Berita Peristiwa

Historic Moment: Melihat Tradisi Kumpul ‘Salawate’ Iduladha di Negeri Sepa Maluku

Melihat Tradisi ‘Salawate’ Iduladha di Negeri Sepa Maluku: Historic Moment

Historic Moment – Sebuah Historic Moment terjadi di Masjid Raya Negeri Sepa, Kecamatan Amahai, Kabupaten Maluku Tengah, pada hari Rabu, 27 Mei. Acara pengumpulan dana lewat tradisi khas ‘Salawate’ menjadi momen penting sebelum Salat Iduladha 1447 H dilaksanakan. Di sini, tradisi yang menggabungkan keagamaan dan kebudayaan dijalankan dengan penuh kekompakan oleh masyarakat setempat. Proses pengumpulan dana dimulai dengan barisan jemaah yang saling bergantian memberikan sumbangan sukarela, diiringi oleh dua orang muazin dan seorang marbot yang bertugas menyalurkan dana ke pihak penghulu masjid dan imam.

Simbol Kekeluargaan dalam Ritual Tradisional

Ritual ‘Salawate’ di Negeri Sepa menunjukkan bagaimana kebersamaan masyarakat berbaur dengan tradisi yang telah dipertahankan selama berabad-abad. Khatib dan imam yang memimpin acara tak hanya mengimami salat, tetapi juga menjadi penengah antara jemaah dan pihak penghulu. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bentuk penghormatan terhadap leluhur yang meninggalkan warisan budaya unik. Proses pengumpulan dana berlangsung secara teratur, dengan jemaah yang saling memastikan setiap orang berkontribusi sesuai kemampuan. “Setiap sen seni yang diberikan adalah bentuk keikhlasan yang menjadi cerminan kepedulian kita,” kata Said Ahmad Bubakar, imam masjid setempat, saat menjelaskan makna Historic Moment tersebut.

Keterlibatan Komunitas dalam Pengajian Tradisional

Tradisi ‘Salawate’ juga mencakup bagian pengajian yang berlangsung setelah salat. Pemuka adat dan agama turut serta dalam memandu kegiatan ini, memastikan nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan tetap dijaga. Jafar Wasolo, muazin masjid tertua di Negeri Sepa, mengatakan bahwa pengambilan tongkat khotbah dengan suara menggema merupakan momen yang penuh makna. Tongkat tersebut, yang dibungkus kain putih, dipersembahkan kepada khatib setelah diumandangkan salawat secara bersamaan. “Ini adalah bagian dari ritual Historic Moment yang mencerminkan keakraban antara masyarakat dan leluhur mereka,” tambahnya.

“Iduladha 1447 H adalah momentum untuk mengintrospeksi diri menuju kemenangan,” imbuh Kiai Haji Ali Mahfudz, khatib yang memberikan pengajian. Ia juga menekankan bahwa acara ini memperkuat ikatan kekeluargaan, terutama antar generasi. Pesan-pesan yang disampaikan selama khotbah terasa lebih hidup karena diiringi oleh pengalaman pribadi para pemimpin ibadah, yang telah terlibat dalam tradisi ini sejak kecil.

Pelaksanaan Ritual yang Sederhana Namun Progresif

Proses pengumpulan dana ‘Salawate’ di Negeri Sepa menggabungkan sederhana dan progresif. Jemaah yang berkumpul tidak hanya memberikan sumbangan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan muazin dan marbot, menciptakan suasana hangat. Selain itu, tradisi ini memberikan ruang bagi anak-anak muda untuk belajar mengenai sejarah dan makna Iduladha. “Anak-anak sekarang lebih memahami bahwa ini bukan hanya salat, tetapi juga bagian dari kehidupan beragama yang dinamis,” jelas salah seorang warga, sambil menunjukkan bagaimana tradisi diadaptasi sesuai kebutuhan masa kini.

Nilai Sejarah yang Tidak Tergantikan

Historic Moment ini juga menjadi pengingat bahwa Iduladha bukan sekadar hari raya biasa, tetapi memiliki makna sejarah yang mendalam. Tradisi ‘Salawate’ yang telah berlangsung hingga kini menunjukkan betapa pentingnya warisan budaya dalam menjaga keharmonisan masyarakat. Selain itu, ritual ini mencerminkan semangat gotong royong, di mana setiap individu berperan aktif dalam kegiatan bersama. “Momen ini mengajarkan kita untuk selalu menghargai keberagaman dan persatuan,” kata Kiai Haji Ali Mahfudz, yang menekankan bahwa Historik Moment seperti ini harus terus dilestarikan.

Usai Salat Id, warga Negeri Sepa melanjutkan kegiatan dengan berjabat tangan dan saling berpelukan, menciptakan suasana hangat yang menggambarkan tali silaturahmi. Momen ini diakhiri dengan pelukan dan air mata, memperkuat rasa kehangatan yang timbul dari persatuan masyarakat. Selanjutnya, mereka menutup perayaan dengan menggelar tahlil dan mendoakan orang tua yang telah wafat, sebagai bentuk penghargaan atas peran mereka dalam menjaga tradisi.

Leave a Comment