
Menurut informasi yang beredar, lagu ‘My Little Bolu Ketan’ dibuat berdasarkan akumulasi komentar netizen di berbagai platform online. Liriknya menggambarkan sisi-sisi kehidupan Bahlil dengan cara yang lucu dan menyentuh, mencerminkan kritik serta pujian yang terkandung dalam komentar publik. Video pendek atau rekaman lagu yang diunggah ke media sosial pun bervariasi, mulai dari versi yang mengusung alunan musik anak-anak hingga tema yang mirip dengan tayangan populer budaya pop televisi era 1990-an, Unplugged. Adi Prayitno menyebut, versi AI dari lagu ini menciptakan banyak reaksi, baik dari kalangan umum maupun kalangan politik.
Adi juga memperhatikan bahwa lagu ini memperlihatkan kemampuan Bahlil untuk memanfaatkan kekuatan media sosial sebagai alat komunikasi. “Bahlil tidak hanya mampu bertahan di tengah kritik, tetapi juga mampu membangun citra yang menarik melalui konversi isu negatif menjadi sesuatu yang viral,” katanya. Ia menambahkan, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa Bahlil memiliki kemampuan khusus dalam mengelola momentum politik. “Ini adalah contoh nyata bagaimana seorang tokoh bisa menjadi raja dalam olah isu, terutama di era digital saat ini,” ujar Adi.
Respon dari Sekjen Golkar
Menanggapi popularitas lagu tersebut, Sekjen Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, mengatakan partai tidak merasa terganggu. Ia menyatakan bahwa Golkar malah menyambut baik kehadiran lagu ini sebagai bentuk keakraban dengan masyarakat. “Lagu itu cukup ‘cute’ dan menyenangkan. Bagi kami, jika rakyat senang, Golkar pun senang,” ucap Sarmuji, Rabu (27/5) saat diwawancarai wartawan. Sarmuji juga menekankan bahwa lagu ini tidak hanya menargetkan Bahlil secara pribadi, tetapi juga menjadi cerminan kemampuan partai dalam membangun hubungan dengan publik. “Kritik dan pujian selalu ada, tetapi jika bisa diolah menjadi sesuatu yang menghibur, maka itu bagus,” katanya.
Dalam wawancara tersebut, Sarmuji mengungkapkan bahwa Golkar percaya lagu-lagu viral seperti ini bisa menjadi sarana untuk memperkuat citra kependudukan. “Selama ini Bahlil kerap menjadi bahan olok-olok, tapi sekarang ia menjadi bahan pembicaraan yang mengundang senyuman. Itu yang penting,” imbuh Sarmuji. Ia juga menyoroti peran teknologi AI dalam memperluas penyebaran lagu tersebut, dengan berbagai versi yang diadaptasi untuk menjangkau kalangan berbeda. “AI membantu membuat lagu ini lebih fleksibel, sehingga bisa diterima oleh berbagai kelompok,” kata Sarmuji.
Strategi Olah Isu dalam Politik Praktis
Adi Prayitno menilai bahwa Bahlil memiliki reputasi sebagai ‘raja olah-olah’ dalam dunia politik, yang selalu mampu merubah keadaan dengan cepat. “Pengalaman Bahlil di ranah politik mengajarkan cara membangun hubungan dengan publik, bahkan dalam situasi yang dianggap negatif,” jelasnya. Menurut Adi, kemampuan ini terbukti ketika kritik yang awalnya tajam bergeser menjadi komentar yang lebih santai. “Masyarakat semakin terbiasa dengan sisi humanis Bahlil, sehingga kritik yang sebelumnya terasa menghina kini justru dianggap sebagai bagian dari suara publik yang menyemangati,” katanya.
Kehadiran lagu ini juga dianggap sebagai bentuk penguatan kekuatan relasi Golkar dengan masyarakat. “Ini bukti bahwa Golkar berhasil merangkul berbagai isu, baik positif maupun negatif, menjadi alat penguasaan citra,” ujar Adi. Ia menambahkan, meski ada kritik, Bahlil tetap menjadi tokoh yang terus berkembang. “Kehadiran lagu ini memperlihatkan betapa Bahlil mampu memanfaatkan ruang publik untuk menggambarkan dirinya dengan cara yang unik,” kata Adi.
Dalam pandangan Adi, popularitas Bahlil bukanlah akibat keberhasilan politik yang sempurna, tetapi juga karena kemampuan mengubah narasi. “Bahlil tidak hanya menjadi target olok-olok, tetapi juga menjadi simbol kekuatan dalam permainan politik,” katanya. I
